Sabtu, 09 Mei 2015

Really?

"Apa kami bisa dapat roti dengan ini?" Sam menunjukkan koin-koin emasnya.
"Ya, mungkin 7 tapi akan kutambahkan beberapa. Aku tak pernah melihat kalian, kalian darimana?" tanya pedagang itu.
"Kami pengembara. Kami datang dari bangsa yang berbeda." sahut Sam sambil memasukkan roti ke dalam tasnya. Pedagang roti itu pun hanya mengerutkan dahinya melihat kami.
"Uhm... Terimakasih, pak." Kata Sam menyudahi.
"Kau takkan makan Matt?" tanyaku memecah lamunannya.
"Uh... Ya... Tentu, aku akan makan." kata Matt kaget.
"Dia sedang terkena flashback syndrome." kata Sam memasukkan roti ke mulutnya.
"Aku ingin berjalan-jalan." Kata Matt mengambil satu roti dan berdiri.
"Aku ikut." Kataku membuat Matt membalikkan badannya.
"Kenapa? Kau takut pada dwarf itu, Gwen?" Tanya Matt mengejek.
"Ah iya, aku takut sekali pada dwarf yang berani menculikku namun lemah tak berdaya saat luka sayatan pedangnya semakin parah." Aku tersenyum pada Sam yang masih sibuk dengan roti besarnya itu.
"Ya ya, aku akan membalaskan budimu yang baik itu, nanti." Kata Sam.
Negeri manusia. Negeri yang damai. Disini mereka bebas melakukan sesuatu tanpa harus mengkhawatirkan aturan yang mencekik kami kalau kau punya kekuatan sihir. Dan tak perlu mengkhawatirkan serangan dari bangsa lain karena orang-orang yang pandai berbicara disini telah mengadakan perjanjian dengan bangsa lain untuk memberikan perlindungan. Meskipun dengan cara yang licik. Tapi mereka benar-benar pintar. Aku mengitari jalan berbatu yang disusun rapi dengan hiasan lampu jalan berwarna hitam dan rumah-rumah penduduk yang mulai sibuk pada saat pagi hari. Perasaan iriku muncul lagi. Hidup normal dengan sebuah keluarga kecil menjadi impianku sejak kecil. Daripada hidup yang mengharuskanku mengabdi pada Leace.
Aku tersenyum melihat anak-anak yang berlarian karna hampir ketinggalan bus. Aku pun mencoba berteriak pada supir bus agar menunggu mereka. Dan satu anak perempuan yang membawa bunga matahari menghampiriku.
"Ini tugas biologiku, tapi aku masih punya satu di tas. Ini untukmu, terimakasih. Dah." Ia berlalu dengan bunga matahari di tanganku. Aku tersenyum melihat bunga matahari ini tanpa sadar Matt sedang berusaha agar air matanya tak keluar lagi.
"Ya, aku takkan bilang pada Sam." Kataku pada Matt sambil membelai kelopak bunga matahariku.
Ia menarikku ke jalan buntu di sela-sela rumah penduduk dan sebuah toko bunga dan memelukku.
"Mengapa kau membawa kami kesini, Gwen?"
"Kau tak tau betapa sakitnya ini?"
"Sembunyikan tangisanku."
"Kau benar-benar jahat."
"Aku tak tau harus apa disini."
"Mengapa kau melakukannya?"
Pertanyaan itu mengalir seiring mata Matt mengalirkan air matanya.
"Ugh. Kau membuat bungaku rusak." Kataku.
Ia melepaskan pelukannya dan melihat ke arah bungaku sambil menghapus air matanya. Matt menarikku ke arah toko bunga.
"Kau tak perlu menggantikannya. Tak apa..."
Matt membeli beberapa tangkai mawar putih yang sudah dihilangkan durinya. Dan menarikku kembali.
"Um... aku tak suka bunga itu."
Ia tetap menarik tanganku dan berjalan cepat.

Kami ada di sebuah sungai sekarang. Suara air saling bertabrakkan menghiasi telinga kami. Angin berhembus di celah-celah daun dan membuat dahannya mengikuti arah angin. Matt berteriak dalam tangisannya.
Aku membiarkan ia berteriak sambil memeluk diriku sendiri karna disini dingin.
Matt membuang bunganya ke sungai.
Aku mendengar suara bisikan perempuan searah dengan arah daun menunjuk.

I keep going to the river to pray
cause I need something that can wash all pain

Aku makin mempererat pelukanku. Matt semakin keras berteriak.

And the most I'm sleeping of these demons away
but your ghost, the ghost of you will kiss me away

"Kenapa? Kau merasakannya?" Matt berteriak marah padaku.
Aku terdiam.
"Kau sendiri yang membawanya, Gwen."

"Kita harus pergi." Sam muncul dan menyelimutiku dengan jaket tebalnya.
Matt mengikuti dari belakang. Langkah kaki dan kepalan tangannya menggangguku. Tapi sepertinya ia sedang merindukan seseorang dan hanya melampiaskan padaku. Takkan lebih dari itu.
"Ini tak ada hubungannya denganmu, Gwen. Tenang." Bisik Sam.
"Ceritakan padaku tentang hantu itu." Bisikku pada Sam, aku tak mau Matt mendengarnya.
"Itu rumit. Aku janji kau akan mengetahuinya nanti." Kata Sam.
"Maafkan aku, Gwen." Bisik Sam lagi.
"Aku tak apa."
"Aku benar-benar minta maaf, Gwen." Sam berbisik.
"Matt dengar, aku menemukan sebuah rumah untuk tinggal. Dan ini jauh dari tempat itu. Jadi tenanglah. Aku juga membeli beberapa baju untuk kita."

Sam tertidur di sofa. Kurasa aku perlu mandi dan melepas gaun bodoh ini. Matt yang baru keluar dari kamar mandi, dia tersenyum dan mempersilahkanku untuk masuk. Ia bahkan mengingatkanku bahwa airnya sedikit dingin. Ia benar-benar depresi tadi. Untung saja, Sam memilih baju yang bodoh lagi. Aku memakai jins abu dengan flannel yang sebenarnya terlalu besar untukku. Pakaian manusia ugh.
Aku duduk di sofa berkursi tunggal di depan Sam. Mencoba memeluk lututku dan menghilangkan bisikan tentang demons dan ghost tadi. Kata-kata itu terus ada dalam telingaku. Matt ada di luar, tapi aku tak ada niatan sama sekali untuk menanyakan apa yang terjadi tadi. Tapi suara gertakan tangan menarik sofa yang muncul dari sofa Sam mengagetkanku. Ia baru saja bangun dari mimpi buruk pasti.

"Hei, mimpi buruk?" Tanyaku pada Sam.
"Lebih dari itu, kita harus pergi. Aku tau rumah Daisy. Kita tak punya banyak waktu. Dimana Matt?" Tanya Sam.
"Ada apa?" Tanya Matt.
Aku tak tau apa yang disiapkan Sam dan Matt tapi kami langsung berlari secepat yang kami bisa. Sam berhenti di sebuah rumah kayu dan mendobraknya. Suara tembakkan terdengar dan peluru yang melesat dari sudut mata kananku menembus kepala wanita bergaun putih itu. Badannya terjatuh di atas tuts piano putih di hadapannya. Darah mengalir dari mulutnya tanda bahwa bagian dada dan perutnya ditendang keras. Matt langsung mencari seseorang di bagian rumah asal peluru itu, namun ia tak menemukannya.
Kita terlambat.
Anak perempuan yang memberikan bunga matahari padaku lari ke dalam rumah lalu mengambil pistol yang tergeletak. Dan tatapan itu, suara itu.... "Kau menanggung akibatnya." Ia
berbicara. Itu bukan suaranya. Itu bukan tatapannya.
Ia menembak dirinya sendiri dan tubuh kecilnya ambruk meneteskan air mata.
Aku tak bisa menutup mulutku sendiri dan air mataku sudah tak terbendung lagi.
Aku mengenal suara dan tatapan itu.

Matt langsung mengangkat tubuhku yang ikut ambruk saat anak itu menembak dirinya sendiri. Ia membawaku keluar. Sam membawa satu peluru dari pistol anak itu dan memasukkannya ke dalam secerca kain sambil mengikuti kami ke luar.
"Tapi kenapa?" Aku menangis pada Matt.
"Kita gagal, Gwen." Jawab Sam yang takkan pernah bisa menjelaskan apapun.
Matt mengepalkan tangannya. Berusaha tak marah.
Dan para demons menghampiri kami dengan bisikan menyakitkannya lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar