Selasa, 21 Juli 2015

Bukan

Bukan, sungguh bukan. Aku berbisik lagi. Bukan. Aku mengulanginya dengan lambat. Aku bukan tak bersyukur atas nikmat-Nya. Jelas, teman-temanku saja menelan ludahnya saat ku beritahu semua ini. Mereka berdecak kagum, walau tak banyak juga yang bak kupu-kupu minum nektar pahit. Aku kegilaan tak membaca koran beberapa hari ini, begitu datang, redaksi menampilkan berita-berita aneh kekejar deadline libur Hari Raya. Kemana lagiaku harus melarikan diri? Aku membetulkan kacamataku--bukan untuk pertama kalinya--yang sebenarnya tidak merosot sama sekali. Aku harus melarikan diri. Bukan. Aku sudah mengadu pada-Nya, sungguh. Hatiku bukan tak tenang. Aku tak punya daftar tempat yang kutuju, aku tak punya apapun untuk menjadi orang-orang itu. Aku harus melarikan diri. Aku menolak mendengar semua yang dikatakan orang-orang dewasa. Bukan. Bukan tak ingin menjadi mereka. Tapi aku ingin melarikan diri. Bukan. Bukan dari kenyataan. Sungguh, aku sudah tak khawatir tentang apa yang akan menimpaku. Aku sudah berserah diri. Hanya belum ada teriakkan di lorong goa itu. Beri aku komando. Beri akujeritan. Aku sudah melakukan apa yang kusuka. Aku ingin melarikan diri. Aku tak ingin mengundang cobaan. Tapi aku suka menjamu tantangan. Aku ingin melarikan diri. Aku ingin membuka mataku terus, menatap layar menertawakan angan. Aku ingin tidur, menatap dunia berlalu-lalang. Bukan. Bukan itu yang kumau sekarang. Aku ingin yang dulu. Bukan hantu-hantu yang mengisi buku tamu. Rumahku benar-benar war zone. Aku tak tau kalau saudaraku telah berubah banyak. Dan percayalah itu tak bagus. Semua orang berteriak sama seperti saat aku 4 tahun. Mereka benar-benar masih sangat bagus untuk saat-saat seperti ini. Bukan. Aku bukan mencaci. Itu tak akan masuk pada kamusmu setelah kau mengalahkan otak besarmu itu. Bukan. Lagu yang kau download secara tidak sengaja itu bukan menyindirku. Aku sering disindir. Tapi lagu itu memang diciptakan untuk merangkai keterwujudan sebuah kenyataan. Bukan. Kau salah. Aku justru kegirangan. Gay in a melancholy way. Kau salah lagi. Kau hanya pura-pura mengerti meski kau benar-benar mengerti. Aku hanya ingin melarikan diri. Bukan. Bukan yang hiruk pikuk, penuh hinar binar, terang benderang. Yang monoton. Aku lebih menyukainya. Kau tau insurgent? Ya, aku suka itu. Bukan. Aku tidak suka membuat orang menderita. Life is a battle. Liriknya membertitahuku. Bukan. Kau bukan ingin mengetahuinya secara gamblang. Kau hanya ingin menjawab pertanyaanmu. Bukan. Aku bukan mengeluh. Mengeluh pada dinding seperti kaum lain lakukan agar tenteram. Bukan. Hatiku hanya sedang berbohong. Bukan. Sebagian. Karna sebagian lagi sedang memberontak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar