Rabu, 30 Juli 2014

Those Secrets

"Apa?! Kau ini bercanda!" kataku seusai Sam menceritakan awal ramalan itu.
***

Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang pemuda tampan dari bangsa manusia. Ia adalah ksatria yang tangguh. Ia menjelajah seluruh dunia, sampai ia bertemu 2 orang peri cantik bersaudara di hutan yang tengah tersesat. Ia menghentikan segala impiannya. 2 peri itu bernama Karen dan Jean. Ksatria itu menolong mereka menuju dunia bangsa peri. Mereka sangat berterima kasih, dan bersedia melakukan apa saja untuk ksatria tersebut. Sang ksatria sangat tersanjung, ia jatuh cinta pula. Jatuh cinta pada keindahan dunia bangsa peri. Dan jatuh cinta pada Karen, di saat Jean memendam rasa yang sama juga. Hansen, nama ksatria itu pun menikahi Karen.
***

"Aku seharusnya tidak berbicara dengan kalian! Kalian itu pembohong besar seperti yang dikatakan fairytale bangsa kami!!" kataku.
"Hey, peri bodoh. Sam bahkan belum menceritakan hal terburuknya!" kata peri yang paling kurus.
"Aku tidak akan membantu kalian." kataku berlalu.
Aku ingin tidur. Aku ingin besok pagi melupakan segalanya. Apa Sam itu bercanda? Hansen dan Karen itu ayah dan ibuku. Semoga bukan mereka yang diceritakan di ramalan itu.
***

Malam itu, malam yang hangat di musim panas. Aku tak sabar untuk besok pergi ke sekolah peri untuk pertama kalinya. Ayahku seorang prajurit peri yang tangguh tapi hatinya sungguh lembut. Ia selalu menyempatkan membaca fairytale sebelum aku tidur, termasuk tentang dwarfs. Malam itu aku sudah siap untuk dibacakan fairytale. Tapi aku malah mendengar kegaduhan di kamar ayah dan ibu. Aku tak tau apa yang terjadi. Suara mereka, suara benda-benda pecah, suara barang-barang yang tertimpa badan dan rusak memenuhi kepalaku.
Aku hanya bisa diam.
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menghampiri mereka saat suara-suara itu mulai tenang.
"Ayah... ibu..." suaraku lirih ketakutan.
Apapun yang terjadi, rumahku berantakan sekali.
"Anak manis... anak yang tidak diinginkan!!!" suara ibuku saat melihatku.
Aku hanya bisa diam.
Aku melihat tubuh ayah di atas serpihan lampu tengah dengan luka darah di dada kirinya.
Aku hanya bisa diam.
Wanita keji itu atau bisa kalian sebut ibuku, mulai mendekatiku dengan pisau dapur yang bersimbah darah. Mungkin darah ayahku.
"Kemarilah anak manis...."
"Anak manis, kau akan menjadi segalanya."
"Jantungmu adalah kekuatanku......"
***

Aku terbangun. Lagi-lagi mimpi itu. Berapa kali aku meminta Nenek Moshy untuk menggunakan manta pengunci mimpi, tapi mimpi itu selalu datang. Mimpi saat ibu mencoba mengeluarkan jantung dari rusuk kiriku.
***

"Hai, Gwen." sapa Leace sambil duduk di sebelahku.
"Hai."
"Aku sudah mencoba ke perpustakaan bawah tantah, untuk mencari tau lebih tentang ramalan itu dan ternyata....."
"Sudahlah, Leace itu bukan urusan kita. Lagipula aku yakin bukan kita ksatria istimewa itu." kataku menyanggah.
"Kau benar, lagipula kita ini bukan Cyter Souls." kata Leace tak kalah putus asanya dengan aku.
"Cy... cy... souls?" tanyaku.
"Cyter souls, darah campuran bangsa lain dengan manusia. Yea seperti itu yang kubaca. Siapa peduli, terkadang ramalan salah. Hanya di tangan kita takdir itu ada." Leace menjelaskan.
"Kau akan mendapat masalah kalau kau mengucapkannya di depan ayahmu, Leace." kataku menyenggol rusuknya.
Yang Mulia Brutus Wilder, percaya ramalan. Apa pun yang terjadi kita harus menghormati para leluhur kita.
"Yeaaa, kau tau itu. Kau mau bolos pelajaran selanjutnya?" kata Leace menyendokkan makanan siangnya ke mulutnya.
"Tidak."
"Bagus kalau begitu, aku akan menunjukkan bagaimana aku bisa memanah seperti kau. Kau tahu aku belajar dari minggu lalu!" kata Leace bersemangat.
"Kau akhirnya selalu lebih baik dariku, Leace."
"Aku anggap itu sebagai pujian."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar