Jumat, 11 Juli 2014

Believe

Suara-suara itu menggangguku. Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu menyalakan lilin dengan sihirku. Aku melihat orang-orang mulai keluar mencari tahu.
"Gwen!" bisik Leace, laki-laki itu menyelinap ke kamarku dan mengagetkanku.
"Ada apa ini?" aku menirunya berbisik.
"Entahlah ayahku bilang para prajurit telah menemukan sekumpulan dwarfs jahat." jawabnya.
"Dwarfs?"
"Yea, let's see!" Leace menarik tanganku.
Udara hangat kamarku tergantikan dengan udara dingin tengah malam. Kami mengendap-endap melewati prajurit yang berjaga di The Flass-tempat dimana tahanan diadili- terus mengendap ke depan agar bisa melihatnya lebih jelas. Kami berumur 16 tahun, mereka pasti melarang kami melihatnya. Apa menurutmu kami anak kecil? Kau pasti bercanda.
***

Mulut kami menganga. Ternyata benar.
Dwarfs itu nyata.
Kumpulan orang-orang kerdil tersebut berjumlah 8 orang. Entah karna lumpur-lumpur di wajah mereka atau mereka memang mengerikan, persis seperti di dongeng. Mereka diikat oleh tali dari kulit pohon Mqen yang tak akan bisa dihancurkan apapun, kecuali dengan sihir bangsa kami.

"Lepaskan kami, kalian peri bodoh!" Teriak salah satu dwarf tua berjanggut merah dengan beberapa helai yang putih, matanya hijau. Ia yang paling kerdil.
"Sudahlah, Chesp." Kata salah satu lainnya. Yang ini lebih mirip bangsa manusia, ia tak terlalu kerdil untuk dwarf tapi tetap saja ia seperti dwarf. Matanya biru terang tampak sayu seperti tidak tidur beberapa hari, wajahnya berlumur lumpur yang mengering. Celananya tergores goresan pedang peri. Ia tampak baik-baik saja dan terlihat paling tenang dari yang lainnya. Tapi ia terluka.
"Woy! Kau peri bodoh! Iya, kau!!!" Kata dwarf bernama Chesp itu, "Lepaskan kami! Kami tak bersalah! Kami hanya menumpang untuk lewat! Kenapa kalian menangkap kami?! Dasar peri bodoh!!!" Lanjutnya.
"Yaaa... yaa!!! Dasar peri bodoh! Bangsa peri memang bodoh!" Teriak dwarfs lain.
"Pertanyaannya adalah...." seseorang muncul memasuki The Flass. Itu Ayah Leace. Yang Mulia Brutus Wilder, pemimpin bangsa peri. "....untuk apa kalian melewati tanah kami?" Kata Brutus dengan mata menyelidik.
"Kami hanya...... hmm..... kami hanya...." kata dwarf berkacamata.
"Hanya mengagumi keindahan tanahmu...." sela dwarf yang paling kurus.
"Baiklah.... baik. Kami mengaku.... kami sangat membutuhkan bantuan kalian." kata Chesp.
"Ini semua tentang Jean!" Kata kurcaci lain.
"Rupanya.... ramalan itu benar." Kata Brutus menghela napas.
***

Ramalan?
"Kau tau tentang ramalan itu, Leace?" Tanyaku penasaran, biasanya Leace paling tau segalanya.
"Yea, suatu hari wizard bernama Jean itu akan menghabisi kita satu persatu. Dan akan dilahirkanlah dua ksatria hebat yang mampu mengalahkannya, mereka istimewa." Jelas Leace.
"Kau tau itu siapa? Maksudku para ksatria itu? Apa mereka benar-benar nyata?" Tanyaku.
"Hei anak kecil! Mengapa kalian ada disini?" Teriak salah satu prajurit.
"Ayo!" Kataku pada Leace meningglakan The Flass. Kurasa sudah cukup melihat dwarfs secara langsung dan mendengar percakapan mereka. Tapi aku masih penasaran dengan ramalan itu. Leace terengah-engah.
"Kau lari cepat sekali. Dan Gwen, untuk pertanyaan tadi.... hanya itu yang kutau." Kata Leace.
"Uh..." kataku kecewa.
"Tapi, kita adalah ksatria hebat! Kau tau, nilai kita kan selalu paling tinggi. Walaupun kau selalu di urutan pertama dan aku kedua, tapi aku yakin kita adalah ksatria itu. Karna kita istimewa..." kata Leace tersenyum padaku. Ia memiliki senyum ibunya, matanya juga.
"Jangan bicara omong kosong itu padaku, Leace. Aku tidak istimewa. Aku akan kembali ke kamarku. Bye." Kataku.
"Baiklah, bye. Mimipikan aku, Gwen!" Kata Leace berlalu.
***

Kau tau. Aku tak mungkin langsung tidur dan melupakan apa yang barusan terjadi. Tentang alasan dwarfs itu, Jean dan ramalan membuatku ingin segera ke perpustakaan. Ada 2 perpustakaan di sini. Yang satu adalah dua lantai di atas The Flass dan yang lainnya adalah perpustakaan bawah tanah di bawah penjara. Aku meraih buku dan penaku di kamar untuk mencatat apapun yang akan aku ketahui.

Aku memutuskan ke perpustakaan bawah tanah.

Perpustakaan ini dijaga oleh Kakek Hopged, salah satu peri yang paling tua disini. Entahlah, aku lebih suka kesini. Ada hal yang kusuka di tempat ini untuk membaca walaupun aku harus melewati tahanan peri yang terkurung di penjaranya. Mungkin tentang ramalan itu pula, aku akan mendapatkannya disini.
"Psssssttt....." seseorang berusaha menarik perhatianku.
Ini sudah biasa ketika aku lewat sini. Biasanya yang melakukannya adalah Leace yang selalu muncul tiba-tiba atau Karen, wanita gila yang dihukum di penjara karna membunuh suaminya dan mencoba membunuh anaknya atau lebih tepatnya hampir membunuhku. Tapi kudengar ia sudah kabur 2 hari lalu, entah bagaimana caranya. Who cares. Jika dia mau menyusun rencana yang dulu gagal untuk membunuhku, aku sudah siap. Aku bukan anak 4 tahun lagi yang akan menangis bila melihat pisau dapur, aku anak 16 tahun yang sudah mahir memainkan pedang peri.

"Leace?" tanyaku melayangkan pandanganku sejauh yang kubisa dengan hanya bantuan cahaya remang-remang penjara.
"Hah? Siapa sialan Leace itu? Aku di sebelahmu." kini suara lelaki seumuranku terdengar dari telinga kananku sangat jelas.
Aku menoleh ke kerangkeng penjara di sebelah kananku. Sesosok yang lebih pendek 4 cm itu sedang memainkan batu hitam di genggamannya. Ia dwarf.
"Apa?" kataku sinis.
"Woah, tunggu. Apa ia terlihat ketakutan, Sam?" tanya suara yang kukenal, itu pasti Chesp dwarf berjanggut merah tadi.
"Apa kau tak takut pada kami? Peri-peri bodoh yang membuat fairytale tentang dwarfs yang kejam, kau ingat?" kata dwarf yang memakai kacamata, aku bisa melihat kilauan kacamatanya yang terpantul dari cahaya lampu disampingnya. Ia di seberang penjara dwarf yang memanggilku.
"Sayangnya, aku tidak percaya itu." kataku yakin.
"Kalau begitu kau bisa membantu kami. Kenalkan namaku Sam. Samuel Riordan. Kuharap kita tak berjabat tangan di penjara, tapi ini yang terjadi" katanya menjulurkan tangan dari sela-sela jeruji kayu dari Pohon Mqen itu.
"Siapa peduli." kataku berlalu.
"Sudah kubilang tak akan berguna. Jean takkan bisa dihentikan." gumam salah satu kurcaci.
"Tamatlah riwayat kita." gumam yang lain.
Bodoh. Kenapa aku tak menanyakan semua pertanyaan di kepalaku pada mereka. Kau bodoh, Gwen.

"Tunggu... apa yang kalian ketahui tentang Jean? Kalian pasti tau kan tentang ramalan itu?" tanyaku berbalik dan mulai menatap Sam. Mata birunya terlihat penuh harapan.



Wait for another part

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar