Minggu, 31 Agustus 2014

I Prefer Die

"Kau berhasil?"
"Yea tunggu. I'm trying"
"Aku sudah, Sam."
"Sssstt... jangan sampai mereka dengar."
***

"Whoa, guys. Mencoba kabur? But how? But ok, at least you guys tried. But sadly you failed." kataku yang membatalkan 'lari' dari pelajaran selanjutnya untuk menanyakan kelanjutan ramalan itu.
Entah mengapa mereka bisa kabur. Pohon Mqen tidak bisa dipatahkan atau diterobos kecuali dengan sihir kami.
"Tak ada banyak waktu, kau harus ikut kami!" Sam menarik tanganku. Yang lainnya menyumpalkan beberapa tanaman berbau busuk yang bisa membuat siapa saja pingsan. Are you guys kidding me? Aku dilatih menjadi prajurit bangsaku yang handal. Aku takkan pingsan.
"Maafkan aku, Gwen. I know you're still awake, well I have to do this." Sam berbisik lalu memukul belakang kepalaku. Sekarang aku pingsan.
***
"Kau adalah cyter soul, Gwen."
"Jantungmu kekuatanku."
"Jangan sakiti Gwen, Karen. Sadarlah!"
"Anak manis....."
"Prajurit bangsa manusia itu jatuh cinta pada Karen saat Jane mempunyai rasa yang sama."
"Leace menginginkanmu, Gwen."
"Dwarfs itu jahat."
"Don't you get it, Gwen hahahahahahahahahahaha..."

"Noooo!" pipiku basah.
Aku tersadar. Aku mendengar suara sepatu kuda bergantian menghentakkan dirinya ke tanah kering. Kereta kuda ini berguncang sesaat. Mataku tertutup sebuah kain. Tanganku terikat. Aku mencium bau yang belakangan ini sering kucium. Bau dwarfs.
"Bermimpi buruk, peri bodoh? Ya, kalian memang pantas mendapatkan itu."
"Berhenti mencaci, Chesp. Sekarang ia bagian dari kita." kata Sam.
"Bagian dari kalian? Kau bercanda?" kataku ingin muntah.
"Dengarkan aku Gwen Michelle Keylan, sekarang ini adalah situasi yang tak mungkin bisa kau ubah dengan jentikan jari perimu itu. Kami tak punya pilihan, Gwen. Kau tak punya pilihan." Sam memarahiku untuk pertama kalinya.
Suaranya terdengar seperti kesabarannya terhadapku sudah habis. Tapi ada sepercik hal yang ia sembunyikan dari caranya berkata 'kau tidak punya pilihan'. I do have a chance for choice something. Apa rencananya?

Udara hangat menghampiri pipiku dari jendela. Sepertinya kami memasuki sebuah kampung atau apapun karna suara sayup percakapan keluarga mulai terdengar. Saling melemparkan lelucon saat makan malam, menceritakan hal-hal tak penting saat mereka muda atau sekedar hal konyol di sekolah. Terkadang, aku merasa ada yang mencubit hatiku melihat keluarga utuh dengan leluconnya. Kalau bukan saja ibuku sendiri yang merusaknya, keadaan sekarang tak akan seperti ini. Atau mungkin yang membuatku ibuku saat itu merusak segalanya itu ada kaitannya denganku? Kalau begitu akulah penyebabnya. Kalau saja, Leace tidak bermimpi tentangku pasti hal aneh seperti diculik dwarfs ini takkan terjadi. Di malam yang sama saat pembunuhan itu, Leace bermimpi tentang aku. Leace melihat seorang gadis kecil berlumuran darah menangis ke arahnya dan berkata 'dia semakin mendekat, ia akan mengambil jantungku'. Leace yang berani mengatakan 'aku akan melindungimu, siapa namamu?', gadis kecil itu menjawab sambil tersedu 'Gwen Keylan'.
Kami selalu punya suatu kekuatan khas peri. Leace persis ibunya. Ia Faidreamer, seorang peri yang melihat suatu kejadian yang berlangsung lewat mimpi. Leace bilang itu terkadang tidak mudah, terkadang kau merasa ingin muntah. Muak untuk mengetahui berbagai hal. Leace pun bangun, ia menghampiri ayahnya dan memaksanya untuk datang ke rumah keluarga Keylan, salah satu prajurit terbaik bangsa peri yaitu ayahku.
Yang mulia Brutus atau ayah Leace menggedongku dan memelukku, memerintahkan prajuritnya menangkap ibuku. Aku pun diasuh oleh keluarga kerajaan. Whoa, hal yang bukan seperti yang kau pikirkan. Tekanan dan tekanan dan tekanan yang kau dapat.
Yang mulia Brutus pernah berbicara empat mata denganku saat aku berulangtahun ke-14. Ia bilang 'Leace menginginkanmu'. Akulah orang yang dilihatnya saat ia pertama kali mendapat gelar Faidreamer. Aku harus selalu siap disisinya karna secara tidak langsung berhutang nyawa padanya.
But I prefer to die at that situation.
I prefer die.
Die.

Sepasang tangan mencengkram tanganku berharap aku takkan kabur dan menggiringku ke sebuah rumah. Aku hanya diam semenjak Sam memarahiku. Dan aku tau, Sam merasa bersalah. Ia berbisik kata maaf di telingaku. Entahlah, aku tak tau ada apa dengan Sam. Tapi ia seperti sedang berfikir hal besar dan berusaha untuk disimpan, bahkan terhadap koloninya sendiri. Ia bertingkah kikuk. Ia membuka penutup mataku dan tali di tanganku. Sekarang aku berdiri di depan Sam. Ia memandangiku. Sekarang terlihat jelas ekspresi muka Sam. Ia memang sedang menyembunyikan sesuatu. Sam pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun dan mengunci kamarku.
Aku tak tau ini dimana, tapi ada setumpuk kertas yang menggangguku. Sepertinya ini kamar Sam karna setumpuk kertas itu adalah tulisan pena tentang kabar seorang wanita bernama Jean. Beberapa kali Sam menyehut namanya. Tapi jika ini kamar Sam, mengapa ada meja rias?
Aku duduk di depan meja rias. Sepertinya sudah beberapa minggu tak dibersihkan, aku membuka salah satu laci meja itu dan menemukan sisir. Sudah lama aku tak menyisir rambutku. Aku selalu memberontak jika ada 'penyisiran' rambutku. Kau tau aku tak boleh menyisir rambutku sendiri. Para pelayan kerajaan lah yang melakukannya. Mereka membuatku seperti orang bodoh di karnaval dengan rambut model aku tak tau namanya.
"Jangan sentuh itu!!!" seseorang membuka kunci kamarku dan berteriak. Sepertinya Sam berada di luar pintuku dan mengawasiku entah darimana.

"Jangan pernah berani untuk menyentuh sisir ini." Sam menarik tanganku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar