Sabtu, 17 November 2012

Antagonist Part 2



Hola para pecinta Twilight!!! *loh? Iya bener. Breaking Dawn Part 2 udah keluar *ribut*. Terus apa hubungannya tik? Yaiya ada hubungannya, gua kan udah janji posting Antagonist Part 2 tepat film ini keluar di Indonesia. Cielah gaya bener. Udahan ah ngalaynya.


DIARY WENDY
Kamis malam, 11 Februari 1995
Dear my diary, hari ini aku dan Jeremy merencanakan sesuatu. Suatu rencana yang menurutku sedikit gila. Dan memang GILA! Kudengar dari Jeremy, Jane ingin menukar cream wajahku dengan poison agar mukaku berantakan saat pesta nanti. Hhh… Jane selalu tak bosan menjailiku. Ini adalah awal rencana kami yang sebelumnya dipancing dengan suara aneh Jeremy. Yap aneh, hihi.
Aku disuruh tidur lebih cepat malam ini, padahal aku ingin sekali pergi ke UnEvidentLand untuk ke sekian kalinya. Tapi apa boleh buat. Kau tau, saat Jane terjatuh karna Jeremy menyandung kakinya, itu saat paling lucu yang pernah aku lihat. Tapi aku harus menahan tawaku. Aku harus terlihat polos dan tak tau apapun. Aku menyalakan lampu dan,
“Siapa itu? Jane? Kau kah?” tanyaku pada Jane.
“Jane? Kenapa kau ini?” tanya mama yang membuatku ingin tertawa.
 “Hhh… syukurlah itu hanya Jane yang terjatuh. Ayah kira ada orang jahat yang mau menculik Wendy,” kata ayah menyusul mama.
“Ada apa Jane?” tanyaku pura-pura tak tau apapun.
“Eh… a.. aku ha-nyaa…” jawabnya terbata-bata.
“Itu apa di tanganmu? Itu kan cream wajahku,” kataku.
“Oiya, aku ke kamarmu karna ingin meminta cream wajahmu sedikit. Punyaku habis. Bolehkah aku ambil? Kau kan masih ada,” katanya cerdik.
“Tapi bukankah creamku tidak cocok dengan kulit mukamu,” kataku menyelidik.
“Hmm… sepertinya aku mulai cocok dengan creammu. Bolehkah? Kan punyamu masih banyak,”
“Oh silahkan saja, aku tak keberatan,” anggukku.
“Baiklah, ayo tidur kembali. Besok ayah harus ke Balai kota,” ajak ayah.
“Selamat malam, ayah, mama,” kataku sambil menguap.

Jumat, 12 Februari 1995
Hari ini mungkin hari terakhir Jane ada disini, karna this the plan…
Aku dan Jeremy ingin membuat Jane senang dalam artian kami memberinya pelajaran. Kami akan bawa ia ke sebuah tempat…
“Tuh kan, Jane. Kau tak cocok dengan creamku,” kataku in acting.
“Hah? Aku tak mengerti,” tanya Jane heran.
“Jane, mukamu kenapa? Kenapa merah-merah begitu?” tanya mama.
Jane berlari ke kamarnya and this is when Jeremy in actions!
“Jelas saja mukamu merah, aku yang menukarnya saat kau jatuh hahahaha….”
“Siapa itu? hey kau pengecut! Tampakkan dirimu. Jangan hanya menertawaiku dari belakang!” teriak Jane.
“Apa kau yakin ingin melihatku?”
“Memang tampangmu seperti apa? Aku tak takut apapun!” Jane mulai terlihat marah.

Setelah ayah pergi ke balai kota beserta mama ke salon, ini saat paling menakutkan. Aku selalu takut jika di rumah hanya ada aku dan Jane. Rasanya aku ingin kabur. Untung ada Jeremy yang selalu menemaniku.
 “Wendy! Mukaku kenapa?! Pasti kau yang membuatku begini!” bentak Jane marah.
“Mana kutahu, Jane. Kau sendiri yang meminta creamku,” kataku takut.
“Apa kau tak punya teman lain untuk menjailiku?” tanya Jane
“Hmm… ti… ti..dak,” jawabku terbata-bata.
“Lantas siapa yang membuat mukaku begini?! Bagaimana aku bisa percaya diri di pesta nanti?”
“Aku yang menjailimu, memangnya kenapa? Aku hanya membantu Wendy!” kata Jeremy yang mungkin mengetahuiku kehabisan kata-kata.
“Jeremy?! Sssstt…” bisikku, ia sudah melenceng dari rencana.
“Tenanglah, aku hanya ingin membereskannya,” bisik Jeremy meyakinkanku.
“Oh! Jadi ini yang selama ini kudengar. Siapa kau?! Teman Wendy? Darimana kau masuk?!” bentak Jane.
“Kau tak perlu tau siapa aku. Aku kesini hanya ingin membuatmu sadar! Kau tak perlu menjadi jahat pada Wendy, jika kau ingin mendapat segalanya,” Jeremy membocorkan rencananya.
“Tau apa kau tentang aku?! Kau tak tau Wendy telah merebut segalanya dariku, kadang aku bingung apa aku si peran antagonis atau dia?!” bentak Jane semakin marah.
“Hmm… orang yang menarik,” kata Jeremy melirik ke arahku yang berarti saatnya pergi.
*night*
Saat yang menegangkan. Kami harus membuat Jane terperangkap ke rencana kami. Kau tau, tak mudah membodohi seorang Jane. Tapi kami berhasil!
Kami akan bawa Jane ke tempat bibi Lily, seolah-olah Jane Turner telah tertukar. Bibi Lily setuju! Tapi ada satu masalah, seseorang mengetahui rencana ini kata Jeremy. Setelah kami melihat tingkahnya, sepertinya ia mengerti.

Minggu, 14 Februari 1995
Melihat tak ada kendala apapun, kami melanjutkan rencana kami. Hari ini Jeremy menyuruhku membuat mulut jane menganga! Aku akan berperan sebagai ‘Princess’ but she’s so arrogant. Sebenarnya ini bagian tersulit membalikkan keadaan dari protagonist menjadi antagonist.
“Hey pembersih kandang kuda yang jorok! Minggir kau, aku ingin mengambil kuda kesayanganku,” kataku sedikit kaku ke hadapan Jane.
“We… Wen.. dy?! Darimana saja kau?! Oh, jadi disini kau bersembunyi dariku dan mama?!” kata Jane mungkin heran. Aku yakin, ia pasti bingung.
“Hey gadis gila! Apa kau tak diajarkan sopan santun?!” kataku seperti yang diajarkan Jeremy.
“Maaf, Putri Wendy. Akhir-akhir ini ia memang sedikit aneh. Silahkan tuan putri mengambil kudamu,” kata seseorang di sebelah Jane, aku yakin ia yang mengetahui rencana ini.
“Putri? Hey si Wendy ini hanya anak pembawa sial di keluargaku!” kata Jane tak mau kalah.
“Jane!” kata Will tegas. “Beliau putri di negri ini, apa kau lupa?!” bisik Will bersahabat. Aku heran, mengapa ia malah mendukung rencana ini.
“Hmm.. oke putri Wendy HOAX, silahkan!” kata Jane kesal
“Oke, selamat tinggal gadis kotor!” kataku sedikit ketus.

Rabu, 17 Oktober 1995
Sejauh ini rencana kami gagal. Semua hampir keluar dari apa yang kami susun. William Nilsson. That’s his name. Dia di penjara sekarang. Awalnya, ia memang senada dengan rencana kami. Tapi, ia membawa Jane ke cafĂ© dan berkenalan dengan prince. Sebenarnya tak masalah. Tapi, Will membuatnya semakin rumit. Semenjak itu, kami jadi sulit menemuinya. Seharusnya, Jane tetap bekerja di kandang kuda. Namun, namanya makin terkenal sebagai ‘Espressologist’. Apalagi ia bertemu dengan Jason dan semakin menggila. Argh… gagal. Terpaksa, kami harus membawa Jane kembali ke London. Untung di UnEvidentLand adalah daerah tak kenal waktu, maksudnya selama apapun kami disini, di dunia nyata hanya berkisar waktu satu detik.
Kami mengembalikan Jane tepat di saat, ia jatuh………

Kamis, 11 Februari 1995
Why? Aku kembali? Yes, I back!!!!! Tapi dimana aku?
“Siapa itu? Jane? Kau kah?” tanya Wendy.
“We--- Wendy?!” tanyaku heran.
“Ya, aku Wendy. Ada apa denganmu? Mengapa kau ada di kamarku?” tanya Wendy lagi.
“Hhh… syukurlah itu hanya Jane yang terjatuh. Ayah kira ada orang jahat yang mau menculik Wendy,” kata ayah di pintu kamar wendy.
Aku masih bingung. Aku tak mengucapkan sepatah kata pun. Aku masih heran. Apa itu mimpi?
“Itu apa di tanganmu? Itu kan cream wajahku,” kata Wendy.
“Di tanganku? Apa ini?” kataku sambil melihat ke tanganku sendiri. Aku bingung mengapa cream wajah Wendy ada di tanganku.
“Jane, kau ini kenapa? Mungkin kau sedang tidur dan bermimpi hingga akhirnya terjatuh di sini. Sudahlah kembali ke kamarmu dan tidur. Besok, ayah harus ke Balai Kota,” ajak ayah.
“Tunggu dulu, ayah. Wendy, ini cream wajahmu,” kataku melempar cream wajah Wendy.

*at my bedroom*
Mimpi macam apa ini? Aneh sekali. Kepalaku masih sedikit pusing untuk mengingat apa yang terjadi. Tunggu dulu……… seharusnya aku menukar cream wajah Wendy! Ya! Aku ingat! Dan aku ada di…. Uh… emm… Un… Un… UnEvidentLand. Mimpi? Khayalan? Imajinasi? Tapi ini terlalu terlihat nyata. Sulit dipercaya. Will, Carl, Nastly, Vially, Jason…… *pingsan*

Jumat, 12 Februari 1995
Kepalaku pusing sekali. Dengan berat aku berjalan dan melihat ayah,
“Ayah pergi dulu, siap-siap untuk hari spesial kalian!” kata ayah berpamitan.
“Dah ayaaaah,” kata Wendy.
“Jane, apa kau ikut mama ke salon?” kata mama.
“Salon? Uh sepertinya tidak, aku sedang tak enak badan ma, kepalaku sedikit pusing,” kataku menolak.
“Yasudah, mama berangkat yaaaa,” pamit mama.
“Ya, bye,” kataku tak bersemangat.
Damn. Ada apa ini? Kenapa aku ini?
“Wendyyyyy! Wendyyyyy!” teriakku memanggil Wendy ke taman.
“Ada apa Jane?” tanya Wendy.
“Baiklah, Wendy. Sekarang ceritakan kepadaku apa yang terjadi padaku? Aku terlalu pusing untuk mengingatnya,” kataku menyelidik.
“Mengapa kau tanyakan padaku? aKu tak tau apapun,” kata Wendy polos.
“Dengar, Wendy. Aku bermimpi tentang UnEvidentLand. Dunia aneh dimana aku bertemu dengan orang-orang aneh dan kau menjadi putrinya….” kataku konyol.
“Itukan mimpimu, mengapa kau tanyakan padaku,” kata Wendy meninggalkanku.
“Tunggu, Wendy!” kataku mengejar. “Aku tau, kau pasti menyembunyikan sesuatu,”
“Sesuatu? Apa itu?” tanya Wendy balik.
“Entahlah, tapi jangan coba-coba membohongiku. Mimpiku benar-benar terlihat nyata walaupun itu tak mungkin,” kataku.
“Kau gila, Jane!” kata Wendy.

Senin, 15 Februari 1997
“HAPPY BIRTHDAY TO YOU… HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY OUR ANGELS…” semua bernyanyi.
“Happy sweet seventeen, Wendy dan Jane!” kata ayah dan mama berbarengan.
17 tahun, umur yang sempurna untuk bersenang-senang, terkecuali aku. Entahlah, semenjak pengalaman aneh itu terjadi, aku selalu memikirkannya. Masih ada tanda tanya besar di kepalaku.
“K… let blow that, Jane. Sebelum kuemu basi,” kata Grace, temanku yang menyadariku sedang melamun.
“Mmmmh… fyuuuuh..” kataku meniupnya tak bersemangat.
“Yeeeeeaaah… what’s your wishin’ tanya teman-temanku.
“Nothin’ kataku singkat.
“Jane?! That’s your special day! Masa kau tak meminta apapun?” protes Pricil.
“Sudahlah, kalian cicipi saja makanannya,” kataku meninggalkan kerumunan teman-temanku.

*setelah acara membosankan berlalu*
“Jane… hey Jane…” panggil Wendy pelan di kamarku.
“Ada apa bocah aneh?” kataku memelas.
“Ini saatnya kujawab semua pertanyaanmu 2 tahun yang lalu,” kata Wendy masih sedikit berbisik.
“Pergilah. Aku tak perlu jawaban itu,” usirku.
“Ta… tapi dengan Will….”
“Who cares. I don’t know that person. That’s just my imagination…”
“No, Jane. It isn’t your imagination, dream or whatever that. UnEvidentLand itu ada, Jane. Percayalah,” kata Wendy meyakinkanku.
“Aku tak punya waktu untuk urusan itu, Wendy,” kataku.
“Lihat, Jane!” kata Wendy menunjukkan selebaran kertas……

Sabtu, 13 Februari 1995
Aku memang tak salah lagi. Aku memang mendengar semuanya. Ini rencana aneh yang pernah kudengar, tepatnya kudengar secara diam-diam. Hari ini aku ingin bertemu dengan orang bernama Jane itu.
“Hai, Jane! Bagaimana pagi ini?” sapaku sehingga terlihat akrab dengan Jane.
“Hmm pagiku aneh. Kau siapa?” tanya Jane yang mungkin kebingungan.
“Leluconmu tak lucu, jadi pagi ini kau pura-pura tak mengenalku,” kataku akrab.
“Tapi aku benar-benar tak mengenalmu, lelaki berkuda aneh,” kata Jane ketus. Sangat ketus.
“Baiklah, nona Jane Turner. Perkenalkan namaku Will. William Nilsson. Ayo cepat, kita hampir terlambat,” kataku mensiasatinya agar tak bingung.
Saat berada di kudaku. Ia seperti memikirkan sesuatu. Sesuatu yang janggal pastinya. Aku tak tau apa untungnya melaksanakan rencana ini bagiku. Ini benar-benar membuatku bingung.
“Okay, Will. Kau pasti tau seluk beluk tempat ini. Coba ceritakan padaku semua yang kau ketahui. Terutama tentang Wendy,” tiba-tiba Jane bertanya.
“Kau ini bertanya seperti kau baru menginjakkan kaki di tempat ini” kataku sambil tertawa.
“Memang. Aku kesini mengikuti saudaraku, Wendy,” sekarang ia benar-benar serius.
“Sekarang aku mulai takut, kau mengaku-ngaku saudara Putri Wendy? Amazing!” kataku sambil tertawa lebih keras untuk mengelabuinya.
“Serius, Will. Aku tersesat disini. Aku tak tau ini tempat apa.”
“Hmm leluconmu hari ini takkan bisa mengelabuiku nona. Ayo turun kita sudah sampai.”
“What? Tempat apa ini? gedung tua apa ini?”
“Ini sekolahmu, bodoh!” kataku sambil mencubit hidungnya.
“Aw dimana kelasku?”
“Kita sekelas, nona Turner-_-“ kataku sambil menarik tangan Jane.
“Oh sial,” kata Jane pelan, aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
Seperti rencana Wendy dan Jeremy, aku harus bertingkah seolah-olah Jane memang berasal dari sini.

Minggu, 14 Februari 1995
Setelah aku menjemput Jane ke kandang kuda kerajaan, kau tau ia melakukan apa? Sebenarnya itu wajar ia lakukan terhadap saudaranya. Setelah pertengakaran antar kedua saudara tiri itu, (aku pun bingung ternyata putri Wendy bisa sekejam itu) aku mengajak Jane pulang. Sepertinya dua hari yang stress bagi Jane yang berada di dunia yang baru dikunjunginya. Aku hanya mengajaknya terbang and I think I’m in love. She’s kinda cute. Ia terlihat bodoh, but I like it.

Selasa, 16 Februari 1995
Ini hari yang menyakitkan. Kemarin, aku merayakan ulangtahun Jane. Tapi, baru saja aku senang, ia sudah ingin pulang. Apalagi hari ini, ia mungkin tak melihatku yang sedang memerhatikannya bertemu dengan Prince Vially. Sebenarnya aku tak punya hak apapun untuk melarangnya.

Rabu, 17 Februari 1995
Sebenarnya aku tak harus menulisnya disini, ini hanya akan mengingatkanku dengan hal-hal yang tak mungkin terjadi. Hari ini aku melihat Jane sedikit murung. Ia tak suka jika ia ke pesta Prince Vially memakai baju pirate. Aku ingat ibuku pernah menyimpan gaun indah. Ya.. sedikit menghiburnya walaupun ia sama sekali tak mengajakku atau menanyakan perasaanku.

Jumat, 19 Februari 1995
Saat paling membuat mataku terbakar.
Di pesta itu, Jane berdansa dengan Prince Vially. Mereka cocok sekali. Tapi entahlah, Putri Wendy langsung merebut Vially dari Jane. Ia juga melirik ke arahku. Aku tau, Putri Wendy pasti tau segalanya. Aku menghampiri Jane dan mulai melempar candaan kecil. Tapi, ia memang benar-benar kecewa.
Di treehouse, aku benar-benar tak tau mengapa aku marah saat Jane tau perasaanku. Aku hanya takut. Takut karna jika aku mengakuinya, aku akan kehilangan Jane karna pasti rencana Jeremy dan Wendy akan berantakan.

Rabu, 17 Oktober 1995
Aku tau Jane akan pulang hari ini. Aku telah mencoba memberitahukan apa yang dibingungkannya. Tapi NIHIL. Ia selalu tak mendengarkanku. Aku benar-benar pasrah. Di penjara ini, aku hanya menulis di selembaran kertas ini. Aku disini karna aku telah ikut campur terlalu jauh dalam rencana ini. Harapanku hanya satu, semoga aku bertemu dengan Jane lagi suatu saat nanti. Aku harap Jane membaca ini.

“What?! Jadi selama ini kau mengerjaiku?! Aku kira kau protagonist, Wendy. Teganya kau masukkan Will ke penjara!” bentakku.
“Well, tenanglah Jane. Will sudah keluar setelah kau kembali,”
“Lalu dimana Will?”
“Di tempat itu, Jane. UnEvidentLand. Aku akan mengajakmu sekali lagi, jangan sia-siakan, Jane. Umurmu sudah bulat 17tahun, itu artinya hanya sebentar lagi waktumu untuk ke UnEvidentLand,” kata anak lelaki yang benar-benar aku tau wajahnya! Jeremy!
“K… whatever,” kataku pasrah.
“Look at my eye’s deeply!” suruh Jeremy.

Selasa, 16 Februari 1997
“Morning, Jane!” sapa seorang di kamar tidurku.
“Si-siapa kau?! Dimana aku?!” tanyaku heran.
“Kau lupa padaku, nona Turner?” tanyanya.
“Will… kau Will?” tanyaku nyaris tak percaya.
“That’s right! How are you, Jane? You’re grow so fast,” kata Will.
“Apa aku di UnEvidentLand?” tanyaku meyakinkan lagi.
“Dasar gadis bodoh, menurutmu?”
“Oh, Will maafkan aku,” kataku memeluk Will.
“Hey, for what?” tanya Will heran.
“Aku membaca semuanya, Will. Kau berusaha memberitahuku tapi tak berhasil, aku selalu mengacuhkanmu, aku tak mengerti perasaanmu, betapa bodohnya aku, tapi kau suka aku karna aku bodoh kan………... woops…… maaf Will,” kataku tanpa jeda.
“Bodoh,”
“Uh, please don’t be angry,” kataku menatap Will.
“Siapa yang marah, aku menyerah. Kau tau segalanya, kau memang cerdik!” kata Will mengangkat tangannya.
“Aku rindu treehouse,” kataku melihat keluar.
“Kau harus ke Universitas, Jane…” kata Will.
“Ergh-_- baiklah,”
*Miraculous*
“Hey! Apa kau tak punya mata?! Bukuku jatuh semua!” omel seorang wanita yang kutabrak. Aku kenal persis nada bicaranya…. Nastly. Ia bersama lelaki. You know, Vially.
“Jika tanganmu buntung, aku akan ambil. Kau masih punya tangan, kan?” kataku ketus.
“Kau ini tak tau malu! Jelas-jelas kau yang menabrakku……”
“Stop, aku buru-buru,” kataku meninggalkan Nastly dan Vially.
“Waittttttt!” kata Vially menarik tanganku.
“Oh maaf tuan, aku menjatuhkan buku pacarmu. Tapi aku sedang buru-buru, jadi apa kau bisa menolongku untuk membereskan bukunya?” kataku pada Vially.
“Kau barista itu kan? Sudah lama aku tak melihatmu lagi,” kata Vially mengenaliku.
“Maaf….” kataku meninggalkan Vially, tapi aku benar-benar buru-buru….
BRUKKKKK… shit, nabrak lagi-_-
“Well, sudah berapa orang yang kau tabrak?” kata seorang lelaki yang kutabrak.
“Maaf, aku sedang buru-buru…” teriakku.

*treehouse*
“Jane, kita punya undangan pesta,” kata Wendy menunjukkan sebuah undangan ulangtahun.
“Nastly?!” kataku kaget.
“Yes, she’s on sweet seventeen,” kata Will menambahkan.
“Tapi mengapa aku juga diundang?” kataku heran.
“Semua mahasiswa Miraculous diundang,” kata Wendy
“Baiklah, aku mulai benci acara ini dan tempat ini-_-“ kataku.
“Ayolah, Jane. Just have fun,” kata Wendy.
“Whatever, Must I wear pirate’s? And Wendy be a princess? Ergh,” kataku membaringkan badanku ke kasur.
“Tak perlu, Jane! Karna malam ini kau akan menjadi The Real Cinderella!” kata Wendy misterius.
“Auch… apa aku harus menjadi pembantu terlebih dulu, dimarahi saudara tiriku dan…..”
“TARAAAAAA!” tunjuk Will dengan gaun indah di tangannya.
“Dan……. ini indah sekali<3” kataku.
“Kau tak perlu dimarahi atau apapun, karna jauh di dalam hati kecilmu kau baik sekali, karna setiap manusia diciptakan suci tinggal mereka pilih….” Kata Wendy kupotong.
“Antagonist or protagonist, I know that. Kau terlalu mengguruiku, Wendy. Makanya aku benci protagonist,” kataku.
“Ahaaa… so try that, Jane. You must be so beautiful,” kata Will menyerahkan gaun berwarna merah marun dan gold.

*Echanter’s Party…. Whoops Nastly’s Party*
“Hey, bukannya kau yang menabrakku tadi?!” bentak Nastly.
“So that’s big problem for you?” kataku ketus.
“Yeah, kau benar-benar tak tau malu. Tunggu sampai aku membuatmu malu, dime girl!”
“Silahkan, nona. Sesukamu,” kataku meninggalkannya.

Seseorang melihatku dari pertengkaranku dengan Nastly. Tepatnya lelaki. Siapa? Ia terus melirikku.
“Jadi kau juga yang menabrakku dan menabrak Nastly, bukan begitu?” kata lelaki itu mendekatiku.
“Excusme…. Apa aku mengenalmu?” kataku mengerutkan dahiku. I know that person…
 “Kau lupa?!” katanya tak terima.
“Calm down, dude. I remember you… emm… Jason!” kataku tersenyum.
“Aku kira kau tak ingat, kita pernah tidur sekamar….” kata Jason.
“Hey-_- Dan kau sibodoh yang takut karna aku akan bilang pada Vially tentang sore itu. Sungguh bodoh, mana mungkin Vially percaya begitu saja omonganku. Jelas-jelas aku tak punya bukti, sang antagonist bodoh!” ejekku.
“Kau perlu kuberi pelajaran, Jane. Ikut aku….”
Kau tau ini yang kutakutkan. Terbang tinggi…. tinggi… tinggi… cepat….
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!
“Jason, kau membuatku pusing,” kataku memegang kepalaku setelah mendarat.
“Jadi, kau takut ketinggian?! Payah,” ejek Jason.
“Sungguh, Jason. Aku tak kuat. Aku benar-benar takut dan pusing. Sepertinya aku akan ping…….” *pingsan*.
“Jane… Jane… Hello… Kau tak apa? Bangun Jane….” kata Jason panik.
“Jane…. bangun Jane!!!!!” kata Jason bertambah panik.
“Jane! Jane! Ayolah sekarang kau membuatku takut,” kata Jason mengangkat tubuhku.
“Boo!! Kau tertipu, Jason!!!!!!!!” kataku tertawa puas.
“Sial-_-“
“Aww… sakit,” kataku karna Jason menjatuhkan tubuhku-_-
“Maaf,”
**
“Rupanya kau ada disini, barista tak tau diri. Jane Turner. Nama yang bagus, akan lebih bagus jika aku jatuhkan kau ke kolam……” kata Nastly mendorongku ke kolam. BYAAAARRRR.!!!
Ah tidak. Sebenarnya aku bisa berenang tapi gaun ini terlalu berat… berat dan berat… Aku tak kuat lagi. Gaun ini seperti menarikku terus ke dasar kolam. Dan gaun ini terus mencekik dadaku, aku tak bisa bernafas, gaun ini mengecil terkena air. Ergh… but who’s that?!
“Bodoh…” katanya dalam air *ping-san*
**
“Kau keterlaluan, Nastly!” bentak suara itu…. Vially.
“Tapi Vially, dia yang mulai…….” Nastly membela dirinya.
“Stop! You’re like a child!” kata Vially.
“Bangun, Jane…” bisik seseorang di telingaku…. Will.
“Ada apa ini?” tanyaku heran.
“Kau tenggelam. Astaga bibirmu biru sekali,” kata Wendy panik.
“Tenang, Wendy aku tak apa,” kataku lemas.
“Saatnya kau minta maaf, Nastly…” kata Vially menunggu.
“Tapi, Vially. Dia yang harus minta maaf…” kata Nastly kesal.
“Aku tak mau tau,” kata Vially.
“Baiklah, aku minta maaf. Awas kau,” bisik Nastly mengancam dan pergi.
“Ini handukmu, Jane,” Will menyerahkan handuk padaku.
“Jika Vially tak basah… Will tak basah… Lalu siapa yang menyelamatkanku?” tanyaku heran.
“Umm….” kata Wendy.
“Tunggu, Jane….” kata Will melihatku pergi.
**
“Jadi kau yang menyelamatkanku?” kataku tak percaya menemukan Jason tengah kedinginan di kursi tengah taman.
“Apa itu penting?” kata Jason datar.
“Ta.. tapi mengapa kau menyelamatkanku?” tanyaku.
“Kau ini bodoh sekali. Mana mungkin aku membiarkan seorang gadis tengah tenggelam karna tak bisa berenang,” kata Jason.
“Hey-_- aku bisa berenang. Hanya saja gaunku terlalu berat,”
“Mana gaunmu?” tanya Jason.

HAH?!

“Tenang saja, roknya sudah kucopot. Memang terlalu berat untuk gadis lemah sepertimu,” kata Jason meremehkanku.
“Lemah?!”
“Jelas saja, kau takut ketinggian,” kata Jason memancingku.
“Kau ini-_- Hhh… baiklah aku hanya ingin mengucapkan terimakasih. Itu saja, bye,” kataku pamit.
“Tunggu……” Jason menarik tanganku.
“Ada a—Oh God tanganmu dingin sekali…”
“Just a gratitude? Temani aku,” kata Jason.
“Baiklah, pakai handukku,”
“Tak usah,” katanya.
“Kau bisa mati kedinginan, bodoh,” kataku melemparkan handukku dan duduk di sebelahnya.

Rabu, 17 Februari 1997
“Aku tak mau tau, Jeremy….. aku ingin pulang. Aku benci disini,” kataku pada Jeremy.
“Hmmm…… baiklah,”



Senin, 14 June 1997
Morning! Saatnya Jane Turner ganti diary. So, welcome to new life! Hari ini adalah hari pertamaku di universitas. DUNIA NYATA!!!!! NOT MIRACULOUS!  Haha.
Well, aku dan Wendy sudah tak bersama lagi. Yay! Now I’m at London and she’s on Paris. Honestly, I wanna in Paris too but it will be boring with Wendy. Ooops.

Hariku lebih tenang dibanding masa itu. I have a lot of friends on this planet and I have boyfriend J His name’s Zaq. I love my life.

Rabu, 16 June 1997
“Hi…” sapa seseorang di perpus.
“Hi,” jawabku.
“Mahasiswi baru? Let me know ur name,”
“Jane. Jane Turner… “
“William Nilsson…”
“Whua-what?!!!!” *SHOCKED*
“Hey, what’s wrong with you?” kata Will heran.
“Nothing. Sorry, I must go right now…” kataku berlalu.

*toilet* I think this’s the best palace.
WHAT?! IMPOSSIBLE. CALM DOWN, JANE. INI HANYA KEBETULAN. *phone ringing*
“Hello, babe. I’m so sorry. My sister was sick. I have to go to hospital….” Suara Zaq panik.
“Yep, Zaq. It’s okay. I can go home by my self,” kataku.
“Thanks babe, be careful,”
“Yep, bye,”
Yea, hujan mulai turun. Sepertinya aku harus cepat. *wear headset*

“Mengapa kau malah hujan-hujanan? Yang lain berlarian mencari tempat berteduh. Ayo,” kata seorang lelaki melepaskan jaketnya memayungiku dan menarik tanganku ke tempat teduh.
“Pertanyaannya adalah mengapa sekarang hujan? Kalau tak hujan, aku pun tak akan hujan-hujanan. Sayangnya aku suka hujan, tapi kadang aku membencinya,”
“Hah? So, whats wrong with hujan?” tanyanya bingung.
“Bagaimana perasaanmu sekarang bersamaku?”
“Em… happy… confused, yep happy to be confused,”
“Haha, bagaimana kalau hujannya reda?”
“Em….”
Lelaki seumuranku itu hanya diam. Sibuk memikirkan jawabannya. 15 menit berlalu.
“Menurutku hujan sudah mulai reda, aku duluan. Thanks,” kataku tersenyum.
“Jane!!!”  teriak seseorang dari mobilnya.
“Oh hai, Will,” kataku melambaikan tangan.
“Wanna go home? Biar kuantar… masukklah,”
“Wohoo thanks, jadi kau tak membawa kuda lagi?” tanyaku tak sadar.
“Excusme?”
“Oh sorry,”

*on the way*
“Rumahmu dimana, nona?”
“Um, Driwess st 7. Tak apa bila kau mengantarku? Kau senior em maksudku….’
“Dengan senang hati, I’m single, atau kau takut pacarmu marah? Lantas mengapa pacarmu tak menjemputmu? Tega sekali ia meninggalkanmu di saat hujan,”
“Em, itu rumahku. Kau bisa turunkan aku sekarang, terimakasih,” *out*
Lancang sekali dia berbicara begitu. Dia tak tau apapun tapi berani bicara tentang Zaq-_- Hey siapa itu? Bukannya ia lelaki tadi?
“I know the answer!” katanya.
“Jadi kau mengikutiku ke rumah hanya untuk sebuah jawaban bodoh?” tanyaku heran.
“Tidak juga, rumahku di sebelah rumahmu. Aku tetangga barumu,” katanya tersenyum.
“Oh…. Hai Zaq, miss you so much baby *hug Zaq*” kataku menghampiri Zaq dan memeluknya.
“Oh, babe. How bout your day?” kata Zaq merangkulku dan masuk ke rumah.

Sebaiknya aku tak menghiraukan tetangga baru itu. Aneh.
“It’s so awkward. I met many new friends but some of them are strange,”
“Haha, oya? Are they annoyed you?”
“Yes, how bout ur sister?”
“She’s okay now,”
“Good,”
“That’s hot chocolate….”
“Thankiesssss my sweetie, *CUT!!! Message from Tika. Sebenernya gua rada enek bikin dialog ini. tapi….. ekekek(?)* after this, I’ll go back to hospital…”
“That’s okay. Take care,”
*TIKA MUNTAH*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar