Jumat, 06 April 2012

Cerita Chikyta Weasley Part 4 (Masih percaya kita cuma sendiri?)


Di mobil, seperti biasa. Kami tak bicara. Selalu. Mama tak menanyakan liburanku. Tak tanya sudah apa saja yang kulalui. Tak tanya enjoykah aku dengan liburan pilihannya. Mama yang aneh. Aha! Aku tak mau lagi berurusan lagi dengan anak-anak Higway School. Mengapa aku tak pindah saja. Lagipula Highway School hanya tinggal kenangan. Aku ingin sedikit melupakan David. Ke sekolah terpencil pun tak apa yang penting bisa belajar. Aku akan memintanya sekarang. Mama tidak akan menolaknya. Aku kan anak satu-satunya.
“Ma?”
“Ya?”
“Aku ingin pindah sekolah, boleh?”
“Boleh. Mengapa?”
“Aku sudah tak betah di sekolah itu.”
“Oke, kemana?”
“Terserah mama.”
“Di Eagle School? Kebetulan kepala sekolahnya teman mama.”
“Yeah. Thank you, mam.”

Hari pertamaku  di Eagle School. Itu sekolah cukup bagus di Chicago. Meskipun berada di bawah Highway school. Bangunannya sangat besar dan luas. Sekolah itu merupakan sekolah tua ala bangunan Meksiko. Dengan atap yang luas membuat kesan lega. Terdapat banyak lorong disini. Aku masuk ke kelasku. Semua melihatku dengan rasa penasaran dan heran. Salah satu guru yang menurutku cukup tegas, Pak Lee menyuruhku memperkenalkan diriku ke depan kelas. Aku hanya mengucapkan 1 kalimat. Aku Chikyta Weasley dari Highway School. Semua menatapku heran lagi. Tidak sedikit aku mendengar bisikkan. Salah satunya aku mendengan bisikkan “Kenapa ia pindah kesini? Highway kan sekolah terfavorit.” “Sepertinya is di DO.” Ah! Sok tau mereka. Aku menuju bangku yang kosong di samping seorang gadis bernama Kanno Yuuko, yang berdarah asli Jepang namun sejak kecil ia tinggal di Chicago. ia berkulit kuning dan bermata sipit. Cantik dan lucu. Ia berdandan seperti halnya orang Jepang yang fullcolor. Ia tampil apa adanya. Walaupun menurutku ia sedikit berlebihan dalam berpakaian, tapi ia orang yang ramah. Sepertinya ia sedikit dipojokkan oleh teman-teman sekelas karena pakaiannya yang norak. Makanya ia duduk paling belakang. Kasihan. Sepertinya ia berniat untuk jadi teman baikku.
“Hi, Chikyta. Namaku Kanno… Kanno Yuuko. Salam kenal.” sapa Kanno dengan logat sedikit jepang.
“Hi. Salam kenal juga.” sapaku balik dengan senyumanku.
“Teman baik?”
“Sure!”
Okay! Hari pertama di Eagle School sedikit menyenangkan. Aku bertemu dengan Yuuko. Dan apa lagi yang kutemui? Ada seorang lelaki yang tak asing lagi di mataku. Kurasa aku mengenalnya dekat. Dan ia pun sepertinya memandangku terus seolah ia pun mengenalku. Ia terus melirik ke arahku berharap aku bisa tau ia. Ah! Ingat! Ia kan teman futsalnya David! Masa aku lupa, sih. Ia kan juga sering belajar kelompok denganku dulu. Aku baru ingat, ia kan juga pindah. Tapi sebelumku. Namanya Ray. Ia berdarah Belanda asli. Ayah dan ibunya juga. Ia lebih tinggi dariku. Jelas. Ia tersenyum kepadaku. Entah itu tanda apa. Aku paling susah membalas senyum orang lain. Aku pun senyum balik dan langsung buang muka ke hadapan guru yang sedang mengajar. Seolah-olah memperhatikan guru. Saat istirahat, aku malas ke kantin Yuuko pun membawa bekal roti dari mamanya. Sedikit iri. Tiba-tiba Ray menghampiriku saat memainkan ponselku.
“Hai, Chiky. Apa kabarmu?” tanya Ray ramah.
“Hai. Baik, kau?”
“Yeah. Bagaimana bisa kau pindah?”
“Aku bosan dengan sekolah itu, kau sendiri? Aku tak tau alasan jelas kau pindah.”
“Kau tak tau? David tak cerita padamu?”
“Tidak, memang kenapa?”
“Kami punya masalah. Karena cederaku akibat ulahnya.”
“Apa? David tak cerita. Cedera apa?”
“Lutut kiriku retak. Sekarang dalam tahap pemulihan. Kudengar David pindah.”
“Semoga kau baik-baik saja. Ya, ia pindah.”
“Ke?”
“Aku tak tau pasti.”
“Bagaimana bisa? Ia sahabat baikmu.”
“Ya, sebelum Key merebut segalanya.”
“Uh! Cewek sialan itu lagi!”
“Ada apa dengan Key?”
“Ia yang menyebabkan konsentrasi David kabur dan malah menendang keras lutut kiriku.”
“Ya, ia memang cewek sinting!”
“Pasti Key selalu mengerjaimu.”
“Ya.”
“Aku sering mendengar rencananya. Rumah kami sebelahan begitu juga kamar kami. Aku sering mendengarnya teriak dan marah-marah.”
“Sinting!”
“Aku ke kantin dulu ya, Chik” pamit Sam sambil melambaikan tangannya.
“Okey!”
Sepertinya sekolah di Eagle School sedikit lebih baik dari sekolah di Highway School. Walaupun anak-anaknya masih sedikit canggung denganku, tapi mereka semua ramah. Mereka sangat berbakat dalam hal seni. Sekolah ini selalu menjadi jawara jika ada perlombaan seni mengalahkan Highway School. Bai seni rupa, music, teater ataupun yang lainnya mereka selalu menandang juara umum 1. Siswa-siswa disini dibebaskan untuk mengeluarkan ekspresi seni sesuai dengan keinginan mereka. Aku suka sekolah ini. Rasanya bebas. Aku bisa menggambarkan semua yang ada dipikiranku di dalam selembar kertas. Tak ada perfect. Bebas. Aku bisa mengeluarkan suara kerasku untuk melampiaskan kemarahan, kebencian, kesedihan dan kekecewaanku. Begitu pun dengan Yuuko. Ia senang sekali menggambar. Komik. Ya. Itu yang ia gemari. Mungkin sudah tak bisa dihitung jari komik yang sudah dibuatnya. Komik yang pertama kubaca adalah ‘Triangle Kiss’. Komik seru yang menceritakan kisah 2 cowok yang mempermainkan Brenda, tokoh utamanya. Brenda hanya menjadi cewek mainan. Tapi akhirnya, mereka berdua menyukai Brenda. Dan memperebutkan Brenda. Wow! Serunya!

Malam harinya, aku mendengar cerita hantu yang dikirim dari Yuuko. Aku ingin menghibur diri. Seram. Sendiri dikamar. Tiba-tiba terdengar lemparan batu ke jendela kamarku. Suasana menjadi seram. Sedikit mencekam. Apalagi dengan suara-suara seram rekaman cerita hantu dari Yuuko. Lemparan batu ke jendelaku semakin sering dan keras. Aku mulai takut. Aku tak berani melirik ke jendelaku. Aku juga pun kaku. Tak bisa mematikan rekaman cerita itu yang semakin menakutiku. Aku sedang sendiri di rumah. Bagaimana aku tak takut. Jarum jam menujuk ke arah angka 11. Aku segera memeluk selimutku erat-erat. Lemparan batu itu semakin menjadi-jadi. Bahkan sekarang disertai bisikkan memanggil namaku. Ih! Siapa sih? Aku tak yakin itu hantu. Glenn tolong aku, jika itu memang hantu. Tiba-tiba, ia teriak “Chiky!” aku kaget. Semakin panik. Ah! Tuhan tolong aku. Hantu? Glenn? Apakah itu kau? Aku ingin menanyakan hal itu. Tapi sulit. Aku sulit mengeraskan suaraku. Aku hanya bisa teriak hal itu dalam batinku. Bibirku membeku. Tak bisa berkata-kata. Ia pun teriak lagi “Chiky! Buka jendelanya!”. Sepertinya aku mengenal suara itu. Aku pun mengumpulkan seluruh keberanianku untuk membuka jendela. Aku matikan rekaman cerita horror itu. Dan ternyata… Ray! Untuk apa ia kesini? Menakut-nakuti saja! Kenapa ia tak lewat pintu depan. Aku pun melirik ke arah Ray yang memakai kaos berwarna biru dengan jaketnya yang baseballnya yang berwarna hijau tua memakai jins biru donker pensil dan sepatu Tomkins biru-hitam. Ia pun membawa gulungan kertas putih. Ia berpakaian seperti akan latihan skate saja. Aneh. Aku memberi isyarat ada apa. Ia pun membalasnya dengan teriakkan sedikit pelan. Kami terlibat perbincangan di atas jendela.
“Chiky! Chiky!”
“Ada apa sih Ray?”
“Maaf aku mengganggumu.”
“Tak apa, tapi kau hampir membuat jantungku tak berdetak.”
“Hah? Kenapa? Rekaman horror itu?”
“Ya! Dan kau mengagetkanku dengan lemparan batu itu.”
“Jadi kau kira aku ini hantu? Hahaha..” katanya sambil tertawa kecil.
“Kau malah menertawakanku.”
“Kau parno-an sekali.”
“Ya, terserahlah. Kenapa kau memanggilku lewat jendela, kenapa tak lewat pintu?”
“Aku takut, orangtuamu menganggapku cowok tak benar karena bertamu malam-malam.”
“Ah! Tenanglah. Orang tuaku sedang di luar kota.”
“Begitu.”
“Dan kenapa kau memanggilku dengan lemparan batu itu? Aku jadi takut sendiri. Kenapa tak mengirim pesan? Kau kan punya nomerku.”
“Maaf. Ponselku sedang tak ada pulsa.”
“Saat kau melempar batu ke arah jendelaku, bagaimana kau tau ini kamarku?”
“Ah, seperti kau tak tau saja. Sejak bersahabat dengan David aku kan sering ke rumah David. Aku sering melihatmu masuk ke gerbang di seberang rumah David. Aku juga sering melihatmu ada di kamar yang terbuka jendelanya. Jelas, kamar David kan bersebrangan dengan kamarmu, jadi mana mungkin aku tak tau.”
“Wow! Kau hapal persis.”
“Ray! Si mata-mata!”
“Begitu ya. Jadi sebenarnya kau mau apa? Apa itu?” tanyaku sambil menunjuk gulungan kertas yang digenggam tangan kanan Ray.
“Oiya! Hampir lupa. Ini tugas Ibu Ross. Guru paling killer di Eagle school. Aku tak mau kau berpengalaman sama denganku.”
“Pengalaman apa?”
“Ia seperti Pak John di Highway school. Guru yang masa bodoh dengan tugas. Mau murid baru ataupun murid biasa tugas harus dilaksanakan.”
“Aneh sekali. Mana mungkin murid baru tau tugasnya.”
“Nah, itu masalahnya. Waktu itu aku dimarahi abis-abisan karna aku tak membuat tugasnya. Mana aku tau tugasnya apa. Aku kan baru masuk pada hari itu. Hari pertama yang suram.”
“Begitu yaa.”
“Ini tugasmu, sudah aku susun sebaik mungkin.”
“Terima kasih kau baik sekali. Tugas apa ini?”
“Makalah tentang ‘Remaja dan Narkoba’. Dengan ini besok kau takkan dimarahi.” katanya sambil melempar makalahnya ke arahku.
“Kau perhatian sekali. Terima kasih. Dengan apa aku membalasnya?”
“Sama-sama. Ini bentuk kepedulianku. Kau boleh menraktirku segelas Milkshake rasa coffee besok di kantin sekolah. Hahaha..” godanya sambil tertawa.
“Hanya itu?”
“Ya. Tapi aku hanya bercanda.”
“Tak apa. Besok akan kutraktir”
“Oke! Aku pulang ya. Ini sudah jam setengah 12. Maaf mengganggumu.”
“Sip! Sekali lagi terima kasih, Ray.”
“Oke.”
Ray perhatian sekali. Ia bela-bela datang ke rumahku larut malam begini hanya untuk menyerahkan tugas dari guru killer itu. Ia pun tak segan-segan menyusunnya dengan rapih untuk nilaiku. Niatnya baik. Ia tak mau aku kena marah guru killer itu. Padahal aku tak pernah melakukan apapun untuknya dulu. Kami tak dekat dan tak akrab. Kami mengenal satu sama lain tapi tak akrab. Kami jarang mengobrol tapi memang sedikit asyik jika mengobrol dengannya karna ia sering menyertai canddan kecilnya. Yah bisa dibilang dekat tidak tak dekat pun tidak tapi kami sering bercanda. Secara, ia sahabat David dan aku pun juga. Tapi mana mungkin Ray pindah gara-gara David. Aku bingung. Merekan kan teman baik. Dekat sekali. Aku yakin ada alasan lain mengapa Ray pindah sekolah. Itu pasti. Kemungkinan juga…. Ah! Pasti ia tau kemana David pindah. Ya. Saatnya aku jadi detektif. Rumahnya sebelahan dengan Key. Pasti ia sering mendengar teriakkan Key saat marah. Cewek gila itu kan juga menangis ketika David pindah. Pasti Sam tau tentang kepindahan David. Kalau David sempat menghubungiku dan Key saat ia pindah. Kenapa tidak kalau David tak menghubungi Ray. Pasti David sempat menghubungi Ray untuk memberitahukan kepindahannya. Ray juga sahabat baiknya. Walaupun David membuat lutut kiri Ray retak. Pasti David sudah meminta maaf dan bertanggung jawab. Lagipula setahuku, Ray orangnya humoris, pemaaf dan bukan pendendam. Ia suka menolong. Sayangnya ia terlalu baik. Baik sekali. Sehingga kesannya ia cowok ‘babu’. Ia dikeceng banyak cewek di Highway School karena kemahirannya bermain futsal dan basket. Selain itu, parasnya yang tampan, tinggi dan berambut coklat pirang khas keturunan Belanda menjadi pemikat darinya. Baik pula. Siapa sih yang tak tergila-gila padanya. Karna ia baik dan perhatian pada semua cewek yang dekat padanya, ia terkesan playboy. Padahal sama sekali ia tak menunjukkan rasa suka pada cewek-cewek tersebut. Ia sering ditembak duluan oleh cewek yang naksir dia, tapi hamper semua ditolak. Ia sih yang terlalu baik dan perhatian, ia jadi jahat. Jahat yang menyebabkan kecemburuan. Ia memberi sekedar ‘harapan kosong’ pada setiap cewek. Kasihan. Ray belum mengerti kalau ia telah menyakiti seseorang dengan cara yang halus. Cara yang halus yang membuat seseorang terbang ke lapisan awan ke-7 lalu Sam jatuhkan langsung ke lubang tanah yang sangat dalam. Cara halus yang lebih menyakitkan pikirku daripada cara kasar yang langsung menolak. Yah. Itu resiko. Itu butuh tantangan. Menaklukan seorang cowok bernama Ray yang tak ada duanya mungkin di Chicago. Ah! Aku jadi memikirkan Ray. Besok akan kutanyakan semua penasaranku padanya. Aku akan menjadi detektif sejenak. Tentang David. Ya. Aku harus menggali info tentang David dari Ray. Saatnya istirahat setelah hari pertama di Eagle School.

Keesokkan harinya, hari yang kutunggu. Sekolah yang menyenangkan dan teman-teman yang baik. Aku datang terlalu pagi, hanya aku yang ada di sekolah. Aku lirik jam tanganku yang berwarna merah hati. Jarum pendek menunjuk ke angka 6. Wow. Kelas dimulai jam setengah 8. Mungkin aku terlalu bersemangat. Tiba-tiba ponselku bordering. Terdapat 1 message. Nomer yang tak kukenal. Siapa ini? Pesan yang berisi kata ‘Morning J’. Siapa? Ray? Cepat sekali ia mengisi pulsa. Tak mungkin! Mana mungkin ia seakrab ini. Aku membalasnya ‘Siapa ini? Maaf’. Beberapa seling detik kemudian ia pun menjawab ‘Sam, masa kau lupa.’ Ah! Aku lupa! Aku belum save nomernya. Ada apa Sam mengirim pesan. Pasti ada sesuatu yang ingin ia beritahu.
‘Ada apa Sam?’ balasku.
‘Aku hanya memberitahumu, minggu depan aku akan menginap di Chicago. Aku ada tour konser lagi. Tapi kali ini bukan untuk umum, jadi kau tak bisa melihatkuL
‘wow! Ah, padahal aku ingin kau memainkan piano putihmu lagi. Kau main ke rumahku ya!’
‘pasti! Kau buka saja pintu lebar-lebar.’
‘jangan buat aku menunggu ya ;)’
‘Pasti tak akan ;)’
Aku senang sekali Sam datang ke Chicago, walaupun itu hanya seminggu itupun panggilan konser khusus. Jujur saja, aku menyukai Sam. Bukan hanya karna wajahnya yang tampan. Tapi karna ada sesuatu yang menarik darinya. Menurutku ia mempunya senyuman yang manis dari bibir kecilnya. Tangannya yang halus dapat menjagaku dari tekanan apapun. Aku yakin ia masih single. Mungkin kini kali pertamanya aku merasa ‘suka’ pada seseorang yang istimewa. 14 tahun 3 bulan aku single. Wow. Inikah rasanya? Mebuatku terbang melayang. Tapi, awas saja kalau ia membuatku jatuh. Aku takkan memaafkannya. Sepertinya sudah setengah jam berlalu. Teman-temanku belu datang. Lama sekali. Aku mulai bosan menunggu. 1 jam lagi. Ayolah, satu saja yang datang. Plis! Aku sendiri di sini. Beberapa menit kemudian, tepatnya 15 menit kemudian sih. Yuuko datang. Hari ini menurutku ia tampil tak terlalu berlebihan. Ia memakai kaos ¼ tangan berwarna coklat dengan syal coklat tua, memakai celana lagging putih dan sepatu crocs. Tumben. ia langsung mengerutkan dahinya ketika melihatku. Sepertinya ada yang ingin ia katakan. Apa? Apa hari ini aku aneh?
“Hey, Chykita Weasley.”
“Yeah?”
“Sepertinya kau datang terlalu pagi.”
“Memang, mungkin aku terlalu bersemangat. Aku disini sejak jam 6 pagi.”
“Oya? Kelas dimulai kan jam setengah 8.”
“Ya aku tau. Memang kenapa?”
“Tidak. Biasanya aku yang datang saat teman-teman belum datang.”
“Anehkah? Kau merasa terganggu?”
“Tak. Tak apa.”
Aku merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan Yuuko. Sepertinya ia merasa terganggu akan kehadiranku pagi ini. Sepertinya ia punya ‘ritual’ tersendiri yang biasa ia lakukan setiap pagi saat teman-teman belum datang. Raut mukanya menjadi kecewa. Sepertinya ia tak bisa melakukan ‘ritual’ nya pagi ini. Aku jadi merasa tak enak. Sepertinya besok aku datang seperti biasa saja. Ah! Mukanya jadi murung.
“Apa kau marah?” tanyaku pada Yuuko.
“Tidak. Tenang saja.”
“Syukurlah. Kenapa kau tak mau bergaul dengan yang lainnya?”
“Aku rasa yang lain menganggapku aneh. Kau juga. Tapi aku tau kau berbeda dari yang lain.”
“Aneh? Aku rasa kau tak aneh. Hanya penampilanmu yang khas jepang membuat kami belum akrab. Cobalah, kau pasti bisa.”
“Sudah dan sia-sia.”
“Kau menyerah?”
“Tentu.”
“Tak boleh!”
“Kau siapa melarangku?”
“Kau sahabatku sekarang. Jadi aku akan memotivasimu dari sekarang.”
“Benarkah?”
“Apa ucapanku terlihat bohong?”
“Tidak. Kau yakin mau bersahabat denganku?”
“Mengapa tidak.”
“Kau tak takut dianggap aneh sepertiku?”
“Tidak untuk sahabat.”
“Ini kali pertama aku punya sahabat.”
“Benarkah? Aku tak bisa mempercainya.”
“Benar. Selama ini aku tak pernah punya sahabat karena aku lebih memilih untuk sendiri.”
“Berarti aku sahabat pertamamu.”
“Ya. Thank you.”
“Oke.”

Beberapa temanku sudah ada di sekolah. Mereka mengobrol dan bermain-main layak dunia punya mereka sendiri. Aku melihat sekitar dan melirik jam tanganku lagi. Jarum jam menunjuk kea rah jam setengah delapan kurang 10 menit. Aku belum melihat Ray. Apa ia terlambat? Pasti. Mungkin karna semalam ia mengantarkan tugasku. Aku merasa bersalah kalau ia terlambat gara-garaku. Apalagi ia pasti kena marah. Pelajaran pertama kan Ibu killer Ross. Menurutku sifatnya tak sesuai namanya. Secara, namanya Ross yang berarti mawar cantik nan harum. Tak tampak menyeramkan. Warnanya yang merah memikat menunjukkan keanggunannya. Masa iya ada guru bernama ‘Ross’ tapi killer. Crazy world!
Bel berbunyi, Ray belum datang begitu juga Ibu Ross. Kelasku masih gaduh. Selang beberapa detik, Ray datang tergesa-gesa dengan kucuran keringat yang membasahi dahinya disusul di belakangnya Ibu Ross. Ia pun melepas jaket baseball yang dikenakannya sambil mengucapkan “Selamat” pada dirinya dengan mengelus-elus dadanya. Untung ia tak telat. Ia mengusap keringatnya dan duduk tepat di sebrang samping bangkuku.
“Kau selamat, Ray. Selamat.” Ucap Ibu Ross pada Ray.
Dan ternyata. Memang! Ibu Ross seorang wanita usia 30 tahunan yang baru punya 1 anak. Ia cantik dan anggun mengenakan baju kemeja ungu dan rok dark purple dengan lipstick merahnya. Tak sedikit pun yang menyangka kalau Ibu Ross adalah guru paling galak di Eagle School. Aku penasaran. Seberapa galakkah Ibu Ross.
“Keluarkan tugas makalah kalian!!!!!!!” teriak Ibu Ross di depan kelas. Teriakkan itu sontak mengagetkanku. Pertanyaanku sedikit mulai terjawab. Dari lengkingan suaranya, memang sudah kelihatan killer. Wow. Tantangan.
“Kau pasti tak mengerjakannya. Ibu Ross akan memarahimu. Maafkan aku, aku lupa memberitahumu kemarin.” bisik Yuuko.
“Tenang saja. Aku tau. Ini dia!” jawabku sambil mengeluarkan dan menunjukkan makalah buatan Ray pada Yuuko.
“Hah? Bagaimana kau tau?”
“Sebenarnya tugas ini dibuat Ray dan diserahkan padaku semalam.”
“Oh, perhatian sekali.” jawab Yuuko memelas.
Aneh lagi. Mengapa Yuuko menjawab dengan nada seperti itu saat aku menyebut nama Ray. Aneh.
“Chikyta Weasley! Kau murid baru kan?! Mana tugasmu?!” panggilan Ibu Ross mengagetkan lamunanku.
“Kau tak lupa membawa tugasnya kan? Kalau iya kau bia mati!” bisik Ray dari arah samping kananku.
“I…. i… ni, bu. Makalah ‘Remaja dan Narkoba’ kan?” jawabku sambil menuju ke depan untuk menyerahkan makalah buatan Ray. Ibu Ross pun menerimanya dengan muka heran dan tak puas. Mungkin ia berfikir darimana aku tau tugasnya. Dan mungkin ia sedikit kesal karna tak ada bahan amarahnya. Aku tertawa kecil dalam hati. Dengan muka heran dan bingung, ia membuka-buka makalahku.
“Hmm… bagus sekali pekerjaanmu. Murid baru handal.” puji Ibu Ross.
“Terima kasih.”
“Kau selamat. Dan kau Ray! Karna kau sedikit terlambat, kau persentasikan makalahmu di depan kelas!” perintah Ibu Ross dengan sedikit ketus.
“Siaaaaap, bu. Tenang saja.”
“Oke, sepertinya kau sudah mempersiapkannya. Apa jangan-jangan kau yang membuatkan makalah atau mengingatkan murid baru itu? Good boy!”
Tiba-tiba tenggorokanku seperti ada yang tersangkut. Aku dan Ray saling melirik. Entah tanda apa. Jantungku berdegup kencang. Yuuko melirikku seolah kau sudah ketahuan. Mampus! Mengapa Ibu Ross tau? Apa ia seperti Pak Harry yang indigo?
“Ayo cepat, Ray!” kata Ibu Ross melanjutkan kata-katanya.
Aku, Ray dan Yuuko menghela nafas cukup panjang. Untung saja Ibu Ross hanya main-main dengan kata-katanya. Aku melirik Yuuko begitu juga dia. Aku mengelus dadaku. Yuuko pun berbisik “Untung saja kau selamat dari amukan.” Suasana yang tadi menegangkan menjadi sedikit relax ketika Ray menjelaskan materinya dengan intonasi santai. Wow. Hari kedua dengan awal menegangkan. Aku tak sengaja melirik Yuuko yang duduk sebangku denganku. Ia begitu serius memandangi Ray. Tak dihiraukan aku yang daritadi meliriknya dengan pandangan heran. Dan sepertinya ada buku yang terselip di bawah mejanya. Sesekali ia menggambarkan garis-garis yang berbentuk sebuah wajah seseorang. Rupanya lelaki. Setelah aku meliriknya lebih jelas. Ah! Itu kan Ray! Rupanya Yuuko naksir Ray. Yeah! Pasti seperti cewek-cewek lain yang naksir Ray. Mungkin Yuuko juga begitu. Tapi sepertinya, aku sedikit cemas dengan Yuuko naksir Sam. Aku takut sahabatku sakit. Sakit hati. Sakit karna ia baru tau bahwa ia hanya diberi harapan kosong oleh Ray. Kasihan. Aku harus mengingatkan Yuuko. Tapi aku tak ingin membuat Yuuko tersinggung. Ah! Suatu saat, aku pasti mengingatkannya. Saat yang tepat……..
Pelajaran Ibu Ross telah berlalu disusul pelajaran olahraga yang membosankan. Kami disuruh mendrible bola saja. Tak ada yang lain. Sekolah aneh. Pantas saja sekolah ini tak begitu unggul dalam hal olahraga. Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, Yuuko lebih memilih berada di dalam kelas untuk memakan bekalnya. Aku takut jika aku mengajaknya ke kantin tapi malah mengganggu makannya. Terpaksa aku tak ke kantin. Tapi tiba-tiba Ray menghampiriku lagi.
“Tak ke kantin?”
“Tidak.”
“Aku tagih janjimu.”
“Janji?”
“Kau lupa?”
“Aku tak mengerti.”
“Semalam?”
“Ah! Oke, ini uangnya. Aku beli sendiri tak apa?”
“Tak mau.”
“Loh. Kenapa?”
“Aku ingin kau yang membelikannya untukku. Ayo, ikut aku ke kantin!” ucap Ray sambil menarik tanganku.
Di kantin,
“Nih, milkshake rasa coffee.” Kataku sembari menyerahkan segelas milkshake pada Ray yang sedang duduk ditemani ponselnya dan kami duduk berdua.
“Terima kasih.”
“Oh tidak. Terima kasih”
“Oke.”
“Kau terlambat bukan karnaku kan?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Karna aku terlalu malam mengantarkan tugasmu.”
“Maafkan aku.”
“Ah, tak apa. Untung saja aku tak kena marah Ibu Ross. Sekarang kau tau kan?”
“Ya. Sifatnya tak seindah parasnya.”
“Betul! Tapi bagaimana ia bisa tau kalau aku yang membuat tugasmu.”
“Aku sendiri juga bingung. Mungkin Ibu Ross hanya menebaknya.”
“Apa mungkin ia seperti Pak Harry?”
“Awalnya aku juga berfikir seperti itu.”
“Jangan sampai! Aku kapok punya guru seperti dia.”
Bryan, teman sekelasku juga menghampiri kami, memotong pembicaraan kami dengan mengajak Ray tanding futsal besok. Tapi tak sengaja juga aku melihat sosok Yuuko yang sedang mengawasiku di depan kelas Lab Biologi. Kebetulan dari Lab Biologi, kita bisa melihat kantin dengan jelas karena letaknya yang berdekatan. Ada apa ya Yuuko mengawasi kami? Aneh sekali.
“Baiklah, kau tunggu saja!” jawab Ray pada Bryan.
“Kau melihat ke arah siapa?” tanya Ray sembari melambaikan tangannya ke hadapan mukaku dan melirik ke arah pandanganku. Aku kaget dan langsung membalikkan pandanganku kembali focus pada Ray.
“Tidak. Aku tak melihat ke siapa pun.” jawabku.
“Kau aneh. Jelas-jelas kau melihat pada Kanno Yuuko yang sedang berdiri memerhatikan kita.”
“Kau tau?”
“Ya, setiap hari ia begitu. Aku sudah biasa.”
“Wow.”
“Ia sering memandangiku berlebihan. Aku tak tau maksudnya. Kau tanyakan saja padanya.”
“Masa kau tak tau?”
“Yah, aku tau. Suka. Tapi pandangannya seperti dendam dengan lirikkannya yang dingin.”
“Ia memang seperti itu.”
“Itu yang membuatku heran. Yang lain memandangiku dengan senyum-senyum tapi ia tidak.”
“Maklum saja.”
“Kau membelanya?”
“Ya. Ia sahabatku sekarang.”
“Begitu. Jangan lupa tanyakan padanya mengapa ia begitu. Aku ke lapangan dulu.” kata Ray menyeruput sedotan milkshakenya dan meninggalkanku ke lapangan.
Aku tak berani menanyakannya sekarang. Ia sedikit misterius menurutku. Mungkin aku akan tanyakan nanti. Entahlah aku takut menyinggung perasaannya. Sepertinya ia sedikit sensitif. Serba salah.

 Beberapa hari berlalu. Menyenangkan di Eagle School. Hari ini hari Sabtu. Hari ini Eagle School libur karena ada rapat guru. Aku mendapat pesan dari Sam.
‘Chiky, I’m on the way Chicago.’
‘Okay. Be careful’
‘Thanks. Wait me J
‘Sure.’
Sabtu maghrib. Aku membuka laptopku dan membuka diaryku. Kutulis semua yang kurasakan sekarang. Setelah itu, aku hampir terlelap. Tiba-tiba aku mendengar suara genjrengan gitar dari balkon kamarku. Sesosok lelaki memegang gitarnya muncul dari jendela kamarku. Ia melempar kertas ke arahku yang berisi lirik lagu ‘Make It Mine-Jason Mraz’. Aku bingung. Sam! Ya itu Sam. Ia memulai memetik gitar hitamnya dan bersenandung lagu itu. Ia pun memberi isyarat agar aku ikut menyanyi bersamanya dengan membaca lirik yang diberikannya. Aku baru tau suara saat Sam menyanyi. Keren.
Make It mine – Jason Mraz

Wake up everyone
How can you sleep at a time like this
Unless the dreamer is the real you
Listen to your voice
The one that tells you to taste past the tip of your tongue
Lip and the net will appear

I don't wanna wake before
The dream is over
I'm gonna make it mine
Yes I... I know it
I'm gonna make it mine
Yes I'll make it all mine

I keep my life on a heavy rotation
Requesting that it's lifting you up
Up up and away
And over to a table at the gratitude cafe

And I am finally there
And all the angels they'll be singing
Ah la la la ah la la la I la la la la love you

I don't wanna break before
The tour is over
I'm gonna make it mine
Yes I...I know it
I'm gonna make it mine
Yes I'll make it all mine

And timing's everything
And this time there's plenty
I am balancing
Careful and steady
And reveling in energy that everyone's emitting

I don't wanna wait no more
No I wanna celebrate the whole world
I'm gonna make it mine
Because I'm following your joy
I'm gonna make it mine
Because I... I am open
I'm gonna make it mine
Yes I... I'm gonna show it
Yes I'm gonna make it mine
It's mine...
Yes I will make it all mine
Senandung lagu tersebut membangkitkan semangatku. Aku heran. Mengapa Sam tau lagu kesukaanku. Ia mengagetkanku. Bagaimana ia bisa sampai ke jendela kamarku? Manjat? So sweet. Jantungku tiba-tiba bergemuruh.
“Sam?” panggilku kaget.
“Ya.” jawabnya sambil tersenyum manis.
“Kau?” sahutku sambil bingung.
“Suaraku sedikit serak.” sahutnya meminta maaf.
“Kau.” Kataku masih sedikit bingung
“Kenapa?” tanya Sam tersenyum lagi.
“Mengapa kau bisa… bisa?” tanyaku terbata-bata karna heran
“It’s magic love.” Jawabnya tersenyum misterius.
“Maksudmu?” tanyaku penasaran.
“Yeah, kau pasti mengerti.”
“Bagaimana bisa?” tanyaku masih heran.
“Aku menyelinap dan memanjat balkon kamarmu.” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Kau baru datang dari Chicago?” tanyaku.
“Ya, dari tadi siang. Tante Hellen sudah ada di bawah. Kau sepertinya senang mengurung diri di kamar.” Jelasnya.
“Yeah, itu kebiasaanku.”
“Kau lucu saat tidur. I like it.” Katanya sambil mencubit pipiku.
“Lucu? Aku tak mengerti bagaimana kau tau lagu itu kan lagu kesukaanku.”
“Benarkah? Itu lagu favoritku. Jadi?”
“Jadi apa?”
“Kau tau maksud ‘Make it mine’, kan?”
“Ya, aku mengerti. Make it mine? Apa yang ingin kau miliki? Piano baru?”
“Kau.”
“Aku? Maksudmu?”
“Kau yang ingin kumiliki.”
“Kau serius?”
“Tentu. Jadilah pacarku. Will you?” tanyanya sambil memegang tangan kananku sambil bersujud di hadapanku. Ia memberiku bunga mawar merah kesukaanku yang disimpannya di saku belakangnya. Ia menatap tajam mataku. Aku pun begitu. Pandangan matanya tenang. Ah! Romantic sekali. Tubuhku lemas. Aku tak kuat melawan pandangan matanya. Aku kehabisan kata-kata. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ingin meledak. Ya. Aku tak tau harus apa. Tanganku merasa terus digenggam erat tangan Sam.
“Kau gemetar?”
“Y…. y… ya..” kataku sambil gemetar.
“Kau sakit.”
“Tidak.”
“Ya, kau sakit karna terserang virus cintaku. Will you?”
“Hmm..”
“Will you be my girlfriend?”
“Yes, I do.”
“Are you sure?”
“Yap! You make me wanna say I do.”
“23 Desember! Ingat tanggal itu!”
“Selalu! Apa kau akan menginap di sini?”
“Hanya malam ini, besok aku harus tour.”
“Pergi?”
“Tak akan. Aku ada di hatimu.”
“Hmm… baiklah.”
“Kau tak kecewa kan?”
“Yap! Tak akan!”
“Jarak tak memisahkan kita, kan. I’ll be controlled you.”
“Okay!”
“Aku ke bawah dulu ya. Setelah makan malam kami langsung ke tempat tujuan.”
“Sayang, aku tak bisa menontonmu.”
“Jangan kecewa, babe.”

“Chiky, ayo kita makan malam.” ajak tante Hellen yang tiba-tiba muncul dari kamarku.
“Baiklah tante, aku akan menyusul.”
“Tante dan Sam tunggu di bawah, oya, mamamu tadi pergi.”
“Sepertinya hari ini ada yang sedang berbunga-bunga.” goda tante Hellen yang duduk di hadapanku sambil melahap jamur kesukaannya sontak mengagetkanku.
“Iyadong, tante.” jawab Sam santai sembari tersenyum melirikku.
“Chiky, diam saja.” Kata tante Hellen.
“Maklum, ia terkena magic-ku.” Goda Sam.
“Magic? Ya kau menyihirku.” Kataku sedikit malu.
“Yes! Kau akan jadi milikku!”
“Kau yakin, kau sudah sembuh trauma?” tanya tante Hellen.
“Trauma? No! aku yakin Chiky tak seperti dia.”
“Percayalah. Aku takkan seperti Jean.” Kataku meyakinkan.
“I’m believe you.”
“Saatnya kami pergi tour. Kau sudah selesai, Sam?” tanya tante Hellen.
“Ah… padahal aku ingin berdua saja dengan Chiky.”
“Kau ini, inikan tanggung jamwabmu. Semangat!” kataku member semangat.
“Thanks my Chiky!”
“My Chiky?”
“Yes, kau kan milikku. My Chiky! Kenapa, salah?”
“Tidak, aku senang dipanggil my Chiky.” Padahal itu mengingatkanku pada David. Ah! Aku lupa menanyakan tentang David pada Ray. Bodohnya aku.
“Mengapa kau melamun? Tak salah kan? Kau takkan kecewa kan.”
“Tak apa. Semangat!” kataku mengelak.
“Baiklah aku pergi yaa, pastikan ponselmu bisa dihubungi.” Pamit Sam sambil melambaikan tangannya dan berjalan ke luar pintu bersama tante Hellen.
“Baik!” sahutku.
My Chiky. Aku jadi teringat lagi David. Oh my God. Aku senang karna aku telah menjadi milik Sam sekarang tapi aku jadi sedikit teringat David.
“Sudahlah, aku kan sudah bilang ikhlaskan saja dia!” bisik seseorang yang suara yang tak asing bagiku.
“Tak mudah bagiku, Glenn.”
“Ya aku mengerti.”
“Kau mengerti kan saat kau diusir olehku? Sakit. Aku pun begitu.”
“Kau akan mendapat gantinya.”
“Semoga saja Sam bisa.”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Ya.”
“Mengapa kau katakana mungkin.”
“Karna aku tak yakin.”
“Entahlah, tapi aku percaya penuh pada Sam.”
“Itu terserah kau.”

1 hari lagi, malam natal. Aku tak tau akan berbuat apa. Aku sendiri lagi sepertinya sampai tahun baru nanti. Tiba-tiba ponselku bordering. Telepon masuk.
‘Halo, siapa ini?’
‘Aku Kanno Yuuko.’
‘Ada apa Yuuko?’
‘Apa hari ini kau ada acara?’
‘Tidak. Aku sendiri sampai tahun baru.’
‘Bagus. Aku pun begitu.’
‘Maukah kau ke rumahku?’
‘Rencanaku juga begitu. Kau sms alamatmu ya.’
‘Baiklah. Aku tunggu.’
Untung saja, Yuuko datang ke rumahku. Ah! Saat yang tepat. Aku kan disuruh Ray menanyakan tentang tatapan mata itu. Aku akan menanyaannya. Sekalian aku ajak curhat. Aku juga ingin tahu seluk beluk tentang Yuuko. Ngomong-ngomong, Sam belum menghubungiku. Mungkin ia sibuk. Awas saja kalau ia tak mengucapkan ‘Selamat Natal’ padaku. Oya, aku kirim alamatnya pada Yuuko. Tiba-tiba pembantuku memanggilku dari bawah.
“Non, ada telepon dari Sam.”
“Iyaaa, bi.”
Baru saja aku memikirkan Sam, dia langsung menelponku.
‘Hi, my Chiky’
‘Hi Sam’
‘Sedang apa kau?’
‘Aku? Aku menunggu temanku yang akan datang ke sini.
‘Kau sendiri?’
‘Ya, serperti biasa sampai tahun baru. Kau baik-baik saja, kan?’
‘Ya, aku baik-baik saja. Aku sedang mengadakan konser amal Natal di Los Angeles.’
‘Wow, keren. Good luck for you.’
‘Thanks, babe. Kau akan baik-baik saja, kan?’
‘Pasti.’
‘Pastikan jika kau keluar, kau memakai baju hangat. Aku dengar di Chicago suhu sebelum natal akan menurun pesat.’
‘Baiklah.’
‘Sudah ya, sepertinya giliranku untuk mengisi acara.’
‘Oke.’
Lega rasanya sudah mendengar suara Sam. Ah aku suka Sam. Walaupun kami akan jarang bertemu. Memang butuh tantangan menjalani sebuah hubungan jarak jauh. Ada saatnya aku kangen berat dengan Sam. Ah! I love you, Sam! Bel rumah berbunyi. Apa iya itu Yuuko? Cepat sekali. Ternyata memang Yuuko.
“Eh, Yuuko. Kau sudah sampai. Masuklah.”
“Terima kasih.”
“Kau cepat sekali menuju ke sini.”
“Tentu. Ternyata rumah kita hanya beda 4 blok. Aku pun ke sini menggunakan taksi.”
“Wow, ayo kita ke kamarku.”
“Ayo.”

“Ngomong-ngomong kau sudah kenal lama dengan Ray ya?” tanya Yuuko memulai.
“Hmm… kami hanya teman di kelas Higway School semenjak kelas 1 SMP, tapi kelas 2 SMP kami tak sekelas. Tapi sekarang bertemu lagi. Kebetulan ia juga teman baik sahabatku, David. Memangnya kenapa?”
“Tidak. Kau terlihat sangat dekat dan akrab sekali dengan Ray.”
“Ah! Aku tau.”
“Tau apa?” Yuuko tersipu malu.
“Kau suka yaa pada Ray?” godaku sambil tersenyum.
“Hah? Ti… ti… tidak.” Yuuko mengelak sambil tersenyum.
“Tak usah mengelak. Terlihat dari raut wajahmu.” Kataku sambil memandangi wajah Yuuko yang memerah.
“Ha? Mukaku kenapa?”
“Merah. Itu sudah biasa. Aku sering menghadapi temanku yang suka pada Ray.”
“Dia banyak yang suka ya?” jawabnya lesu.
“Ya… begitulah. Karna ia memang supel.”
“Yaaaah.”
“Sebaiknya…”
“Ya. Aku tau, jangan suka padanya karna itu akan menyakitiku. Karna ia hanya memberi harapan kosong pada semua cewek yang menyukainya.”
“Kau tau?”
“Ya. Bagaimana aku tak tau. Aku memperhatikan gerak-geriknya dan membacanya. Ia baik, tapi terlalu baik.”
“Jadi? Kau sakit kah?”
“Tidak. Aku tau resikoku. Aku hanya bisa memendam rasaku. Kau sendiri, kau sepertinya juga suka pada Ray?”
“Suka? Bagaimana aku bisa suka. Aku bisa manyakiti hati sahabatku jika aku suka Ray. Lagipula aku sudah punya pacar.”
“Benarkah? Syukurlah. Siapa pacarmu? Kenalkan padaku.”
“Namanya Sam. Samuel Dewny.”
“Ah! Aku tau! Ia kan pianis terkenal. Ia kah? Hebat sekali.”
“Kau tau?”
“Aku tau persis, ia idolaku. Seorang pianis umur 5 tahun tapi sudah mahir sekali memainkan tuts pianonya. Kau beruntung sekali. Darimana kau kenal dia?”
“Ceritanya panjang sekali. Kami pun jadian baru tanggal 23 Desember.”
“Keren sekali.”
“Oya, aku punya satu pertanyaan untukmu. Itupun dari Ray.”
“Ray menanyakanku?”
“Yap. Tapi kau jangan tersinggung.”
“Tenang, aku sudah biasa.”
“Mengapa kau menatapnya dingin?”
“Dingin? Apa tatapanku dingin?”
“Mungkin baginya. Ia menganggapnya seperti dendam.”
“Jadi, aku harus bagaimana? Aku tak tau.”
“Aku sarankan kau banyak tersenyum. Aku yakin Ray bisa tertarik padamu.”
“Tak mungkin.”
“Mengapa tidak.”
“Aku saja tak pernah mengobrol dengannya. Aku iri padamu.”
“Iri? Mengapa kau iri?”
“Kau selalu diajak mengobrol dengannya, bercanda dan tertawa.”
“Kau ini aneh sekali.”
“Memang aku aneh, mengapa?”
“Kami kan teman, pasti kami saling mengobrol.”
“Tapi mengapa aku tak bisa.”
“Senyum. Itu kuncinya.”
“Tak bisa.”
“Kau selalu bilang tak bisa.”
“Ah aku sendiri juga bingung. Aku takkan bisa.”
“Semua butuh proses, kalian butuh perkenalan.”
“Entahlah, aku tak yakin. Ia kan baik ke semuanya. Mungkin aku pun tak dianggap special juga seperti mereka.”
“Aku akan membantumu. Ngomong-ngomong kau akan masuk ke SMU mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Seperti apa kata orangtuaku, aku akan masuk asrama. Kau sendiri?”
“Asrama? Kedengarannya menyenangkan. Aku tak tau. Padahal ujian untuk kelulusan sebentar lagi.”
“Kau harus cepat menetukannya. Atau tidak, kau ikut aku saja ke asrama.”
“Asrama mana?”
“Rencananya aku akan ke Jepang.”
“Begitu.”
“Apa kekasihmu tak cemburu?”
“Cemburu karna apa?”
“Kau tak menyadarinya?”
“Tidak, memang apa?”
“Kau akan sadar.”
“Yeah. Aku sama sekali tak mengerti.”
“Kau akan mengerti. Sepertinya aku harus cepat pulang.”
“Cepat sekali.”
“Maaf, aku disuruh belanja untuk keperluan natal nanti.”
“Oh, baiklah.”
“Dah. Selamat berbahagia. Selamat natal dan tahun baru.”
“Selamat natal dan tahun baru juga.”
                                                                                               
“Selamat tahun baru semuaaaaaaa!!!!!” teriak Ray di depan kelas yang baru datang.
“Selamat tahun baru juga!!!!” jawab beberapa siswa di kelasku.
“Hei, Yuuko dan Chiky! Bagaimana tahun baru kalian?” tanya Ray yang tiba-tiba menghampiri aku dan Yuuko. Aku dan Yuuko saling menatap. Kami bingung. Siapa yang akan menjawab terlebih dahulu. Tatapan kami seolah saling menyuruh untuk bicara. Sepertinya Yuuko masih malu-malu.
“Kau tanya padaku?” jawab Yuuko terlebih dahulu.
“Tentu hanya ada kalian kan di bangku ini. Apa tahun baru kalian menyenangkan?”
“Tidak.” Jawabku singkat.
“Loh? Kenapa?”
“Sama sekali tak ada yang special bagiku.”
“Yap… aku pun begitu.” Sambung Yuuko.
“Bagaimana bisa? Setiap tahun baru adalah hal yang paling semua orang tunggu-tunggu. Apa kalian tak punya pacar?”
“Tidak. Memang kau sudah?” tanya Yuuko.
“Akan.”
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Kau akan tahu. Kau tak punya pacar, kan?” tanya Ray.
“Tidak, aku sudah.”
“Benarkah, siapa?”
“Sam. Samuel Dewny.”
“Pianis muda terkenal.” Sambung Yuuko.
“Benarkah?” Ray bertanya lalu pergi meninggalkan kami dan keluar kelas.
“Ada apa dengannya?” tanyaku pada Yuuko.
“Tak tau. Aneh sekali. Tapi aku senang.” Sahut Yuuko sambil berbahagia.
“Uuuuuu…” surakku.
“Bayangkan saja aku diajak ngobrol. Ternyata trikmu berhasil. Daritadi aku tersenyum padanya.”
“Apa kataku!”
“Yeah. Tapi aku belum menanyakan tahun barunya.”
Aku bingung dengan sikap Ray tadi. Awalnya ia begitu bersemangat untuk menanyakan tahun baruku dan Yuuko. Tapi begitu aku bilang aku sudah punya pacar, ia langsung terlihat murung. Apa ia…. Ah! Tak mungkin! Aku tak mungkin menerimanya. Aku sudah punya Sam. Dan akupun tak ingin menyakiti Yuuko. Mengapa dunia bisa sesempit ini. Yuuko suka Ray. Tapi sepertinya Ray biasa saja. Dan malah berharap padaku. Sepertinya Yuuko merasa aneh juga dengan sikap Ray tadi. Aku jadi serba salah. Yuuko diam seribu kata. Ia sepertinya marah padaku. Aku salah apa? Aku tak enak pada Yuuko. Aku seperti wanita penghancur harapannya. Aku seperti panghalang baginya. Apa salah? Aku tak tau yang ada di pikirannya. Ia mungkin berkecambuk dengan amarahnya. Padahal awalnya ia sudah sangat senang karna diajak ngobrol untuk pertama kalinya. Aku menghancurkan suasana hatinya. Tapi aneh. Ray kan yang membuat suasana begini. Mengapa Yuuko jadi marah padaku. Kehadiranku mungkin mengganggu.
“Kau kenapa?” tanyaku pada Yuuko.
“Tak. Tak apa.”
“Tak mungkin. Raut wajahmu.”
“Kubilang tak apa.”
“Ya sudah. Ngomong-ngomong aku ingin mengembalikan komikmu yang kupinjam kemarin, ceritanya sangat bagus.” Kataku sambil menyerahkan komik itu untuk mencairkan suasana.
“Hmm..” jawabnya memelas.
Aku yakin. Ya. Sepertinya memang mata Yuuko mengatakan padaku bahwa ia marah. Aku pusing. Salahku apa? Aneh sekali sifatnya. Tantangan. Ya. Inilah tantanganku punya sahabat seorang perempuan yang egois. Makanya dari dulu aku tak pernah punya sahabat perempuan. Aku tak suka. Aku lebih nyaman bersahabat dengan lelaki. Walaupun lelaki kebanyakan tak mengerti perasaan wanita. Tapi aku nyaman. Aku bisa menuangkan rahasiaku padanya, tanpa takut bocor. Kebanyakan wanita selalu bergosip dan ending-nya rahasiaku terbongkar karna keceplosan. Shit! Aku tak suka orang seperti itu. Aku lebih suka menuangkan kesedihanku, senangku pada sahabat laki-laki. Mereka mengerti. Mereka bisa menenangkanku. Mereka menjaga perasaanku. Ikut senang. Tak ada syirik atau apapun. Tak ada iri. Tak ada cemburu. Tak ada marah. Kalaupun marah, takkan sampai serius. Yah! Apa boleh buat. Aku yang memintanya untuk jadi sahabatku. Aku harus menghadapinya. Tantangan. Rintangan harus kujadikan teman. Tapi aku takut. Aku takut. Aku takut aku tak bisa. Aku bingung harus memulainya darimana. Aku harus menghadapinya bagaimana? Jika ia terus marah. Aku harus melakukan apa? Aku tak tau harus bertanya pada siapa. Aku tak mungkin cerita pada Sam, pasti dia akan tanya penyebab mengapa Yuuko marah. Jika ia tau tentang Ray. Bisa pupus hubunganku dengannya. Biasanya masalah seperti ini bisa dipecahkan dengan mudah oleh David. Tapi sekarang, tak ada David. Ah! Hampir lupa! Aku harus bertanya pada Ray. Istirahat nanti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar