Sabtu, 25 Februari 2012

Copy and Paste "Jane and Sarah"


Sekedar pendahuluan. Gua tuh sangat tertarik banget ama cerita horror gitu. Walaupun gue udah rada sibuk menjelang UN apalagi minggu depan TO3. Doain sukses ya. Tapi gua tetep ngusahain baca-baca cerita horor, nulis cerita horor dan ini menyebarkan cerita horor. Nah, kali ini gua lagi tertarik ama blognya teteh Risa Sarasvati (link blognya bisa lu cek di profil gua nyak). Kemampuannya yg bisa melihat apa yang gak bisa kita lihat menghasilkan banyak cerita seru nih. Seandainya gua bisa 'melihat' juga. Gua pengen liat sosok Peter yang jadi temen masa kecil teh Risa. Sebenernya sih di mimpi gua duluuuuuuuu bgt, gua sering ngeliat sosok Peter tapi itu muncul karna gua terinspirasi bgtbgt ama Peterpan yang diperanin ama Jeremy Sumpter *ganyambung._. Oke gua agak sedikit serius kali ini. Salah satu cerita favorit gua tuh ini. Jane dan Sarah. Gua gak merinding baca ini. Gua lebih masuk, memerankan dan merasakan gua ada di cerita ini. Balik ke zaman Belanda. Sahabat yg setia sampai mati terjebak di rumah yg terbakar. Gua bisa bayangin gimana pasrahnya gua.... So, this is the story!


Ameliasarah namaku, anak perempuan yang merasa sudah sangat dewasa padahal ibu selalu mengingatkan "Sarah, umur kamu masih 9 tahun", putri pertama dari keluarga berdarah jawa sunda yang sangat diperlakukan istimewa oleh Ibu dan Bapak bahkan lebih istimewa jika dibandingkan perlakuan mereka terhadap 2 adik laki lakiku yang terpaut hanya 1 dan 2 tahun dibawah umurku, dan lebih anehnya...kedua adikku tidak pernah merasa keberatan dengan perlakuan istimewa milikku, mereka bahkan sangat menyayangiku. 

Coba sebut apa yang aku ingin makan hari ini, ibu akan bergegas membuatkan atau mencarikannya untukku. Coba sebut benda apa yang sedang ingin kumiliki saat ini, makan bapak akan bergegas membelikannya untukku. Aku sangat percaya diri jika memang harus menyebut diriku cukup cantik, beruntung Ibu seorang wanita sunda berparas rupawan, dan Bapak adalah lelaki jawa yang cukup gagah jika dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Hidupku sempurna, siapapun akan merasa iri melihat betapa sempurnanya hidupku.


11 agustus 1926

Bapak yang merupakan tuan tanah di daerah tempat tinggalku mendapatkan kunjungan dari pemerintah Belanda. Sudah sejak lama bapak mewanti wanti dirinya agar berhati hati dengan invasi orang orang berwajah tampan berambut pirang yang tiba tiba banyak berlalu lalang di negaraku. Aku tak tahu apapun tentang mereka, yang aku tahu... keluargaku adalah salah satu yang cukup beruntung bisa beramah tamah dengan mereka, bahkan aku mempunyai beberapa teman kecil berambut pirang yang tak merasa jijik berbicara bahkan bermain denganku.

Kalian harus tahu, bahkan aku berada satu sekolah dengan mereka, anak anak cantik yang merasa kastanya lebih tinggi dari wajah wajah anak bangsaku. Bapak selalu mengingatkan, "Jangan terlalu dekat dengan mereka Sarah.... bagaimanapun, bapak berjuang untuk bangsa ini, bangsa kita... Bukan untuk mereka". Aku tidak pernah mengerti arti dibalik ucapan Bapak.



24 oktober 1926

Usaha Bapak semakin pesat, aku Ibu dan dua adik laki-lakiku merasakan semua hasil usaha Bapak. Pemandangan orang orang berambut pirang sudah menjadi sangat biasa di rumah ini, rumah kami yang sebenarnya terlalu besar untuk ditinggali keluarga kecilku. Bapak semakin bersahabat dengan beberapa petinggi asal netherland itu. Ibu sudah mulai terlihat akrab dengan istri-istri mereka, bahkan tak jarang kami bertamasya sekedar hanya makan siang di lahan perkebunan kopi milik Bapak. Hidupku sangat menyenangkan....hidup kami sangat indah.

O iya, kini aku mempunyai seorang sahabat... dia bernama Jane. Umurnya masih 8 tapi postur tubuhnya terlihat seperti gadis berumur belasan tahun. Dia adalah anak dari sahabat Bapak yang kalau aku tidak salah, kedua ayah kami bekerja sama untuk membuat suatu usaha. Aku dan Jane sudah seperti kakak beradik, dimana ada aku.. disitu ada Jane. Dia aadalah putri tunggal, tapi jauh lebih mandiri daripadaku. Sedikit demi sedikit Jane banyak mengajarkanku untuk tidak manja. Betul saja, setelah mengenalnya...aku tak lagi banyak menuntut sesuatu yang berlebihan dari Ibu dan Bapak. Bahkan aku berani menasihati Ibu agar lebih memperhatikan keinginan kedua adik laki-lakiku.



1 Januari 1927

Aku dan Jane sedang berlarian di kebun kopi milik Bapak, yang kini menjadi milik ayah Jane juga. Rupanya ayah kami melakukan suatu perjanjian untuk melakukan usaha bersama-sama. Aku dan Jane hanya bisa bersyukur kepada Tuhan atas keputusan mereka akan hal itu. Artinya, kami tak akan pernah terpisahkan. Kami masih berlarian tertawa lepas sambil berpegangan tangan. Didepan kami kulihat beberapa warga sekitar yang sedang berkumpul seperti tengah membicarakan sesuatu. Jane menarik lenganku, kami masuk ke dalam semak-semak lantas diam-diam menguping apa yang sedang dibicarakan orang-orang itu. Kami mendengar, "Ini tidak bisa dibiarkan, tuan sudah menjadi penghianat! Kita tidak akan pernah sudi menjilat kaki seorang penghianat lagi. Benar benar tidak bisa dibiarkan!", aku dan Jane saling berpandangan.....lantas terkikik menahan tawa karena wajah mereka terlihat lucu, marah dan berapi-api. Lalu aku menarik tangan Jane, mengendap mencari jalan lain agar tidak terlihat oleh mereka yang sedang berkumpul dan terlihat marah.



7 Maret 1927

Entah apa yang terjadi, kesehatanku tiba-tiba saja menurun di awal bulan ini. Seperti yang sudah tahu akan terjadi seperti ini, Ibu dan Bapak tidak terlihat terlalu panik. Mereka hanya bisa memelukku erat saat badanku terus melemah dan melemah. Kedua adikku selalu berada di dekatku, memeluk kaki dan menatap wajahku dengan tatapan sedih. Aku tak ingin terlalu banyak bertanya, seorang dokter keturunan belanda dan dua orang suster mulai tinggal di dalam rumahku.

Kaki dan tangan begitu sulit untuk digerakkan, berat badan menurun drastis meski hanya 1 minggu. Dan Jane, tentu saja...melebihi intensitas keluargaku, dia bahkan memutuskan untuk pindah dan menetap di rumahku. Ayahnya yang sangat baik hati mengijinkan Jane untuk mendampingiku, hidupku.... indah.



14 April 1927

Aku hanya bisa terbaring kali ini diatas tempat tidurku. Menyedihkan, setiap harinya mulutku harus mengeluarkan muntahan beberapa gumpalan darah. Rasa lega terjadi jika gumpalan darah itu kukeluarkan dari tubuh ini. Badanku semakin kurus dan kering. Ibu dan Bapak membuang semua cermin di kamar ini, aku setuju dengan ide mereka. Lebih baik hanya merasakan saja bagaimana kondisi tubuhku ini, tidak usah memastikan dengan cara melihat cermin. Perlahan helaian rambut ini juga berjatuhan hebat, enatah apa yang sedang menggerogotiku.

Jane masih saja ada di sampingku, dia yang sangat kusayangi menghadiahiku sebuah kain untuk menutupi kepalaku yang hampir polos tak lagi memiliki rambut.



25 April 1927

Terjadi keributan diluar kamarku, entah apa yang terjadi tapi ini sudah malam bahkan mataku begitu sulit untuk diangkat. Ingin rasanya mencari tahu apa yang terjadi diluar sana. Jane yang tertidur disampingku terperanjat kaget, dan mencoba menenangkanku agar kembali tidur. Kulihat dia beranjak meninggalkan kamarku sepertinya mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Jane kembali ke kamar, dia berkata "Tidurlah Sarah, semuanya baik baik saja.... diluar terjadi keributan akibat babi liar yang tidak sengaja masuk ke dalam halaman rumahmu".



26 April 1927

Ibu mendatangi kamarku, kali ini dengan wajah sedih dan mata sembab. Bapak berada dibelakangnya, juga dengan tatapan yang sama sedihnya. Mereka mendatangiku lalu memelukku dengan erat sambil berkata, "Sarah... bertahanlah untuk kami... karena semua ini kami lakukan untuk kamu.." mereka lalu pergi dan meninggalkan sejuta pertanyaan di dalam benakku. 



6 Mei 1927

Coba tebak, kini badanku kaku tak bisa bergerak. Sebagian besar dari tubuhku sudah lumpuh, kini aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya ekspresi mata yang bisa kulakukan untuk berinteraksi dengan orang lain. Obat-obatan semakin tak terelakan, selang dan berbagai cairan aneh sudah menjadi makanan sehari hariku. Jane dan kedua adik laki-lakiku semakin sering memeluk dan mengucap banyak doa ditelingaku. Aku masih bisa mendengar doa mereka, ungkapan hati mereka, cerita mereka...dengan menggunakan telinga ini. Terimakasih Tuhan... hidupku indah.



1 juni 1927

Terjadi keributan diluar sana, seperti ada sesuatu benda keras yang dilempar melalui jendela rumah depan. Bunyinya sangat keras dan sangat mengagetkanku. Sepertinya ada sesuatu yang pecah akibatnya.



10 juni 1927

Ibu dan Bapak semakin jarang mendatangi kamarku, sepertinya ada suatu hal yang harus mereka urusi. Aku tak percaya kalau mereka tak lagi peduli padaku, walau ragaku kini hanya terlihat seperti mayat hidup. Kedua adikku masih setia menungguiku di kamar yang sudah terasa sangat membosankan bagiku. Jangan tanya kemana Jane, karena dia selalu ada mendampingiku. Kegiatan baru jane kini adalah merajut topi yang konon dia buatkan untuk kepalaku yang kini benar benar plontos.

Sekali waktu Ayah dan Ibu Jane menjengukku, sebelumnya sempat kudengar nada perdebatan antara Jane dengan kedua orangtuanya di luar kamar. Tapi mereka masuk dalam keadaan tersenyum saat berada di dalam kamarku. Pikirku, mungkin orangtuanya ingin agar Jane pulang. Ingin rasanya aku berkata "Pulanglah Jane...ayah ibumu pasti merindukanmu.." tapi aku tidak bisa melakukannya, mataku tidak bisa berkata sebanyak itu untuk menyampaikannya.



17 Juni 1927

"Sarah!!!! Besok kamu ulang tahun!!!! Akan kupakaikan baju terindah milikku di tubuhmu Sarah!!!! kita harus merayakannya!!!" Jane berteriak seperti orang gila pagi itu. Bapak dan Ibuku masuk dan tersenyum menatap kelakuan sahabatku ini, 2 adik kecilku ikut berteriak "Horee!!! Ibu Bapakk....kami ingin membeli hadiah untuk Sarah!!!" Tiba-tiba saja suasana di kamar ini menjadi sangat penuh warna. Kurasakan tawa yang lama tak lagi ada di rumah ini mungkin akibat diriku yang sakit-sakitan dan lemah. Dua suster yang biasa menjaga kesehatanku juga ikut berkata, "Kami akan menggunakan baju yang bagus untuk Sarah!" Terimakasih Tuhan....hidupku indah.



17 Juni 1927 petang

Jane membawa baju yang dia janjikan, mencoba memakaikannya dibadanku yang kaku. Kulihat warna baju itu sangatlah damai, putih susu...berenda dan agak kebesaran ditubuhku yang kini jauh lebih menyusut. Jane memang sahabat yang sangat gila, walau aku lemah.. dia tak gentar mencoba memakaikan bajunya ditubuhku. Bapak Ibu dan kedua adikku mendatangi kamarku, mereka tersenyum "Kamu cantik sekali Sarah...ijinkan kami pergi sebentar ya sayang, membeli hadiah untukmu dan beberapa persiapan untuk hari istimewamu", aku mengedipkan sebelah mataku tanda setuju. Suster dan Dokter juga pergi sore itu, begitu antusiasnya mereka mempersiapkan hari yang mereka anggap spesial. Hanya tinggal aku dan Jane di rumah ini, tak mengapa... asal ada Jane, aku merasa aman meski lemah dan tak berdaya.



17 Juni 1927 saat mentari mulai tenggelam

Aku dan Jane sedang tertidur lelap, belum terlalu malam saat itu. Ibu, Bapak, 2 adikku, Suster serta Dokter rupanya belum pulang ke rumah. Ada beberapa pekerja dan pesuruh dibelakang rumah, namun mereka tidak pernah berani masuk ke dalam rumah.

Tiba-tiba saja Jane terperanjat hebat, aku pun membelalakkan mata dengan paniknya. Kami sama-sama mendengar teriakan banyak orang diluar rumahku yang entah meneriakan kata kata apa, namun terdengar marah dan kasar. Suara pecahan jendela yang dilempari benda keras terdengar berkali kali bahkan lebih parah dari yang sebelumnya pernah kudengar. Biasanya Jane berlari keluar mencari tahu apa yang terjadi, namun malam itu dia hanya memelukku dengan erat. Erat sekali seakan tidak pernah mau terpisahkan denganku.

Suasana disekitarku terasa sangat panas, hawa yang biasanya dingin kini terasa begitu menyengat dikulitku karena panas. Teriakan orang orang diluar semakin terdengar jelas, Jane semakin kencang memelukku. Tetesan airmata mulai menyeruak keluar dari mataku, aku panik.... bagaimana Ibu bagaimana Bapak bagaimana 2 adikku bagaimana nasib mereka.

Rupanya sengatan panas ini timbul dari api yang mulai menjalar di dinding-dinding rumahku, kini sampai di ruangan tempatku terbaring kaku dan ketakutan. Siapa mereka? siapa orang-orang itu betapa beraninya melakukan ini terhadap hidupku yang sempurna?

Jane semakin memelukku kencang, tak berusaha membawaku pergi. Aku tahu dia hanya ingin melindungiku.... meski sesungguhnya ingin aku berteriak "pergilah Jane selamatkan dirimu!!!!" air mata terus berurai. Sama dengan api yang semakin sengit menjalar meluluhtantakan semuanya... termasuk kami berdua yang sedang berpelukan. Aku dan Jane.



17 Juni 1998

Aku dan Jane berdiri di perkebunan yang kini menjadi perumahan, namun ada sepetak tanah yang masih mengingatkan kami akan kebun kami. Berpegangan tangan. Jane tidak pernah menyalahkanku atas kematiannya. Kami masih bersahabat bahkan lebih dekat dari kami saat masih bernafas dulu.

Hidup kami indah..... bahkan kini kami mempunyai tanggal kematian yang sama, dimana setiap tahunnya, kami akan berdiri berpegangan tangan di tanah tempat kami dulu berpelukan erat hingga berhenti bernafas. Ibu Bapak Adik Adikku, bahkan orangtua Jane... entahlah mereka dimana kini.

Aku bersyukur masih bisa bertemu Jane dan bisa memegangi tangannya seperti saat ini. Terimakasih tuhan..... hidupku indah.


Copy paste from Risa Sarasvati's Blog. Enjoy!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar