Minggu, 28 Desember 2014

Dammit

"Jangan pernah menyentuh sisir itu!" Sam tiba-tiba masuk ke dalam kamarku atau kamar Sam jelasnya.
"Kenapa? Sisir kekasihmu?" tanyaku.
"Tidak. Tolong. Aku hanya memintamu untuk tidak menyentuh apapun. Kau mengerti?" Sam menarik tangannya dari tanganku, aku pun melepas sisir itu.
"Jadi untuk apa semua ini?! Mengurungku di tempat aneh, lalu aku harus apa? Katakan padaku!" Bentakku. Sam mulai tersenyum.
"Sabarlah, kau turuti saja apa kataku dan mungkin semua akan lebih baik."
"Mungkin? Sebenarnya apa-apaan ini?" Kataku mendorong Sam. Sam mengerang kesakitan, rupanya aku tak sengaja menendang luka sayatan pedang peri di kaki kanan Sam.
"Arrrghhh... ini semakin memburuk!" Katanya kesakitan.
"Awh, rupanya ada yang kesakitan." Kataku menunduk pada Sam sambil menahan tertawa. Bagaimana bisa orang lemah seperti dia menyekapku disini.
"Peri memang menyebalkan." Sam bangun, tapi tak bisa.
"Biar aku sembuhkan." Kataku menawarkan diri. Mungkin ini konyol, menolong lawanku. Tapi mungkin saja ia mau membocorkan sedikit rahasianya itu.
"Tidak! Ini akan sembuh sendiri, aku yakin kau akan mengucapkan mantra yang lain." Kata Sam ketakutan.
"Dan mengubah kakimu menjadi kaki bebek? Sadarlah, Sam. Sekarang perlihatkan lukamu, sebelum semua racunnya mencapai jantungmu dan kau mati. Ini sayatan pedang peri."
Sam perlahan-lahan menunjukkan lukanya padaku. Ini benar- benar parah. Sekitar 2 jam lagi, mungkin racunnya akan membuatnya mati. Ini sungguh membingungkan, jika aku biarkan dia mati aku takkan pernah tau ada apa ini. Tapi jika aku biarkan dia hidup, akan ada apa yang menimpaku? Aku 16 tahun sekarang, I'll try new ones. Aku bacakan mantra untuk menyedot semua racun yang sekarang mengalir di darahnya. Untung saja aku baik dalam menghapal mantra, dan pelajaran kesukaanku adalah pengobatan. Tapi Leace membenci itu, sebenci apapun Leace terhadap sesuatu. Ia takkan mungkin mau mengalah denganku. Sam semakin mengerang. Lumpur-lumpur yang mengering sepertinya menginfeksi lukanya, menumbuhkan bakteri baru.
"Ini mungkin agak sedikit sakit, jangan teriak." Kataku menenangkan Sam.
Setelah semua selesai, Sam menatapku. Aku mencoba membaca ekspresinya, tapi tak bisa. Aku tak tau ia sedang merencanakan apa terhadapku. Ia lalu memelukku.
"Maafkan aku, Gwen. Aku tak ingin melakukan ini." Kata Sam di atas kepalaku.
"Hey! Apa-apaan ini?!" Kataku melepaskan pelukannya.
"Sepertinya ada yang jatuh cinta." Seorang lelaki masuk.
"Aku hanya berusaha mengacaukan pikirannya, Matthew." Kata Sam beranjak. "Kini giliran kau yang jaga."
"Yaaa, tugas ini mulai melelahkan. Menjaga peri bodoh." Kata Matthew.
Sam beranjak, melihatku 2 detik lalu keluar kamar. Sekarang hanya aku dan seorang manusia bernama Matthew.
"Yaaa, lebih baik kau tidur, Gwen. Ini akan melelahkan." Kata Matt.
"Untuk apa semua ini?" Aku takkan jera menanyakan ini.
"Tentang Jane dan saudaranya, Gwen. Kuatlah." Matthew keluar dan mengunci pintu kamarku.
"Hey!!! Apa maksudmu?! Katakan padaku! Bahkan aku sama sekali tak mengenal mereka." Aku berteriak, mendekatkan mulutku ke lubang pintu berharap seseorang mendengar. Tapi tak ada jawaban.
Aku tertidur, aku bermimpi saat Ayah Leace menggendongku dan membawa ke kerajaan lalu kehidupanku mulai diatur. Lalu saat, aku diganggu oleh Karen yang terus mengoceh berlatihlah, Gwen. Dan saat Sam tiba-tiba ingin membunuhku tapi aku tak berdaya melawannya.
Aku berteriak.
"Ada apa?" Sam masuk ke dalam kamarku.
"Menjauh dariku." Kataku.
"Tak apa, kau aman disini. Tak apa, Gwen." Sam memelukku.
"Untuk apa semua ini, Sam? Aku tak ingin berada disini. Kenapa mimpiku selalu masa laluku." Aku mulai menangis di bahu Sam.
"Tak apa, kau akan baik, Gwen."
Sam berbisik lagi, "maafkan aku, Gwen."
"Sekarang, kau harus bersihkan dirimu. Kita akan melanjutkan perjalanan lagi." Kata Sam menuntunku ke kamar mandi.
"Perjalanan lagi? Kita ini akan kemana?"
"Kau harus percaya padaku, kau akan aman."
***
"Selesai, Gwen? Kau suka pakaian barunya?" Kata Sam dari luar kamar mandi.
"Tak ada yang kusuka disini." Balasku sinis. Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian gaun aneh milik manusia, baunya seperti sudah terpendam di lemari beberapa tahun lamanya. Aku harus menahan nafas saat memakainya.
"Kau punya parfum atau apapun? Bau gaun ini seperti sampah." Tanyaku pada Sam.
"Oh, maafkan aku Gwen...." kata Sam.
"Bisakah kau berhenti bilang 'maafkan aku, Gwen'. Aku sama sekali tak tau apa yang kau perbuat. Dan aku kira kau orang yang baik, kalau pun kau berniat jahat, aku bisa membunuhmu sekarang." Kataku pada Sam sambil menatap mata birunya itu. Mata yang tak asing namun entah mengapa ia pandai sekali menyembunyikan segalanya.
"Baiklah, nona. Aku punya parfum ibuku, ini bukan bunga Jasmine tapi bunga Tourleish. Baunya memang mirip namun berbeda..." kata Sam mengeluarkan botol parfum dan menunjukkan padaku.
"Seriously, kau terlalu banyak bicara." Kataku sambil menyemprotkan parfumnya padaku.
"Baiklah sekarang waktunya, Sam." Kata Matthew menghampiri kami.
Kami berjalan menuju kereta kuda, aku tak melihat kurcaci lain.
"Kemana yang lain?" Tanyaku memberanikan diri.
"Peduli apa kau ini, sekarang kita ke kasus pertama, Sam." Kata Matt serius.
"Baiklah, aku sudah tak sabar melihatnya." Sam tersenyum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar