Jumat, 03 Februari 2012

Cerita Chikyta Weasley Part 3


Hari ini adalah awal musim panas, liburanku kini pasti membosankan. Biasanya aku melewatinya bersama David. Tapi sekarang. Entahlah. Sahabat baruku sudah mengkhianatiku. Hantu aneh. Oya! Aku masih punya harapan untuk liburanku tidak membosankan. Kartu nama Sam! Mana yaa? Perasaan aku simpan di dompetku. Ah! Ini dia!. Disana hanya terdapat emailnya. Aku kirim email ah!
To        : Sam_Dewny@rocketmail.com
Cc        : ChikytaWeasley@yahoo.com
Subject : Hi!
Hi, Sam. Aku yang waktu itu ada di konser itu. Pasti kenal aku kan? Ngomong-ngomong, musim panas ini kau akan apa? Trims J



hhh.. Aku menghela nafas dengan apa yang belakangan ini terjadi. Semoga saja Sam dapat lebih baik dari Glenn. Tiba-tiba, laptopku bersuara. Ternyata, emailku dibalas oleh Sam. Wow! Cepat sekali ia membalasnya.

To        : ChikytaWeasley@yahoo.com
Cc        : Sam_Dewny@rocketmail.com
Subject : (none)
Hai, aku inget kok! Chiky kau cantik dan menarik! Aku akan mengadakan konser lagi di sejumlah daerah lalu aku diam di rumah yang membosankan-_- kau sendiri? Kau tinggal dimana?

To        : Sam_Dewny@rocketmail.com
Cc        : ChikytaWeasley@yahoo.com
Subject : J
Terima kasih! Wow! Kau pasti lelah, kau harus banyak istirahat. Yeah! Liburanku juga membosankan, hanya sendiri di rumah-_- aku tinggal di Chicago kau?

To        : ChikytaWeasley@yahoo.com
Cc        : Sam_Dewny@rocketmail.com
Subject : (none)
Ya! Lelah tapi aku senang, karena clasic musik is my life. Apa musik kesukaanmu? Aku tinggal di New York, kapan-kapan kau main kesini. Akan kutunjukkan cara bermain piano! J

To        : Sam_Dewny@rocketmail.com
Cc        : ChikytaWeasley@yahoo.com
Subject : J
Jazz beat! Aku tak suka clasic musik, tapi belakangan ini mulai suka karena kamu yang memainkannya J oke!



To        : ChikytaWeasley@yahoo.com
Cc        : Sam_Dewny@rocketmail.com
Subject : (none)
Really? Itu kuncinya! Bermainlah dengan hati, tanpa kebencian dan dendam J

Ah! Tanpa kebencian dan dendam. Aku jadi ingat Glenn dan David! Mereka tidak salah! Aku yang salah. Ah! Mengapa aku baru sadar sekarang. Aku terlalu emosi. Aku terlalu naïf. Aku labil saat itu. Mereka sangat sabar menghadapiku. Oh! Maafkan aku David, Glenn. Aku bodoh. Bodoh sekali aku mengusir mereka dari hidupku. Mereka baik. David pindah karna aku. Aish! Glenn tak salah. Ia hanya ingin tidak merusak hariku karna kepindahan David. Stupid girl! Andai waktu bisa terulang lagi, pasti mereka ada di sekelilingku sekarang. Tidak mungkin! David? Kemana kau? Kau selalu ada di setiap mimpiku. Berharap kau kembali kepadaku. Tapi selalu aku bertanya, adakah aku dalam mimpimu. Di malam sunyi, aku memikirkanmu selalu, tapi satu lagi pertanyaan. Apakah kau selalu memikirkanku? Aku tak tau kau. Aku tak tau kau dimana. Aku tak tau jalan pikiranmu. Come back for me! Aku mengerti maksudmu, Glenn. Aku tau. Kau mengerti perasaanku. Aku plin plan. Maafkan aku Glenn. Dengar aku! Kau hantu yang ramah seperti Casper. Kau perhatian seperti David. Come back for me!

Keesokkan harinya, saat mentari mulai muncul di ufuk timur. Burung-burung berkicauan dengan sahabatnya seolah mengejekku. Terdengar tetesan embun yang sedang bercengkrama saling menyusul saudaranya yang membuat aku iri. Tiba-tiba ada suara-suara hangat yang membuatku terjaga dari tidurku.
“Hey, bangunlah Chiky.” bisik seseorang di telingaku.
“Glenn? Itu kamu?”
“Iya.”
“Ah! Maafkan aku, Glenn! Aku… aku salah!”
“Salah? Tak apa lah.”
“Kau masih mengikutiku?”
“Ya, berteman baiklah dengan Sam. Aku tau ia sangat perhatian kepadamu.”
“Oke!”

“Chik, kamu lagi ngobrol ama siapa nak?” ucap Mama yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
“Tak. Aku tak sedang mengobrol dengan siapa pun.”
“Oh, kalo begitu ada waktu luang tak buat mama?”
“Ada kok, memang kenapa?”
“Temanin mama ke mall yuk, udah lama kita tak ke mall bareng.”
“Ayo! Aku mandi dulu ya”
Saat ganti baju dan bercermin. Aku berfikir. Jarang-jarang mama mengajakku ke mall bareng. Pasti ada sesuatu yang akan dibahas. Ah! Perasaan aku sedikit tak enak. “Kau tak perlu cemas begitu.” ucap Glenn. Aku tidak mengerti dengan ucapannya yang berarti nanti aku akan ‘kaget’.
Di mobil, aku dan mama sama-sama terdiam walaupun kami duduk bersebelah. Kami jarang sekali mengobrol karna kesibukan mama mengurus perusahaan catering-nya. Yah. Itu konsekuensiku sebagai anak tunggal dari keluaga Weasley yang serba sibuk. Kelak, bila aku menjadi Ibu. Aku takkan melewatkan perhatianku kepada anakku. Sesibuk apapun pekerjaanku, aku akan selalu ada untuk anakku. Aku akan tanya semua hal yang telah ia lalui. Tapi mama, tak. Tak pernah  bertanya, bagaimana hari-hariku ini. Ada masalah apa. Sekarang tiba-tiba saja mengajakku ke mall. Biasanya jika weekend, mama lebih suka arisan dengan teman-temannya yang centil itu. Di mall, aku hanya bisa berjalan di belakang mama dengan malas. Sesekali mama menyocokkan baju yang dipilihnya dengan badanku, lalu langsung membelinya. Hambur. Padahan aku tak suka. Akhirnya? Numpuk di lemari. Boros.
“Ma, aku ke Bread Talk dulu yaa. Mau cari camilan.” Izinku
“Iya, hati-hati yaa.”
“Oke, ketemu lagi di XXI ya ma”

“Hmm.. kira-kira apa ya yang mau diomongin mama? Bikin aku kaget?” tanyaku dalam pikiran sambil mengambil sepotong tiramisu.
“Dahsyat.” ucap Glenn sambil mencicipi cheesecake.
“Apa ya kira-kira?” ucapku masih bertanya-tanya.

Di perjalananku menuju XXI, ternyata ada toko kaset! Ke sana ah! Siapa tau ada kaset jazz beat terbaru. Di sela-sela pencarianku dengan kaset jazz beat, tiba-tiba aku melihat sosok seorang yang ada di dalam foto album sedang memainkan piano putihnya. Ya! Itu Sam! Keren banget! Jadi, ia udah punya album? Fantastic! Aku beli ah!
“Eh Chiky, kamu kemana aja. Mama tungguin lama banget.”
“Maaf ma, tadi ke toko kaset dulu beli albumnya Sam.”
“Yaudah, kita langsung pulang ya. Mama mau ngomong.”
“Oke.”
Di mobil, aku merasa gugup. Apa ya? Cepet dong ma. Aku udah tak sabar.
“Chiky, mama ada panggilan ke Kanada. Papa juga lagi ada tugas di Turki. Kita bakal lama di sana, sepanjang musim panas.”
Ah! Sebenernya tak kaget. Aku sudah biasa mnghadapi situasi ini, sendiri di rumah. Yeah! Musim panas kali ini bosan. Untung ada Glenn dan Sam. “Trus ma?” ucapku penasaran.
“Hmm.. rencananya bair musim panas kamu tak ngebosenin kamu bakal mama titipin ke tante kamu di New York. Kamu bisa liburan ke sana.”
Suck! Sial! Tak bisa ngapa-ngapain dong kalo liburan ada yang ngawasin. Suck!
“hmm.. siapa?”
“Tante Hellen namanya, nanti sore kamu berangkat. Makanya nanti kamu siapin baju-baju kamu nanti.”
“Yeah.” Jawabku dengan nada malas.
“Ayolah, semangat!” kata Glenn memberi semangat.
“hhh.” Jawabku jenuh.

Perjalanan antara Chicago dan New York mungkin sekitar 3 jam dengan mobil. Dengan malas, aku mengunya permen karetku dan memainkan playlistku, lagu Run Devil Run milik SNSD. Ah! Devil? “Aku?” tanya Glenn. “Just kidding, hehe.” jawabku. Permen karetku sudah tak terasa lagi, aku tambah permen karetku dan mulai mengunyahnya dengan cepat. Mungkin 10 permen karet, ah! Lebih! Untuk ke New York. New York? Sam! Sam kan tinggal di New York! Ah! Semoga saja kita bertemu lagi. Aku buka laptopku dan mencoba mengirim e-mail ke Sam.

To        : Sam_Dewny@rocketmail.com
Cc        : ChikytaWeasley@yahoo.com
Subject : J
Sam! Aku akan liburan ke New York kali ini. Aku akan main ke rumahmu jika sempat. Kirim alamatmu ya!

Yeah! Liburan yang cukup asyik!
“Apa kataku!” celetuk Sam.
“Chiky, ½ jam lagi kita sampai. Nanti kamu cegat taxi aja di pertigaan, mama malas putar balik.”
“Yeah ma, ma tante Hellen mukanya seperti apa?”
“Oya! Ini ada foto dan alamatnya. Kamu tunjukkin alamat ke supir taxinya, dia pasti tau kok.”
“Sip.”
Tante Hellen. Aku tak pernah mengenalnya. Aku juga baru tau, dia adik mamaku. Tapi fotonya. Aku pernah lihat! Ah! Tapi dimana? Benar! Aku pernah liat. Memakai kacamata berambut sebahu berwarna coklat. Siapa ya? Aku pernah liat! Tapi siapa? Ah! Liat saja nanti.
“Chiky, di situ ada taxi. Sana. Hati-hati ya sayang. Jaga diri baik-baik. Uang bekalmu suadah ada di tante Hellen.” Ucap mama sambil mengecup keningku.
“Dah mama.” Pamitku singkat.

“Kak Glenn, kira-kira siapa sih tante Hellen ini?” tanyaku pada Glenn sambil berjalan menuju taxi.
“Nanti juga kau tau.” Jawabnya sambil tersenyum misterius.
“Pak, tolong ke alamat ini. Tolong ngebut yaa!” perintahku sambil menyerahkan alamat yang diberikan mama.
“Iya non.” Jawab supir taxi itu dengan singkat sambil mengangkat topinya.

Di dalam taxi, aku masih memandangi foto tante Hellen. Entah apa yang membuatku untuk terus memandanginya. Tapi kurasa aku pernah melihat tante Hellen. Tapi entah dimana. Aku lupa!
“Kak, kau pasti tau kan tante Hellen?” tanyaku dalam hati pada Glenn.
“Ya.” Jawabnya sambil tertidur.
Ah, sudahlah. Pasti Glenn takkan memberitahukannya. Lebih baik aku tau nanti.
“Sudah sampai non, silahkan.” Ucap supir taxi mengagetkan lamunanku.
“Dimana rumahnya? Ini uangnya, terima kasih.”
“Di sebelah kanan, kembali.”

Aku bergegas menuju rumah bernomor 696 itu. Berjalan dengan cepat karna dasar penasaranku. Rumahnya lumayan mewah bernuansa gold. Sepertinya Tante Hellen sangat menyukai seni musik. Karena banyak not balok yang digambarkan di dinding luar rumahnya. Pagarnya pun terdapat ukiran-ukiran not balok berbahan tembaga tipis.
“Rupanya kau sudah sampai, Chiky. Ayo masuk. Mamamu baru saja menelponku dan bilang kau sudah sampai di New York.” ucap seorang wanita 25 tahunan dengan ramah sambil membuka gerbang tinggi. Aku memendanginya dengan seksama. Ya! Itu tante Hellen. Persis seperti di foto. Dan sekali lagi, aku rasa aku pernah melihatnya.
“Tante Hellen? Bagaimana kau tau namaku? Kita pernah bertemu?” tanyaku sambil masuk ke rumahnya yang cantik dengan tasku yang sedikit berat.
“Ya, bagaimana aku tak tau. Aku sering mengajakmu bermain ke sini saat kau kecil. Sangat kecil. Mungkin kau sudah lupa, tapi banyak fotomu di dalam rumah.”
“Oh.” Jawabku singkat dengan masih memendam pertanyaan yang terus membayangiku, siapa tante Hellen ini?
Di dalam rumah tante Hellen, terasa sekali aroma seni. Wow! Sungguh cantik.
“Saaaaaaaaam! Keponakanku sudah datang. Cepat ke sini!” teriak tante Hellen kepada seseorang.
Sam? Samuel Dewny? Tidak mungkin!
“Ya tante.” jawab seorang lelaki yang sebaya denganku sambil menuju ke ruang tamu.
“Chiky, ini Sam. Sam ini Chiky, keponakan tante. Yang ada dalam album itu.” ucap tante Hellen saling memperkenalkan kami.
“Sam? Kau Sam Dewny?” tanyaku padanya.
“Ya, kita pernah bertemu?
“Ya!”
“Ah! Aku ingat, kau Chikyta Weasley?”
“Yap!”
“Yang waktu itu aku pernah menumpahkan air ke bajumu. Ah, maafkan aku. Jadi kau keponakan tante Hellen juga?”
“Ya, memang kau siapanya tante Hellen?”
“Kakakku kekasihnya dan dia juga managerku. Wow! Baru saja aku ingin membalas emailmu. Ternyata kau ke New York untuk juga menemuiku.” kata Sam sambil tertawa kecil.
“Ah! Pantas saja aku merasa aku pernah melihat tante Hellen. Ternyata aku pernah melihatnya di konser itu bersamamu.”
“Dunia ini memang sempit, kawan!”
“Tante ingat sekarang. Waktu itu tante sempat ke toilet dulu. Jadi tak tau bahwa itu kamu. Syukurlah, kalau kalian sudah saling kenal. Ayo chiky, bawa tasmu. Akan ku tunjukkan kamarmu.”
“Baiklah.”

Lega rasanya, pertanyaanku sudah terjawab. Hmm. . sepertinya aku akan nyaman tinggal di sini. Kamar ini lumayan bagus dengan hiasan-hiasan not balok. Pantas saja rumah ini bernuansa seni musik, sepertinya bukan hanya tante Hellen yang suka dengan musik tapi mungkin karna permintaan Sam. Semoga saja, liburan musim panas kali ini mampu membuatku sedikit lupa akan David.
“Hey, Chiky. Seprtinya kau sedang melamun. Daripada kau melamun, aku ajak kau ke ruangan favoritku.” tiba-tiba Sam muncul di kamarku.
“Oke.” jawabku sambil mengunyah permen karet sisa tadi.

“Wow! Ini piano yang cantik. Ah! Persis di albummu.”
“Betul! Ini piano kesayanganku, kau sudah membeli albumku? Keren!”
“Tentu saja. Aku tagih janjimu.”
“Janji? Ya! Mengajarimu.” jawab Sam dengan nada lesu dan muka masam.
“Mengapa mukamu tiba-tiba murung? Kau tak mau mengajariku? Tak apa.”
“Jika aku mengajarimu, berjanjilah kau takkan pergi.”
“Pergi? Untuk apa aku pergi?”
Tiba-tiba Sam berjalan dengan dingin untuk meninggalkanku tanpa kejelasan dengan raut muka yang sedikit kesal. Aku tak tau ia kenapa. Aku bingung. Apa salah kata-kataku? Atau memang ia tak ingin mengajariku. Lagipula aku kan tak memaksanya. Ada apa dengannya? “Susul!” perintah Glenn tiba-tiba. Segera aku menyusulnya.
Terlihat ia sedang duduk di kolam ikan dan memberi makan ikan-ikan yang cantik itu.
“Ada apa, Sam? Maafkan kata-kataku tadi jika menyiggungmu.”
“Tak ada, aku hanya teringat sesuatu.”
“Apa itu? Aku tak mengerti dengan maksudmu tadi degan kata ‘pergi’. Pergi kemana?”
“Kau seolah mengejekku. Ikan-ikan itu juga.”
“Mengejek? Aku mengerti. Kau juga pernah ditinggalkan seseoerang? Aku juga. Sakit sekali.”
“Ya. Tentu saja. Perih. Pedih. Tak tau terima kasih!”
“Ceritakan padaku kepedihanmu. Kita sependeritaan.”
“Dulu, aku punya seorang kekasih. Pacar yang setia menemaniku. Namanya Jean. Ia berjanji takkan meninggalkanku dan akan terus di sampingku. Tapi tiba-tiba ia menghilang tanpa sebab.”
“Mengapa ia meninggalkanmu? Apa kau berbuat salah sepertiku?”
“Mungkin. Aku salah karna telah melatihnya menjadi pianis handal sepertiku. Ia berubah. Tidak seperti dulu. Ia menjauhiku. Gengsi. Ya! Ia gengsi padaku. Dan hubungan kami pun berakhir dalam pertengkaran yang hebat. Ia menghilang bagai setan! Kau kenapa?”
“Hah? Aku tak apa.”
“Kau meneteskan air matamu.”
“Tidak, ini kelilipan.”
“Jujurlah. Aku tau kau tidak sekuat aku.” Ucap Sam sambil menghapus air mataku dengan tangan lembutnya yang biasa ia gunakan untuk menyentuh dentingan tuts piano yang indah.
“Aku hanya teringat David.”
“Sahabatmu? Ia meninggalkanmu juga? Benar-benar tak tau diuntung!”
“Ya, aku tak tau mengapa ia meninggalkanku. Aku juga tak tau ia pindah kemana. Tapi memang belakangan itu kami ada sedikit masalah.”
“Begitu. Aku hanya ingin mengatakan pada mereka bahwa mereka akan menyesal.”
“Ya, aku juga. Jadi itu alasanmu tidak ingin mengajariku. Aku mengerti. Tapi aku takkan meninggalkanmu. Mana mungkin aku berbuat seperti itu. Aku tak perlu kemahiran bermain piano. Yang aku butuhkan hanya seorang teman yang bisa menjagaku dan memberi sepenuh perhatiannya untukku. Dan yang terakhir, tidak akan menyakitiku.”
“Yes, I can. Ayo, kita ke ruanganku.” ucap Sam semangat sambil menarik tanganku.
Aku tersenyum puas. Liburan kali ini memang akan menjadi liburan terbaikku. Sam mulai mengajariku dasar-dasar tentang piano. Walaupun aku sedikit tak suka. Tapi yang membuat menarik adalah Sam yang mengajariku dengan sabar. Yap! Sedikit-sedikit aku mulai menguasai dasar piano.
“Sekarang kita sahabat?” tanyaku.
“Forever.”
“Thanks.”

“Kau tak bosan, seminggu ini kau selalu latihan piano.” tanya Sam menghentikan permainan pianonya.
“Hmm… tidak. Kenapa?”
“Kau tak ingin keluar rumah untuk jalan-jalan. Ini kan musim panas.”
“Aku sudah enjoy di sini.”
“Kau tak ingin melewatkan saat-saat indah New York saat musim panas?”
“Tidak.”
“Kau yakin? Ada ‘aqua’ New York yang indah saat musim panas.”
“Aqua? Apa itu?”
“Nanti kau juga tahu. Aku yakin kau pasti suka.”
“Baiklah.”
Aku mulai merasa nyaman berada di dekat Sam. Ia selalu memberikan perhatiannya kepadaku. Selama aku di New York, aku selalu bangun lebih pagi. Itu karena dentingan tuts piano yang lembut membangunkanku tepat pukul 5.30. siapa lagi. Ya! Sam yang memainkannya, ia selalu memainkan piano putih kesayangannya setiap bangun tidur. Setiap hari, tak ada hari tanpa senyum dan tawa. Benar-benar sempurna hariku dengannya. Senyumannya yang manis selalu menghiasi pandanganku. Kata-kata yang keluar dari mulut kecilnya selalu dapat menenangkan hatiku. Seperti bantal yang empuk untuk membuatku nyaman, tenang dan selalu dapat menyandarkan tubuh ini saat lelah dan putus asa. Seperti pencakar langit yang terus menjagaku dari marabahaya. Aku berjalan di belakangnya menuju Aqua yang ditunjukkan Sam. Ia memegang erat tanganku seolah tak ingin kehilanganku. Aku pun juga. Memegang erat tangannya yang selalu menjagaku. Munculah rasa egoisku. Egois. Egois yang tak bisa dilawanku. Tak ingin melepas Sam dan membuatnya menjadi milikku sekorang. Ya. Hanya aku yang boleh memilikinya. Memiliki kasih sayangnya, pengertiannya dan segala yang ada di dirinya. Hal inilah yang selalu membuatku kalah. Aku tak bisa melawan keegoisanku. Termasuk pada David. Saat itu, aku pun tak bisa melawan keegoisanku untuk melepasnya. Membuatnya pergi. Makanya sampai saat ini aku masih tak bisa merelakannya pergi jauh dariku. Ah! Mengapa aku tak bisa memusnahkannya.
“Kau sudah berusaha. Terakhir adalah hasilnya. Biar Tuhan yang menentukan.” bisik Glenn mengagetkanku sambil mengusap mukanya.
“Yeah! Aku pun tak ingin melepasmu, Glenn. Kau akan selalu di duniaku kan?” tanyaku cemas dalam hati.
“Aku tak tau, tapi belakangan ini aku sering merasa aku harus meninggalkanmu sekarang.”
“Hah? Tapi mengapa? Kau tak boleh.”
“Tak bisa.”
“Stop! Jangan lanjutkan percakapan kita dalam hati ini. Aku tak ingin lagi kau ucapkan kau akan menghilang!”
“Aku tak tau pasti. Aku pasrah.”
“Stop!”
“Kau egois.”
“Glenn?”
Tiba-tiba Glenn menghilang, uh! Pasti ia hanya marah padaku. Nanti juga kembali. Sudahlah. Aku tak boleh memasang raut muka cemberut di depan Sam. Aku tak ingin membuatnya sedih juga.

“Sampaaaai!” teriak Sam sambil menujuk ke hamparan pantai yang sangat indah terpapar sinar matahari sambil mengangkat kedua tangannya ke atas lalu merangkulku.
“Wow! Sam, kau mengajakku ke tempat yang sangat indah! It’s Wonderful!”
Aku memandang luas hamparan pasir dan lautan itu. Sangat indah. Berwarna keemasan karena ditemani sang Raja siang. I love gold!
“Panas sekali.” Kataku.
“Memang. Ah aku lupa memakaikanmu topi. Tapi aku sudah menyiapkannya untukmu.”
“Apa?”
“Es krim.”
“Terimakasih Sam.”
“Aku senang saat melihatmu tersenyum.”
“Aku pun begitu.” Dengan tersenyum sambil melahap es krim strawberry kesukaanku.
“Senyummu begitu indah. Ayo kita ke gondola!” ajak Sam tiba-tiba menarik tanganku.

Di dalam gondola, aku bisa melihat semuanya dari atas. Orang-orang seperti semut. Sam menyebutnya gondola, padahal bagiku yang seperti ini bianglala. Aku memandangi hamparan laut. Tak bisa berhenti. Indaaaaaaaah sekali! Tak ada pemandangan seperti ini di Chicago. Kota yang dingin dengan kesibukan orang-orang. Seandainya aku bisa pindah ke sini ataupun ke dunia peterpan dan tinkerbell. Mimpi! Entah mengapa, Sam sepertinya memandangi aku. Ada apa ya? Ada yang salah dengan mukaku?
“Ada apa Sam?” tanyaku penasaran.
“Ah, tidak. Ada es krim di mulutmu.” jawabnya sembari terkaget.
“Ah mana?”
“Sini aku bersihkan. Kau lucu sekali, seperti anak kecil.” katanya sambil tertawa kecil.
“Ah sudah! Aku malu. Untung hanya ada kita berdua di bianglala ini.”
“Sepertinya kita harus segera pulang. Aku takut tante Hellen memarahi kita.”
“Mana mungkin tante Hellen memarahi kita. Lagipula ini belum terlalu sore. Ayolah Sam sekali lagi saja putaran bianglala ini.” pintaku.
“Hmm… baiklah.” katanya pasrah.

Liburanku telah berakhir. Hari ini mama akan menjemputku. Ah! Kembali ke Chicago. Sekolah dan bertemu Key-_- Damn! Glenn? Aku baru ingat! Setelah aku bersama Sam ke aqua, aku tak melihat lagi. Shit! Ada apa dengannya? Glenn? Glenn? Panggilku dalam hati.
“Yeah?”
“Apa kau masih marah?”
“Yeah… menurutmu?”
“Maaf.”
“Maaf?”
“Ya, maaf.”
“Ya, egois.”
“Ya. It’s me.”
“Aku merasa tak dibutuhkan lagi disini.”
“Kenapa?”
“Ada Sam.”
“Kau cemburu.”
“Ya, jelas.”
“Tapi kau kan juga mendukungku untuk dekat pada Sam.”
“Kau akan menyesal.”
“Kau plin plan.”
“Kau juga.”
“Ya?”
“Selamat tinggal.”
Aku sendiri bingung pada percakapanku dengan Glenn barusan. Aku bosan dengan obrolanku yang selalu itu-itu saja. Ah! Lepas saja Glenn. Kali ini aku sedikit bingung dengan sikapku. Munafik. Aku tak ingin melepas David tapi dengan mudah aku melepas Glenn. Ah! Masa bodo! Aku sudah tak butuh hantu itu. Lagipula mana ada yang namanya hantu. Mungkin ia hanya imajinasiku karena pengaruh kata-kata Pak Harry. Sekali lagi aku plin plan. Tak ada manusia yang plin plan. Itu wajar.
Pulang ke Chicago. Meninggalkan aqua yang cantik dan kenangan bersama Sam. Aku merasa ada yang berbeda dari Sam. Sepertinya ia spesial. Aku menyukainya. Aku suka dia. Andai ia tau. Andai ia punya rasa yang sama. Ini namanya jatuh cinta. Aku merasakannya. Ini berbeda. Sangat indah seperti aqua! Menurutku Sam romantis. Sam seperti sosok Peterpan. Muncul secara magic. Dan aku berharap menjadi Wendy. Mendapat ciuman pertamanya. Merasakannya. Aku ingin terbang bersamanya. Seperti Peter mengajak Wendy ke dunianya dengan terbang. Aku sayang Sam. Seketika rasa ini muncul. Tiba-tiba, tante Hellen memanggilku dari luar. Tandanya mama sudah menjemputku. Malas sekali. Inginnya aku tidak bernjak dari tempat tidur ini. Tapi sudah seharusnya aku pulang. Segera kukemasi tasku.
“Enjoy?” tanya Sam tiba-tiba di pintu kamar.
“Yeah, thank you.”
“Kita akan bertemu lagi. Jarak tak memisahkan kita kan?”
“Ya.”
“Ini nomer ponselku.”
“Oke.”

“Ayo, chiky!” kata mama.
“Iya, ma. Terima kasih ya, tante Hellen dan Sam. Sampai jumpa.”
“Selamat jalan.”jawab tante Hellen.
                                                                          
Di mobil, seperti biasa. Kami tak bicara. Selalu. Mama tak menanyakan liburanku. Tak tanya sudah apa saja yang kulalui. Tak tanya enjoykah aku dengan liburan pilihannya. Mama yang aneh. Aha! Aku tak mau lagi berurusan lagi dengan anak-anak Higway School. Mengapa aku tak pindah saja. Lagipula Highway School hanya tinggal kenangan. Aku ingin sedikit melupakan David. Ke sekolah terpencil pun tak apa yang penting bisa belajar. Aku akan memintanya sekarang. Mama tidak akan menolaknya. Aku kan anak satu-satunya.
“Ma?”
“Ya?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar