Sabtu, 28 Juli 2012

Antagonist

Sekedar pembukaan._. Setelah lama gua gak post cerpen karna sibuk di sekolah._. Ini dia hasil 'sempet-sempetan' gua di SMKN 7

DIARY       JANE     TURNER   

Kamis malam, 11 Februari 1995

   Aku masih heran. Bagaimana suara itu bisa ada? Aneh. Malam ini aku berniat menjaili saudara tiriku, Wendy. Jelas. Di cerita ini aku berperan menjadi peran antagonist. Si penulis mungkin bosan dengan tokoh protagonist yang selalu menjadi tokoh utama. Kini saatnya tokoh antagonist menceritakan kisahnya.

   Namaku Jane. Kehidupanku… ya dipenuhi dengan kejahatan. Mungkin jalan hidupku lebih mirip cerita Cinderella. Wendy adalah Cinderellanya dan aku adalah saudara tirinya. Mamaku menikah dengan Ayah Wendy setelah mama Wendy meninggal karna diracuni mamaku. Hanya bedanya aku tak punya saudara kembar seperti di cerita Cinderella itu. Mungkin kejahatan paling besarku adalah membunuh mama Wendy. Itu terjadi ketika aku berumur 9 tahun. Secara tidak langsung aku terlibat dalam pembunuhan itu. Bisa dibilang aku adalah otak dari rencana itu. Aku yang memberi ide pada mama untuk meracuni mama Wendy. Sekarang umurku 14 tahun. Tepat 4 hari lagi aku berulang tahun ke-15. Tepat juga si Wendy yang aku benci itu juga berulang tahun ke-15. Seperti anak kembar, ulangtahun kami selalu dirayakan bersamaan oleh Ayah. Aku selalu mengacaukan pesta ulangtahunku sendiri karena aku selalu iri pada Wendy. Ya. Ia selalu mendapat yang ia inginkan dari Ayah, Mama, dan teman-temannya. Sedangkan aku? Bahkan mama kandungku sendiri kadang lebih memihak pada Wendy. Lalu aku? Padahal aku yang membuat hidupnya seperti ini. Bergelimang harta. Aku yang mencari racun tikus untuk dimasukkan di bubur mama Wendy. Beginilah resiko menjadi peran antagonist. Jauh di lubuk hatiku aku tak ingin menjadi peran antagonis. Tapi apa boleh buat.

   Malam ini aku akan menyelinap ke kamar Wendy untuk menukar cream wajahnya dengan poison. Tujuannya? Untuk apa lagi selain membuat wajahnya rusak di pesta ulangtahun nanti. Setidaknya wajahnya sedikit kemerah-merahan di pesta. Seperti inilah aku, selalu tak puas jika korbanku tak menahan malu. Kamar Wendy ada di seberang taman tengah. Yap, kamarnya sedikit spesial. Luas, indah dan asri karna dekat taman. Aku selalu menginginkan kamar itu. Tapi apa boleh buat, pasti tak boleh meski mama merayu ayah. Setengah perjalanan menuju kamar Wendy, aku mendengar suara. Lebih tepat suara anak lelaki menyenandungkan sebuah lagu. Terdengar samar-samar. Hanya terdengar seperti gumaman saja. Tapi siapa? Tak ada anak lelaki di rumah ini. Lagipula siapa yang mau menyanyi. Sekarang kan jam 12 malam. Aneh.

   Masuk ke kamar Wendy yang luas, aku langsung melancarkan aksiku. Aku menukar cream wajahnya dengan poison milikku. Aku sedikit tertawa kecil disana. Merayakan kepuasanku aku segera berlari ke luar kamar Wendy. Dan…. Gubraaaakk! Aduh! Semua lampu di rumah menyala seakan terkaget dari suara lantai yang tertimpa badanku. Padahal sudah hampir keluar pintu kamar Wendy, mengapa aku harus jatuh. Sial! Beberapa detik kemudian, terdengar suara ayah berteriak,

“Siapa itu? Maling ya?!” kata ayah dengan tongkat golfnya menuju ke kamar Wendy diikuti mama.
Lampu kamar Wendy tiba-tiba menyala,
“Siapa itu? Jane? Kau kah?” tanya gadis yang suaranya paling kubenci.
“Jane? Kenapa kau ini?” tanya mama yang menemukanku terjatuh di lantai dekat pintu kamar Wendy.

Mampus! Aku harus jawab apa? Hmm… harusnya ide langsung muncul ke otak jahatku. Mengapa ini belum muncul?! Dengan tergesa-gesa aku bangkit dari lantai.
   “Hhh… syukurlah itu hanya Jane yang terjatuh. Ayah kira ada orang jahat yang mau menculik Wendy,”

Lagi-lagi ayah membela Wendy-___-

“Ada apa Jane?” tanya Wendy dengan lembut.
“Eh… a.. aku ha-nyaa…” jawabku terbata-bata.
“Itu apa di tanganmu? Itu kan cream wajahku.”
“Oiya, aku ke kamarmu karna ingin meminta cream wajahmu sedikit. Punyaku habis. Bolehkah aku ambil? Kau kan masih ada,” kataku seolah-olah hanya itulah alasan yang masuk akal.
“Tapi bukankah creamku tidak cocok dengan kulit mukamu,” kata Wendy yang langsung membuatku ‘skakmat’.
“Hmm… sepertinya aku mulai cocok dengan creammu. Bolehkah? Kan punyamu masih banyak,”
“Oh silahkan saja, aku tak keberatan,”
Kata-kata itu sedikit risih kudengar, kata itu yang sering diucapkan peran protagonist.
“Baiklah, ayo tidur kembali. Besok ayah harus ke Balai kota,” ajak Ayah karna jarum jam sudah menunjuk ke arah 12 lebih.
“Selamat malam, ayah, mama,” ucap anak licik itu (Wendy).

Hhhhhh… aku menghela nafas sejenak sambil menuju kamarku. Aku duduk di kasurku sambil membayangkan muka Wendy kemerah-merahan 3 hari lagi karna cream itu. Yihaaa!


Jum’at, 12 Februari 1995

   Seperti biasa, pagi hari aku langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Sepertinya sangat segar menuju ulangtahunku. Tidak seperti biasanya, belakangan ini aku sering mendengar suara cekikikan anak lelaki dari arah taman. Aneh. Tapi aku tak menghiraukannya. Bodoh amat. Tapi… jangan-jangan itu teman Wendy. Tapi siapa? Sahabatnya yang sering ke sini hanya si kutu buku Elma. Sesudah mandi, akupun mengoleskan cream wajah Wendy (tentunya yang kemarin aku ambil). Memang cream itu sudah mulai cocok dengan mukaku. 

   Aku datang ke ruang makan untuk sarapan. Hari ini libuuurrrrr! Hari ini aku akan ke salon untuk perawatan. Menuju ke ruang makan, aku masih mendengar cekikikan itu. Siapa sih? Mukaku sedikit gatal. Aneh. Padahal tidak seperti biasanya. Aku duduk di depan mama dan mengambil roti bakarku. Tapi Ayah, mama dan Wendy menatap aneh ke mukaku.

“Tuh kan, Jane. Kau tak cocok dengan creamku,” kata Wendy sambil memandang aneh pada mukaku.
“Hah? Aku tak mengerti,” tanyaku heran.
“Jane, mukamu kenapa? Kenapa merah-merah begitu?” tanya mama.
“APAAAA?! Merah? Ba… bagaimana bisa?!” tanyaku kaget.

Spontan aku langsung lari ke kamarku dan berteriak sekeras-kerasnya!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!

Bagaimana bisa? Apa aku salah menukarnya? Aku rasa aku tak salah. Aku pandang cream wajah itu, di sana ada tulisan ‘poison’ yang menjadi tanda cream yang aku tukar. Hah?! Bagaimana bisa? Aku yakin aku benar-benar menukarnya. Aku tak habis pikir. Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi,

“Jelas saja mukamu merah, aku yang menukarnya saat kau jatuh hahahaha….” Tawa itu terdengar lagi.
“Siapa itu? hey kau pengecut! Tampakkan dirimu. Jangan hanya menertawaiku dari belakang!” teriakku.
“Apa kau yakin ingin melihatku?”
“Memang tampangmu seperti apa? Aku tak takut apapun!” teriakku kesal.
Suara itu hilang. Kurang ajar! Jadi dia yang membuat mukaku kemerah-merahan?! Siapa sih? Apa benar ia teman Wendy! Dasar anak licik! Awas, akan kubalas kau. Aku tunggu ayah pergi ke Balai Kota dan…… tentu saja membalaskan dendamku pada Wendy dan teman misteriusnya itu.

“Dadah ayah, hati-hati di jalaaaaaan.” Teriak Wendy.
“Terimakasih sayang. Oya, Jane apa kau baik-baik saja? Apa perlu ayah membelikan obat untuk mukamu di kota nanti?” tanya ayah padaku.
“Hmm… tak usah, yah. Paling ini cuma alergi biasa.” Kataku sok baik pada ayah.
“Yasudah, ayah pergi dulu.” Kata ayah sambil menaiki mobil kodoknya.
Yes! Sekarang saatnya, aku tersenyum sinis pada Wendy. Aku menarik tangannya ke taman. Karna hal ini, aku tak jadi ikut mama ke salon. Di rumah, hanya ada aku, Wendy dan mungkin anak itu.

“Wendy! Mukaku kenapa?! Pasti kau yang membuatku begini!” bentakku dengan nada tuduhan.
“Mana kutahu, Jane. Kau sendiri yang meminta creamku.” Katanya sok tak tau apapun.
“Apa kau tak punya teman lain untuk menjailiku?” tanyaku menyelidik.
“Hmm… ti… ti..dak,” katanya sambil terbata.
“Lantas siapa yang membuat mukaku begini?! Bagaimana aku bisa percaya diri di pesta nanti?”
“Aku yang menjailimu, memangnya kenapa? Aku hanya membantu Wendy!” kata seorang lelaki, mungkin seumuranku yang tiba-tiba muncul dari kamar Wendy.
“Jeremy?! Sssstt…” bisik Wendy.
“Tenanglah, aku hanya ingin membereskannya,” bisik lelaki itu.
“Oh! Jadi ini yang selama ini kudengar. Siapa kau?! Teman Wendy? Darimana kau masuk?!”
“Kau tak perlu tau siapa aku. Aku kesini hanya ingin membuatmu sadar! Kau tak perlu menjadi jahat pada Wendy, jika kau ingin mendapat segalanya,” elas lelaki aneh itu. jelas aneh, ia memakai baju yang aneh. Kemeja putih dengan jasnya, celana ¾ dengan kaus kaki putih dan sepatu uniknya tak lupa topi gila yang dipakainya. Aku mengamatinya secara detail, aku yakin ia bukan orang biasa.
“Tau apa kau tentang aku?! Kau tak tau Wendy telah merebut segalanya dariku, kadang aku bingung apa aku si peran antagonist atau dia?!” bentakku.
“Hmm… orang yang menarik,” katanya sambil pergi.
Orang gila.
“Siapa itu Wendy? Kau tak memberitahuku kau membawa orang aneh. Dan ingat! Aku pasti membalaskan dendamku!” kataku sambil tak lepas memandang Wendy yang berlari mengejar anak aneh itu.
Siang ini terasa aneh. Siapa dia?

Malam hariku,
Malam ini aku harus menyelidiki semua. Se-mu-a! Aku mengendap-endap menuju ke kamar Wendy. Seperti biasa, menunggu Ayah dan Mama tidur. Sudah kuduga, anak aneh bernama ‘Jeremy’ itu sedang mengobrol dengan Wendy anak gila itu. Aku tak mendengar jelas kata-kata yang mereka obrolkan. Terakhir aku mendengar lelaki itu berkata,
“Ayo, Wendy! Ayo ikut aku! Aku akan mengajakmu ke negri yang tak pernah kau duga!”
Spontan aku pun penasaran, kira-kira anak itu berasal dari mana?
Mereka menembus tembok, hah?! Tembok?! Aku berlari menuju tembok itu dan…… cling! Aku ada dimana?! Aku tak tau aku dimana, yang jelas aku menutup mataku dan terjatuh di sana *pingsan*.



Sabtu, 13 Februari 1995 (aku tak tau di sini tanggal berapa, aku dimana?!)

    Pagi ini sangat cerah, ceraaaaaah sekali. Indah. Pagi ini indah. Ini tak seperti biasanya. Aku terbaring di sebuah ranjang aneh dan kuno berselimut biru langit.
“Oke, Jane Turner saatnya bangun dari ranjangmu. Ayo, kau harus ke sekolah,” perintah seorang bibi tak terlalu tua sambil memasang celemeknya.
“A… a…ku dimana?” tanyaku pada bibi itu. Aku bingung, mengapa ia tau jelas namaku, padahal aku sama sekali tak mengenalnya.
“Kau pura-pura tak tau, apa kau berniat menjaili aku lagi dengan bualanmu itu?! tak mempan! Ayo cepat bangun!”
“Ta… tapi aku benar-benar……”
“Sudahlah, cepat mandi!”
Tapi aku benar-benar tak tau aku dimana dan siapa kau-_-

Aku beranjak dari tempat tidur ini, aku melangkahkan kakiku dengan mencari-cari di mana kamar mandinya.
“Kau ini bagaimana?! Kau seperti orang linglung, ayo cepaaaaat mandiii!!!!” kata bibi itu sambil mendorongku kea rah sebuah ruangan.
“I…. iya, tapi……….”

BLAAAAAK! Suara pintu kamar mandi. Jadi? Aku ini siapa disini? Kenapa dari tembok ada tempat lain? Oh, jadi seperti ini dunia aneh yang suka dikunjungi para peran protagonist. Tapi Wendy kemana? Awas saja kalau aku bertemu dia. Grr…
“Jadi bibi, sebenarnya aku dimana?” tanyaku dengan ketus pada bibi aneh itu.
“Hey, mengapa kau bertanya seperti itu, Jane?” tanya balik bibi itu.
“Bibi, aku kesini menembus tembok mengikuti saudaraku Wendy dan temannya yang aneh Jeremy. Tempat macam apa ini? New York? LA? New Zeeland? Indonesia?”
“Astaga, omonganmu itu aneh sekali Jane. Meyebut Putri Wendy dengan langsung sebutan namanya. Dan juga Jeremy ia penolong negri ini. Dan tempat apa itu? Disini UNEVIDENTLAND, Jane. Aneh sekali kau ini.” kata bibi itu sambil menuju ke ruangan yang lain.
“Putri Wendy? UnEvidentLand? Pasti aku sedang bermimpi,” teriakku tak percaya.
“Kau pasti banyak berkhayal, Jane! Ayo cepat ke sekolah, tasmu ada di kursi! Will sudah menunggumu di luar.” teriak bibi itu.

Aku meraih tas yang ada di kursi. Dan berlari keluar. Aku tak takut dengan hal yang baru, aneh ataupun menantang. Selalu kulalui dengan berani. Hanya saja, tempat ini memang benar-benar aneh. Tidak seperti saat aku tersesat di gang-gang kecil Chicago. Di sini, ada beberapa orang bisa terbang! Apa ini tempat yang ada di dongeng pengantar tidur yang selalu kubenci itu? Aku benar-benar penasaran dengan tempat ini.
“Hai, Jane! Bagaimana pagi ini?” sapa seorang lelaki seumurasnku dengan kudanya. Kuda?!
“Hmm… pagiku aneh. Kau siapa?” tanyaku padanya.
“Leluconmu tak lucu, jadi pagi ini kau pura-pura tak mengenalku.”
“Tapi aku benar-benar tak mengenalmu, lelaki berkuda aneh,” kataku ketus.
“Baiklah, nona Jane Turner. Perkenalkan namaku Will. William Nilsson. Ayo cepat, kita hampir terlambat..” katanya sambil menarik tanganku ke atas kudanya.
Kami berkuda sampai ke sekolah. Berkuda? Ke sekolah? Entahlah.
“Okay, Will. Kau pasti tau seluk beluk tempat ini. coba ceritakan padaku semua yang kau ketahui. Terutama tentang Wendy.”
“Kau ini bertanya seperti kau baru menginjakkan kaki di tempat ini” katanya sambil tertawa.
“Memang. Aku kesini mengikuti saudaraku, Wendy.” Kataku ketus.
“Sekarang aku mulai takut, kau mengaku-ngaku saudara Putri Wendy? Amazing!” katanya sambil tertawa lebih keras.
“Serius, Will. Aku tersesat disini. Aku tak tau ini tempat apa.”
“Hmm… leluconmu hari ini takkan bisa mengelabuiku nona. Ayo turun kita sudah sampai.”
“What? Tempat apa ini? gedung tua apa ini?”
“Ini sekolahmu, bodoh!” kata Will sambil mencubit hidungku.
“Aw… dimana kelasku?”
“Kita sekelas, nona Turner-_-“ kata Will menarik tanganku.
“Oh… sial,” ucapku pelan.

Aku hanya ingin kalian tau, UnEvidentLand adalah tempat teraneh yang pernah aku kunjungi. Apalagi sekolah ini. aku tak bisa mengungkapkannya. Jika aku tulis disini, buku diaryku tak cukup menampungnya. Sebenarnya Wendy manaa sih?


Minggu, 14 Februari 1995 (aku masih tak tau disini tanggal berapa)

“Baiklah, nona pemalas. Dari kemarin kau tak seperti biasanya. Biasanya kau akan bangun sendiri. Hari ini bukannya kau harus membersihkan kandang kuda kerajaan?” kata bibi sambil membuka selimut yang menutupi tubuhku.
“APAA?! KANDANG KUDA?!” kataku kaget langsung beranjak dari tempat tidur.
“Tuh kan, kau aneh sekali. Itu memang pekerjaanmu.”
“Ya sudahlah.” Kataku sambil beranjak menuju kamar mandi.
Kandang kuda?! Tanganku harus bersentuhan dengan kotoran kuda? Iyuwh.
“Ayo cepat sedikit, Jane. Dari kemarin kau selalu terlambat. Tak seperti biasanya.” Teriak Will dengan kuda jeleknya.
“Iyaiya-_-“

Ini kejadian paling mengejutkan. Aku tak tau ini akan terjadi dalam sebuah cerita. Selain karna aku hobi menulis buku harian, aku juga ingin mencatat sejarah! Dimulai saat aku sampai di kandang kuda kerajaan dan mulai bekerja dengan Will membersihkan kotoran-kotoran kuda itu-_-

“Will… aku sudah tak tahan dengan baunya. Rasanya aku ingin pingsan..” keluhku.
“Jane, biasanya kau yang paling semangat. Kau kan ingin mengumpulkan uang untuk ke Universitas.”
“Universitas? Umurku baru 14 tahun! Aku baru akan mendaftar SMA.”
“Kau bercanda, Jane. Umurmu 17 tahun bodoh!”
Ini bukan keanehan yang sebenarnya, tapi ini….
“Hey pembersih kandang kuda yang jorok! Minggir kau, aku ingin mengambil kuda kesayanganku.” Kata seorang gadis bergaun indah di depanku.
“We… Wen.. dy?! Darimana saja kau?! Oh, jadi disini kau bersembunyi dariku dan mama?!” kataku ketus.
“Hey gadis gila! Apa kau tak diajarkan sopan santun?!” kata gadis mirip Wendy itu, tapi memang itu Wendy!
“Maaf, Putri Wendy. Akhir-akhir ini ia memang sedikit aneh. Silahkan tuan putri mengambil kudamu.” Jelas Will melirik pedas padaku.
“Putri? Hey si Wendy ini hanya anak pembawa sial di keluargaku!” kataku pada Will.
“Jane!” kata Will tegas. “Beliau putri di negri ini, apa kau lupa?!” bisiknya lagi.
“Hmm.. oke putri Wendy HOAX, silahkan!” kataku ketus.
“Oke, selamat tinggal gadis kotor!” kata Wendy meninggalkan kami dengan kuda putihnya.

Sekarang kau sudah mengerti? Kau tau dari awal, sang protagonist adalah Wendy dan aku antagonist. Sekarang? Aku benar-benar tak percaya ini terjadi.
Aku pulang ke rumah sambil termenung di kuda Will. Aku benar-benar tak percaya itu Wendy. Tiba-tiba Will membuyarkan lamunanku.

“Jane.. Jane! Kau melamun?” kata Will.
“Eh.. Eh.. Entahlah, aku sedang pusing.”
“Aku ingin tanya sesuatu.” Kata Will misterius.
“Tanyakan saja.”
“Tapi kau janji takkan marah.”
“Yap.”
“Akhir-akhir ini kau aneh sekali. Kau ini kenapa?” tanya Will serius.
“Apa kau tak bisa menyimpulkan? Aku ini bukan Jane Turner di duniamu. Aku berasal di dunia nyata!” kataku dengan nada sedikit dinaikkan.
“Apa?! Kau bercanda, Jane. Kau sepertinya agak stress. Ayo turun dan pegang tanganku.”
“Kemana? Kudanya bagaimana?”
“Tinggalkan saja.” Katanya mantap.
Aku tak percaya. Tubuhku sedikit terangkat dan aku berada di atas awan. Kami terbang!
“Jadi Jane Turner dunia nyata. Ceritakanlah mengapa kau bisa ke Negri kami?”
“Jadi kau percaya padaku?” tanyaku.
“Mana mungkin aku tak percaya, tingkah lakumu berbeda 360 derajat dengan Jane Turner di UnEvidentLand.
“Jadi, aku dan Wendy adalah saudara tiri. Dan aku tegaskan Wendy bukan putri! Di dunia nyata, aku selalu bertingkah jahat pada Wendy. Seperti malam itu aku menjailinya dengan menukar cream wajahnya dengan poison. Setelah itu, aku bertemu dengan makhluk aneh bernama Jeremy….”
“Jeremy?!” kata Will menyela.
“Yap kurang lebih seperti itu, lalu aku melihat mereka menuju tembok dan menembusnya. Aku mengikutinya dan aku pun sampai ke tempat aneh ini.”
“Apa kau orang London?” tanya Will seperti ia tau sesuatu.
“Ya. Kau tau London?”
“Sebenarnya tidak, tapi aku sering mendengar kata London yang selalu dikatakan Putri Wendy pada Jeremy saat Jeremy membawanya pertama kali ke UnEvidentLand.”
“Oya?”
“Iya aku yakin.”
“Jadi kapan kita turun dari sini? Aku mulai takut, Will.”
“Oh jadi Jane Turner dunia nyata dan UnEvidentLand punya sedikit kesamaan, mereka takut ketinggian.” Kata Will tertawa kecil.
Kami sampai di rumah dan………………………………………… tidur~ (maksudku ke kamarku dan tidur bukan aku tidur dengan….......…-_-)


Senin, 15 Februari 1995 (Di dunia nyata tanggal ini tapi di dunia ini?)

Aku bangun lebih cepat dan………………

“HAPPY BIRTHDAY JANE!” teriak Will dengan kue tart yang dibawanya menyelinap ke kamarku.
“Kau tau tanggal ulangtahunku?”
“Jane memang berulangtahun sekarang, ini kulakukan agar bibi Lily tak curiga. Tapi jika memang hari ini ulangtahunmu juga, ya bagus.”
“Aku tak berniat merayakannya,” kataku dengan nada malas.
“Kenapa? Ini kan hari spesialmu. Hari ke 18 tahunmu.”
“Aku bilang aku tak mau merayakannya, Will!” kataku meninggalkan Will.
“Jane… Jane.. tunggu…” katanya.

Harusnya aku merayakannya di rumah bersama mama, ayah dan…. Uh aku benci menyebut namanya, Wendy. Jujur saja, kemarin aku heran Wendy bertingkah seperti itu. ini tak bisa dipercaya. Ini seperti mimpi tapi tampak nyata. Nyata sekali. Lalu apa aku akan selamanya tinggal disini? Di mana rumahku? Bagaimana aku bisa pulang? Uh, kenapa aku harus mengikuti Jeremy sialan itu?! sekarang, satu-satunya jalan pulang adalah menemui Jeremy dan Wendy. Ya. Itulah jalan keluarku.

“Jane…. Apa kau marah?” panggil Will yang menemukanku duduk termenung di halaman belakang rumah bibi Lily.
“Lupakan,” kataku singkat.
“Kau ini kenapa Jane?”
“Tak apa, bisakah kau berhenti bertanya. Kau lelaki yang paling cerewet yang pernah kutemui,”
“Baiklah, maafkan aku. Tapi sekarang aku punya berita bagus untukmu,”
“Apa itu?”
“Mulai besok, kau tak bekerja lagi di kandang kuda kerajaan. Kau akan bekerja di café kerajaan sebagai pelayan yang melayani para tamu kerajaan,”
“Oya? Wow,” jawabku datar.
“Apa kau tak senang? Bukannya kau ingin pekerjaan itu daripada harus membersihkan kandang kuda,”

Hmm.. Will benar juga. Aku tak perlu berkotor ria lagi. Lagipula makin besar kesempatanku untuk bertemu Jeremy dan Wendy.

“Uh… terima kasih, Will. Kau sahabat terbaikku,” kataku pada Will. Will hanya membalas dengan senyum anehnya. Aku malas menanyakannya.
“Jadi apa kau ingin memakan kuenya sekarang?” tanya Will.
“Hmm... baiklah terserah,”
Ini kue terlezaaaaaaat yang pernah kumakan. Entahlah. Di dunia ini, semua makanan terasa sangat lezat dibanding di duniaku.


Selasa,16 Februari 1995 (Entahlah…)

Aku bangun secepat mungkin yang aku bisa. Aku mandi dan bergegas menemui Will yang sudah menungguku di kudanya.

“Kau tak terlambat lagi, Jane!” kata Will yang sebenarnya mengejekku.
“Sudahlah, jangan banyak bicara. Aku ingin cepat ke sekolah lau bekerja di café itu dan bertemu Jeremy setelah itu pulang dan pastinya meninggalkan negeri aneh ini!” kataku tanpa jeda.
“Kau ingin pulang?” tanya Will heran.
“Iya!” jawabku mantap.
“Tapi tak semudah itu kau bertemu Jeremy, apalagi kau hanya seorang barista,”
“Apapun yang terjadi aku harus bertemu dengannya. Ayolah Will kau pasti mengerti,”
“Baiklah, ayo cepat,” kata Will.

Ayo. Ayo. Ayo!

“Oke nona Turner, disini anda akan menjadi barista. Kau hanya perlu mencatat pesanan tamu kerajaan, memberinya ke koki dan mengantar makanan tersebut pada mereka. Dan satu hal yang perlu kau perhatikan! Karna semua adalah tamu kerajaan penting, kau harus melayani mereka dengan sopan santun,” jelas Kepala Café Kerajaan yang cerewet itu.
“Baiklah miss, saya akan bekerja dengan baik,” kataku bohong.

Oke barista! Hanya mencatat, memberikannya dan mengantar. Kau tau, barista adalah seorang pelayan restoran, café ataupun bar dalam bahasa Itali. Aku bergegas memakai seragamku. Aku mengamati sekeliling café, tapi tak ada tanda-tanda Jeremy atau Wendy datang-_-

Pelanggan pertama. Namanya Prince Vially. Tamu dari Kerajaan Karmin. Oh my God. He’s so beautiful boy. Mungkin umurnya sama denganku. Kata Caroline (teman baristaku yang kebetulan teman sekelasku), ia sering kesini. Prince Vially kesini karna bosan menunggu orangtuanya mengadakan kunjungan. Terlihat ia bersama temannya, tapi Carl tak tau ia siapa.
“Kau sepertinya tau segalanya,” kataku pada Caroline.
“Well, you can guess it Jane. Siapa yang tak jatuh cinta pada pangeran setampan dia. Tapi, mana mungkin barista sepertiku… sudahlah layani dia.”
“K…”
Aku menghampirinya. Dekat… dekat… uh he’s so handsome, cute, and….. umm… BRAAAAKKK!!!!

Damn.

“Bodoh…” bisik seorang yang memang tak sepantasnya pangeran ucapkan-_-
“Kau tak apa?” tanya seorang lagi, ini pasti pangerannya!
“Oh God,” kepalaku sedikit pusing.
“Mari kubantu berdiri,”
“Terimaka---“
Shit. Aku jatuh di depan pangeran. Seorang pangeran. The real prince.
“Ma… maaf tuan,” kataku sambil tertunduk.
“Maaf Prince, bolehkan saya mencatat pesanan anda?” Caroline langsung menghampiri meja Prince.
“Seperti biasa, Caroline” kata Prince.
“Okay, wait for minutes,” kata Caroline. “Ayo Jane bodoh,” bisik Carl ke telingaku.
Aku tak sanggup menahan malu. I think I wanna die right now!
“Wa… wait,” kata prince memegang tanganku.
“Kau jagonya, Vially. Aku pergi,” pamit teman Prince Vially.
“Excusme…” kataku.
“Oh maaf,” melepaskan tanganku “What’s your name?”
“Jane. Jane Turner, prince.”
“I think I never see you before,”
“Ya, aku baru bekerja hari ini,” kataku nyengir-_-
“Okay,” kata terakhirnya sambil berdiri dan meninggalkan café.
Orang aneh.
“Ini pesanan—“ kata Caroline.
“Loh kemana Prince?” tanyanya.
“Pergi…”
“Yaaaaaaaaaaaaaah </3” kata Carl kecewa.
*menghela nafas* Pangeran itu gila.


Rabu, 17 Februari 1995

Kini aku dapat menyimpulkannya. Di dunia ini sekolah tidak diatur. Maksudku, jadwalnya tak diatur. Ini pun kata Will. Hari ini aku ingin sekolah ah, aku ingin mengisi hariku yang entah di mana dengan melihatnya lebih jauh.
Will yang setia dengan kudanya telah berangkat. Alhasil, aku pun pergi jalan kaki. Tak terlalu jauh. Semangat!

Hari ini heboh di sekolah. Heboh sekali. Aku tak tau apa yang dikerubungi di mading itu.

“HEY JANE!!!!” kata Carl di depan kelas mengagetkanku.
“Wha… What the hell are you doin’
“So- sorry. I have good info for us!”
“Apa?”
“Kita diundang ke pesta ulangtahun Prince Vially,”
“Kita?”
“Ya. Kita, para gadis di UnEvidentLand,”
“Uh well, acara aneh apalagi ini-_-“
“Oke, aku mengerti kau dari dunia berbeda. Di-ffe-rent world. Tapi apa mungkin di duniamu tak ada acara seperti ini?”
“Iya, so when?”
“Yesss! Lusa,”
“Kostum? Apa aku harus memakai kostum fairytales aneh?”
“Tepat sekali. Smart!”
“WHATTT?! Serious?”
“Memang di mading dituliskan begitu. So, I’d like you to accompany me buy that,”
“Sial, aku sudah mempunyai firasat. Ini acara bodoh,”
“Sudahlah, ikut saja.”
“Ini karna solidaritasku,” kataku pasrah.

*at café*
“So, apa kita jadi membeli bajunya?” tanya Carl antusias.
“Whatever,”
“Uh, aku ingin membeli baju penyihir,” kata Carl bersemangat.
Orang sinting.

*di toko aneh*
“Can I help you, lads?” tanya seorang lelaki paruh baya pemilik toko itu.
“Kami sedang mencari baju fairytale untuk mengahadiri sebuah pesta,” jelas Carl.
“Kau meminta tokoh apa?”
“Penyihir!” kau tau yang menjawab.
“Kau?” tanyanya lagi.
“Apapun,” kataku tak bersemangat.
“Wait for minutes,” kata lelaki itu.
Tik… tok… tik… tok…
“Ini dia satu baju penyihir dan satu baju…… perompak,”
“WHAT?! A PIRATE?!” kataku tak percaya.
“Sudahlah, Jane ambil saja. Terimakasih, pak. Jadi berapa kami harus membayar?”
“Ambil sajalah, kebetulan ini baju terakhir. Sebelum kalian, banyak sekali yang kesini dan hanya baju itu yang tersisa.”
“Terimakasih, pak,”
“Urwell,”
*out*
“Oh God, masa aku harus memakai baju perompak?!” kataku kesal.
“Apa boleh buat, Jane. Itu baju yang tersisa. Lagipula di daerah ini toko seperti itu sudah mulai tutup,”
“Great-_-“


*at home*
“Uh Will, masa aku harus memakai baju perompak di pesta nanti,” keluhku pada Will yang berkunjung re rumahku (rumah keduaku tepatnya).
“Jadi kau akan ke pesta itu?”
“Tepatnya dipaksa Carl,” kataku kesal.
“Aku ingat!”
“Apa?”
“Follow me!” kata Will menarik tanganku.
*at warehouse*
“Mau apa kau membawaku ke sini,”
“Lihatlah. Cantik bukan?” kata Will menunjukkan sesuatu.
“W-O-W! It’s beautiful dress!”
“Ini gaun almarhum ibumu… maaf maksudku ibu Jane,”
“So, Will. I can guess it…”
“What’s that?”
“Aku pintar dalam hal menyimpulkan…”
“Jadi apa?-_-“ tanya Will kesal.
“Kau perhatian pad---“ kataku terputus.
“Sssstt… jangan bicara keras. Bibi Lily bisa menemukan kita berdua disini. Ayo keluar, bawa dress itu,” ajak Will.
---_____________________________________________________________---

So, aku mencobanya dan cocok. What a beautiful me ?


Kamis, 18 Februari 1995

“Mau pesan apa, nona?” tanyaku pada seorang putri anggun sekali.
“Espresso strawberry cream,” katanya lemah lembut.
“Wait for minutes,”

Ini baru hari ketiga aku bekerja di sini. Nyaman. Nyaman sekali. Jarang aku mudah diajak bekerja. Di sini aku bisa menyimpulkan kopi para pelangganku. Bisa dibilang aku barista ‘Espressologist’. Misalnya Large nonfat four-shot coffe latte adalah orang gendut biasanya para bawahan kerajaan yang dangkal otaknya, tingkat kecerdasan jongkok, postur biasa saja dan sangat perlu berolahraga. Juga White coffe chocolate cream adalah orang tampan/cantik yang berhati manis walau bukan di kalangan keturunan kerajaan.
“Jane, aku dengar mereka menjadi sepasang kekasih. Tepat seperti prediksimu. Sekarang kau dipanggil,” kata Carl menunjuk pelangganku yang kemarin aku bisikkan sifatnya.

*walk*
“Tuan nona, apa kalian memanggil saya?” tanyaku.
“I really really say bigthanks for ya,” kata lelaki itu.
“Yes, kau tau. Kami dijodohkan dengan orangtua kami. Kami berdua benar-benar menolaknya. Aku berkunjung kesini dengan niat ‘kabur’. Tapi, ternyata pilihanku salah. Aku benar-benar cocok dengannya,” jelas nona itu.
“Suatu kehormatan bagiku,” kataku.
“So, we give you gift. Open that!” kata lelaki itu menyerahkan sebuah kotak merah.
“Wow, what a precious necklace. Thanks,”
“Urwell, girl,” kata mereka berdua.

Benar-benar indah! Ini bisa dipakai untuk besok.


Jumat, 19 Februari 1995

PARTYYY BABY!
“Siap?” tanyaku di balik pintu kamar Carl.
“Ja- Jane?!”
“Wua-Why?” tanyaku kaget.
“Kau cantik sekali. Like a Cinderella,” kata Carl terkagum-kagum.
“Really? I find it at warehouse with Will. What d’you think?” kataku sambil memainkan gaunku.
“Very beautiful. Yep, I’m ready. C’mon!” kata Carl bersemangat.

*at Karmin Castle*
Aku merasa menjadi Cinderella impian. Oh God mengapa perasaanku tiba-tiba saja terang benderang, biasanya aku terus memikirkan hal buruk.
“Wanna dance with me, Jane,” ajak Prince Vially.
“Sure,” kataku.

*on dance*
“So, kau tau namaku?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Bagaimana aku bisa lupa. Kau barista istimewa yang pernah kutemui,”
“Benarkah?”
“Umm—“
“Dear prince, c’mon dance with me…” ajak seseorang…. WENDY!
“Sure,” kata Vially.
“Wait, Wendy! Wendy! WENDY!!!!” teriakku tapi ia tak mendengarnya atau sengaja tak mendengarnya.
“Kau kehilangan pangeranmu, Jane?” bisik seseorang ke telingaku.
“Will?!”
“Kau seperti anak tolol-_-“
“Will… ayo kita pulang,” ajakku kecewa.
“What’s wrong with you?”
“Sssstt… aku tak ingin membahasnya,” kataku menutup mulutnya.

*at treehouse*
“Tired day….” Kataku sambil membaringkan tubuhku di kasur rumah pohon dekat rumah bibi Lily ditemani Will.
“Will? Kenapa kau diam saja? Oya, aku ingin mengatakan sesuatu yang kau potong waktu di gudang….”
“Ssstt… kini saatnya kau tau sesuatu….” Kata Will misterius.
“Ih dari kemarin kau selalu memotong pembicaraanku, aku hanya ingin katakan. KAU SANGAT PERHATIAN PADAKU. JANGAN-JANGAN KAU SUKA PADAKU,”
“APA?!” kata Will.
“Ups… bodoh sekali aku,” kataku pelan.
“Jadi, kau menyangka aku suka padamu? Gosh!” kata Will heran.
“Lupakan! So tadi kau mau bicara apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Idiot. Percuma aku berbicara padamu, idiot!” kata Will turun dari rumah pohon.
“Kau marah padaku, Will?” teriakku dari atas.
“MENURUTMU?!” teriak Will sambil pergi.
Kenapa Will jadi marah? Kejadian aneh apalagi ini? Ya Tuhan, aku ingin segera pulang…


Senin, 16 Maret 1995

Sudah beberapa minggu ini aku tak menulis di buku harianku. Oh diary maafkan aku, aku terlalu sibuk. Kini aku punya berita baik, kini aku sudah masuk ke Universitas yang ‘Jane’ inginkan dari hasil kerja kerasku menjadi esspresiologist di café yang sama. Mungkin namaku sudah terkenal. Sisi buruknya, sudah sebulan aku tersesat di dunia ini, berapa lama lagi aku harus berada di dunia ini? Aku sudah rindu mama. Berapa lama lagi aku harus bekerja mandiri. Tuhan selamatkan aku. Will masih marah. Aku heran mengapa ia marah. Setiap aku bertemu atau berkunjung ke rumah Will, Will selalu menghindar. Aneh.
Hari ini aku bertemu Prince Vially. Sialnya, ia bersama putri lain. Namanya Nastly. Namanya tak seindah kelakuannya. Karna aku sekolah di Universitas favorit, maka tak heran kalau aku bertemu Prince Vially dan Nastly gila itu di Universitasku.

“Hay, Jane. Kau sekolah disini juga?” tanya Vially saat berpapasan denganku.
“Ya, aku dapat beasiswa,” jawabku.
“Siapa dia, Vially?” bisik seorang wanita di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Nastly.
“Dia barista, temanku,” jawab Vially
“Barista? Temanmu?!” kata Nastly merendahkanku.
“Well, aku permisi dulu,” kataku malas mendengar ucapan apalagi yang akan dikeluarkan mulut Nastly.
“Tunggu dulu, Jane!” teriak Vially tapi aku terlanjur pergi ke kelas.
Di kelas? Aku hanya melihat-lihat di sekitarku adalah orang di kalangan kerajaan. So mana ada yang mau berteman denganku.




Sabtu, 11 April  1995

Aku semakin jarang menulis. Hari ini aku malas ke Universitas. That’s boring. Really boring and very boring. Aku pun menghabiskan hari ini di café. Sayang, Carl tak diterima di Universitasku, Univesitas Miraculous.

“Jane… Jane…” teriak salah satu lelaki di antara meja café.
Siapa sih itu? Umm… Vially? Vially!
“Ada apa, Prince?”
“Bisakah kau memanggilku Vially saja. Lagipula kita sekarang teman satu Universitas,”
“Aku takut tak sopan, aku hanya seorang barista dan kau pangeran yang sangat mulia, gagah, bijaksa—“
“Sudahlah, kau hanya terlalu merandah. Apa kau mau menemaniku jalan-jalan ke taman sekarang? Kau tak sedang sibuk kan?”
“Hmm….”
“Ayolah. Tinggalkan pekerjaanmu sebentar saja,” pinta Vially.
“Baiklah,” anggukku.

*at flower garden*
“So apa kau sudah punya pasangan untuk pesta topeng besok?” tanya Vially membuka pembicaraan.
“Oh God. I forgot it. Umm… belum,” kataku sambil menepuk jidatku.
“Yeah! Kebetulan!” teriak Vially yang membuatku kaget.
“Ke-kebetulan apa?” kataku refleks.
“Kebetulan! Aku pun belum punya pasangan. Apa kau mau jadi pasanganku?”
“Pa-pa-pasangan?” kataku kaget.
“Maksudku pasangan pesta topeng itu,”
“I-iya aku tau. Tapi barista dan…….. ah itu tak mungkin Vially,”
“Hey, itu kan hanya di luar Univ. Jika tidak, kedudukan kita sama,”
“Ta-tapi bagaimana dengan Nastly?” kataku pesimis.
“Siapa peduli,” jawab Vially datar.


Minggu malam, 12 April 1995

“Well, miss pirate. What’s your name?” kata seorang lelaki dengan topeng hijaunya.
“Kau memanggilku pirate?!” kataku kesal di pesta itu.
“Kau memakai baju perompak. Jadi apa salahnya aku memanggilmu pirate?” kata lelaki belagu itu.
“HEY JAGA OMONGANMU!!!!!” kataku sambil menarik kerah bajunya.

Aku tak suka direndahkan.

“Jason! Jane! Hentikan,” kata seorang lelaki sambil membuka topengnya. Vially.
Oh namanya Jason. Awas kau!
“Dia yang mulai, Vially!” kata Jason menunjuk ke arah mukaku.
“Hey, jelas-jelas kau yang memanggilku pirate,” kataku tak mau kalah.
“STOP! Kalian seperti anak kecil. Sekarang, Jason kau pergi,” kata Vially tegas.
“So, who’s he?” kataku dengan kesal sedikit mereda.
“His name’s Jason. He’s my friend. Sorry, ia memang suka begitu. Bicara tanpa dipikir dulu,”
“It’s okay,” kataku.
“Let’s go there,” ajak Vially.
“K… Vially,” anggukku.
“What? Apa aku tak salah dengar! Dia memanggilmu Vially?” kata seseorang yang suaranya ergh-_-
“Memangnya salah? Jane juga teman kita kan?” kata Vially membelaku.
“Sudahlah, tak usah digubris,” kataku mengalah.
“Oh! Jadi kau mau menghindar!” teriak Nastly tak tau malu.
“Kau benar, Jane. Kita tak perlu menggubris orang gila ini,” kata Vially menarik tanganku.
“Tunggu, Vially…” kata Nastly menarik tangan Vially.
“Lepaskan, Nastly. (glek..)  It was over!” kata Vially meninggalkan Nastly.
Oh jadi mereka selama ini……


Senin, 13 April 1995

Hari itu di Miraculous,
“So, apa kau menerimaku, Jane?” tanya Vially seriously.
“Umm…….” Kataku ragu.
“Jane! Kau harus ikut aku sekarang!” kata seseorang menarik tanganku yang berada di tangan Vially. Will.

*di tempat yang berbeda*
“Jadi apa maksudmu, Will?! Kau merusaknya!” kataku tak sanggup menahan emosi.
“I just wanna say----“
“Hentikan, Will. Aku tak mengerti, Will. Kau menghilang dan muncul di saat yang seperti ini,” kataku menyela perkataan Will.
“Aku tak bermaksud itu. Aku bisa jelaskan, dengarkan aku Jane,”
“AKU TAK PERLU PENJELASAN APAPUN DARIMU. SEMUA SUDAH JELAS DI MATAKU. YOU-JUST-HAVE-JEALOUS!”
“Bukan itu, Jane. Aku sudah menemukan jawabannya. Jawaban mengapa kau ada di sini….”

WHAT?!

“Jadi apa begini kau memperlakukan seorang wanita?! Lepaskan tangannya!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul.
“Just shut up your fuckin’ mouth! Ini bukan urusanmu,” teriak Will.
“Jelas ini masalahku, kau kasar padanya!” katanya sambil menunjuk ke arahku, aku pernah melihatnya. Seakan baru melihatnya. Tapi siapa?
“Pergilah. Kau hanya menambah masalah,” kata Will mendorong lelaki itu.
“Hey, I just wanna help her from fuckin’ loser like you! C’mon!” kata lelaki itu menarik tanganku.

Lagi-lagi ditarik-_-
“Siapa kau? Tiba-tiba muncul di hadapanku?!” tanyaku penasaran.
“So, kau sudah lupa? Baru kemarin kita bertemu, miss pirate?” katanya tersenyum.
“Oh jadi kau, Jason!” kataku masih menyimpan dendam.
“Kau tau namaku?” tanyanya masih menarik tanganku.
“Lepaskan! Jelas-jelas Vially menyebutnya kemarin. Ih lepaskan tanganku!”
“Takkan kulepaskan,” katanya aneh.

“So, that’s your gf,” kata Jason melemparku (shit!) ke Vially.
“Jason… hey Jason…” teriak Vially dengan aku di pelukannya.
“That yourssssss haha,” kata Jason meninggalkan kami.
“Kau tak apa, Jane?” tanya Vially antusias.
“I’m okay,” kataku singkat.
“Syukurlah, lebih baik kita kembali ke kelas,” ajak Vially.

Tunggu dulu. Aku masih tak percaya. Will tau. Ia pasti tau mengapa aku di sini. Tapi sekarang masalahnya, bagaimana aku menghampiri Will. Dan bertanya apa yang terjadi. Sial.


Kamis, 28 Mei 1995 (Oh God)

Guess what? Ternyata aku dan Vially hanya cinta sementara. Now, he’s dating with Nastly. Who cares. Just one problem! Will menghilang. Tapi ini tak seperti yang biasa dilakukannya. Ia benar-benar menghilang. Sekarang harapanku pulang pupus.
Malam ini aku berharap Will ada di treehouse. Jika pun tak ada, aku hanya ingin merebahkan tubuhku ini. and…..

“What the hell are you doin’ here, huh?!” teriakku karana kaget melihat seorang lelaki sudah tertidur di treehouse.
“Ssssstt… bisakah kau menutup mulutmu, aku sedang tidur!” kata lelaki itu.
“Jason?! Kau Jason?!” kataku kesal.
“Oh kau mengenalku. Siapa kau?” katanya sambil bangun dan mengusap matanya.
“Mengapa kau selalu ada ergh-_-“
“Oh you’re miss pirate, apa aku mengganggumu, nona?” katanya sok.
“Kau jelas menggangguku. Selalu menggangguku! Pergilah!” usirku.
“Kau punya hak apa untuk mengusirku?” kata Jason mendorongku sampai ke tembok treehouse dan mukanya tepat berada satu jengkal di depan mukaku.
“Waktu itu kau bilang kau tak boleh kasar pada wanita. Tapi sekarang?!” gerutuku.
“Okay, so-sorry. So, what’s your problem? Let’s tell me,” katanya mulai bersahabat.
“Mengapa kau tau aku sedang ada masalah?” tanyaku heran.
“Menurutmu? Aku kesini karna aku pun punya masalah. Di sini aku bisa menenangkan diri dan aku bisa sendiri….” katanya mulai serius.
“Jadi orang menyebalkan sepertimu bisa stress juga, but sebelum kau cerita, lepaskan tanganmu dari bahuku dan palingkan wajahmu dari wajahku!” kataku tegas.
“K…” katanya sambil turun dari treehouse.

Orang aneh dengan kelakuannya yang aneh.

Tapi memang, aku melihat wajah Jason yang tak seperti biasanya. Walau aku baru bertemu dengannya untuk ketiga kalinya tapi tatapan matanya sungguh berbeda. Siapa peduli.


Minggu, 6 Juni 1995

Hari demi hari terus berjalan. Keanehan terus bermunculan. Sekali lagi aku jelaskan AKU INGIN PULANG. Hari ini sedang ramai pengunjung. Tapi aku tak salah lihat. Di café, aku melihat Nastly. Tapi ia bukan bersama Vially. Aku yakin! Walaupun sudah lama aku tak bertemu Vially, tapi aku masih ingat wajahnya. Umm… orang itu seperti…. Umm…. Jason! What?! Jason? Mereka terlihat mesra sekali. Seingatku, Nastly masih bersama Vially. Apa mungkin mereka sudah putus? Cepat sekali.

“Boleh saya mencatat pesanan anda?” kataku menghampiri meja mereka dengan tatapan heran.
“Hey, kau miss pirate?! Kau barista disini?” tanya Jason.
“Excusme, my name’s Jane. Not miss pirate-_-“ kataku kesal.
“It’s not important for me. Now, bawakan aku esspreso chocolate 2,” kata Nastly mengusirku.
“Maaf, nona. Tanpa mengurangi rasa hormatku, apa kalian umm… bagaimana dengan Prince Vially?” tanyaku penasaran.
“Dear barista! Sejak kapan kau ikut campur dengan urusan kami!” kata Nastly ketus.
“Stop, Nastly. She just barista. Sudahlah, pergilah Jane,” kata Jason menengahi.
Seperti dugaanku. Ini tak beres. Nastly dan Jason pasti menyembunyikan sesuatu dari Vially. Ini sangat terlihat dari Nastly menjawab pertanyaanku. Aku harus bilang pada Vially.

*evening*
   Hari yang melelahkan. Café sudah mau tutup. Tapi, ada sesosok orang yang masih duduk di antara meja café.
“Maaf tuan, café sudah mau tu- Ja… Jason?” kataku heran.
“Ssssttt…” kata Jason menutup bibirku dengan jari telunjuknya dan membawaku ke sebuah rumah kosong.
“Mau apa kau?” kataku.
“Tenanglah, aku tak bermaksud apapun,” jawab Jason.
“Jika kau tak bermaksud apapun, untuk apa kau membawaku ke tempat ini?”
“Seharusnya kau sudah mengetahuinya, Jane.”
“Dalam pikiranku, kau memintaku untuk tak membeberkan kejadian tadi. But I’ll say it,” kataku licik.
“Sepertinya kau tokoh antagonist juga,” kata Jason.
“Ya, kau tau tak mudah membuat perjanjian denganku,” kataku.
“Okay, okay. I will give you everything you want,” kata Jason menyerah.
“Kau lelaki pengecut yang pernah kutemui, Jason!” kataku.
“I just confused what should I do now,” kata Jason putus asa.
“Aku baru mendengar antagonist menyerah dan putus asa,” kataku tertawa kecil.
“Aku mengaku, aku memang pengecut. Sekarang aku takut Vially tau,” katanya benar-benar pasrah.
“Ya, kau tunggu saja Vially marah,” kataku pergi.
“Tunggu, Jane. Aku mohon…..”


Senin, 7 Juni 1995

“Vially, apa kita bisa bicara sebentar?” kataku di kelas.
“Tentu saja, Jane. What?” kata Vially.
Aku tau, sangat jelas. Jason sedang memerhatikan kami dengan pura-pura membaca buku.
“So, Vially. Kemarin aku melihat------“ kataku tersenyum licik pada Jason
“Boleh aku pinjam Jane sebentar, Vially?” kau tau siapa yang menarik tanganku lagi.
“Jason, apa-apaan kau ini?!” kataku melepaskan genggaman Jason.
“Aku mohon, Jane” bisik Jason.
“Ada apa ini?’” tanya Vially heran.
“Eh… eh… tak… tak ada apapun Vially,” kata Jason terbata-bata.
“Jadi, kemarin aku melihat lollipop besaaaar sekali. Aku berniat membelinya… umm tapi itu tak penting dibicarakan….” kataku mengangkat satu alisku.
“Apa yang kau bicarakan, Jane? Lollipop itu apa?” tanya Vially heran.
“Itu tak penting, Vially. Ia hanya sedikit bodoh hari ini,” kata Jason tersenyum lega.
“Apa?!” bisikku kesal.
“Ayo, Jane!” kata Jason mengajakku pergi.
**
“Jadi… apa imbalanku?” kataku bercanda.
“It’s not funny!” kata Jason kesal.
“Yes, but you said that you’ll give me everything. Rite, jack?”
“K… whatever,” kata Jason.
“Sepertinya aku ingin… umm… lollipop!” kataku semangat.
“Whua-what?! Lollipop? What the hell is mean of that?!”
“Disini tak ada lollipop?” kataku heran.
“Bahkan aku pun tak pernah dengar nama benda itu-_-“ kata Jason.


Rabu, 13 Agustus 1995

“Selamat malam, Jason!” kataku.
“Who-who’s that?!” kata Jason kaget.
“Kau tak mengenal suaraku?” tanyaku.
“Ja-Jane-_-“ kata Jason bangkit dari tempat tidurnya. “Baiklah, dimana kau Jane?” tanya Jason.
“Hai!” kataku muncul dari bawah tempat tidur Jason.
“Okay, ba-bagaimana bisa?!” kata Jason membantuku bangun.
“Kau tau, beranda, jendela, it’s so easy,”
“Jadi, untuk apa kau kesini?” tanya Jason lagi dan lagi-_-
“I got bored. I hate my house. I hate treehouse, so I came to here,” kataku melihat-lihat kamar Jason.
“Whua-what?!” kata Jason kaget.
“Ada apa? Oh tenanglah, aku menutup mataku saat ya kau tau itu. Saat kau ganti baju,”
“Sekarang, saatnya kau pergi, nona” kata Jason mendorongku ke arah jendela.
“Ayolah Jason, please” kataku memohon.
“Baiklah, kau bisa tidur di kasur,” kata Jason mengalah.
“No. Aku tidur di lantai saja,” kataku.
“Kau… ya kau perempuan. So…”
“Kau meremehkanku?” kataku.
“Tidak, hanya seharusnya aku mengalah padamu,” kata Jason.
“Baik, jika kau memaksa. Tangkap ini,” kataku melempar bantal dan selimut untuk Jason.
“Ini takkan jadi masalah jika tak ada yang menemukan kita, jadi jika kau mendengar seseorang membuka pintu, cepatlah kembali ke tempat kau bersembunyi tadi. Night,” kata Jason.

Aku tau Jason pasti tak bisa tidur. Akupun begitu. Aku hanya pura-pura tidur dan mendengar Jason menulis sesuatu. Ya, aku menunggunya benar-benar tertidur. And grab that paper. Oh gosh… 

I've been looking under rocks and breaking locks 
Just tryna find ya 
I've been like a maniac insomniac 
5 steps behind ya 
Tell them other girls, they can hit the exit 
check please... 
Cause I finally found the girl of... my dreams 
Much more than a reward
That's how much you mean to me 

You could be my it girl 
Baby you're the shit girl 
Lovin' you could be a crime 
Crazy how we fit girl 
This is it girl 
Give me 25 to life 
I just wanna rock all night long 
And put you in the middle of my spotlight 
You could be my it girl 
You're my biggest hit girl 


“Sudah membacanya? Apa kau dapat izin menyentuh barangku?” tanya Jason memegang tanganku.
Shit.
“A… aku tak—tak bermaksud memba… maaf,” kataku kaget.
“Tak perlu terbata-bata, Jane. Hanya tulisan biasa,” kata Jason. “Tidurlah,” sambung Jason.


Rabu, 17 Oktober 1995

Hanya beberapa kalimat. Aku mulai merasa nyaman disini.
Hari ini mungkin saatnya aku kembali. Begitu bangun… aku sudah berada tepat di tempat aku terjatuh malam itu….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar