Jumat, 13 Januari 2012

Cerita Chikyta Weasley Part 2, dibikin kilat



Di kamar, aku hanya terdiam. Sesekali aku melirik jam yang seolah-olah menertawakanku dengan dentingannya. Jam dindingku menunjukkan pukul 18.00. artinya 1 jam lagi, aku harus menonton konser piano klasik dengan orangtuaku. Aku masih memikirkan kejadian tadi di sekolah. Aku sudah tak tahan sekolah di sana. Terbesit di pikiranku untuk pindah sekolah. Ah! Aku ingin melampiaskan kekesalanku. Aku ingin cerita. Tapi pada siapa? Dengan hantu itu? Gila! Tiba-tiba, lotionku jatuh dari meja rias. Ada apaan nih?
Ada apaan sih, lotion ini mendadak jatuh? Jangan-jangan…….. “Aduuuuhhh!!!!!!!!!!!” pekikku karna membentur meja rias dari kayu jati itu saat mengambil lotion. Kepalaku pusing. Pandanganku kabur. Berbayang-bayang. Tiba-tiba aku melihat sosok David di depanku. Ah! Itu bukan David. Ngapain dia di sini? Eh! Tapi itu emang David!
“Hey!” ucapnya dingin.
Aku masih heran siapa dia? Pandanganku masih sedikit kabur dan kepalaku masih sedikit pusing. Aku mengusap mataku dan mengerutkan dahiku. Itu David!
“David?” tanyaku penasaran.
“Bukan.” Jawabnya tidak bernada.
“Hah? Bukan David? Lantas siapa?”
“Aku Glenn. Ini lotionmu.”
“Glenn? Tetangga baru? Kenapa bisa masuk ke sini? Terima kasih lotionnya.” tanyaku sambil mengambil lotionku dari tangan dinginnya.
“Aku gambarmu, gurumu.” jawabnya lempeng sambil membalikkan badannya.
Dahiku kembali berkerut, digambarku? Guruku? Ah! Aku mengerti. Dia hantu itu? Bulu kudukku sedikit merinding. Tapi, aku melihat ada luka di kepala kirinya. Apa itu?
“Ini luka tembakkan, aku mati karna ditembak oleh sekumpulan orang yang mencoba membunuhku di rumah ini.”
“Bagaimana bisa kamu menjawab? Aku belum menanyakannya. Aku turut prihatin. Ada maksud apa mereka membunuhmu?” tanyaku penasaran.
“Aku mengerti hatimu, aku tau isi hatimu. Aku mengerti semua perasaanmu. Mereka menginginkan aku menyerahkan chip computer yang aku rancang untuk menciptakan sesuatu yang berpengaruh bagi mereka.”
“Chip? Entahlah, aku tak mengerti yang kau katakan. Kau mengerti hatiku? Selama ini kau mengikutiku?”
“Yap! Bisa dibilang begitu. Aku mengikuti semua gerak-gerikmu.”
“Jadi, selama ini aku tak sendiri?”
“KAu mau menerimaku?”
“Yap!”
“Really?”
“Ya. Berapa umurmu?”
“17 tahun saat ia membunuhku, 1978.”
Yeah, sekarang aku menemukan pengganti David, wajahnya persis seperti David. Sifatnya pun, aku pikir sama. Hanya dia dari dunia yang berbeda. Aku bingung, kenapa aku bisa melihatnya? Atau karna kepalaku terbentur. Whatever.
“Chiky… apa kau sudah siap? Ayo kita berangkat!” teriak Mama dari dalam kamar.
“Iyaaa, ma. Sebentar lagi.”
“Mama tunggu di mobil yaaa.”
“Okeeeeee!”

“Kau mau ikut?” tanyaku pada Glenn.
“Bolehkah?”
“Tentu.”
“Oke!”
“Duduklah di sebelahku.”

Di luar gedung pertunjukkan, aku melihat seorang lelaki seumuranku dikerumuni oleh wartawan. Seperti artis saja. Kayaknya ia pemain piano.
“Iya ya, seperti artis. Tapi dia mahir bermain pianonya.” celetuk Glenn yang ada di sebelahku.
Di dalam gedung pertunjukkan,aku mulai jenuh karna musik klasik yang membosankan. Sesekali aku melirik Glenn yang tertidur, sepertinya ia pun tidak suka musik klasik.
“Kau suka musik klasik?” bisikku pada Glenn.
“Tidak” jawabnya sambil terjaga dari tidurnya.
“Aku juga, aku jenuh. Ini sangat membosankan.”
“Tunggulah sebentar, orangtuamu inging bernostalgia.”
“Aku bosan.”
“Sabarlah, sampai lelaki seumuranmu memainkan piano. Aku suka. Kau pun pasti suka nanti.” hibur Glenn.
Benar saja, saat lelaki tadi memainkan pianonya. Aku sangat terhanyut. Sepertinya ia sangat handal. Musik itu menyentuh sampai ke hatiku. Ah! Aku harus mengenalnya.
Setelah pertunjukkan selesai, aku menuju ke belakang panggung tanpa minta izin pada Mama dan Papa. Dan seperti biasa, Glenn menemaniku di belakang.
“Hey!” ucapku pada lelaki itu yang sedang memegang segelas air putih bersama managernya.
Dengan kaget ia, menumpahkan air putihnya ke bajuku.
“Maaf, maaf. Aku tak sengaja. Kau membuatku kaget.” jawab lelaki itu sambil mengelap bajuku dengan tissue.
“Tak apa, seharusnya aku yang minta maaf karna sudah mengagetkanku.”
“Hmm.. ada apa kau ke sini?”
“Ah iya! Tadi, saat kau memainkan piano, aku sangat terhanyut. Kau handal sekali.”
“Terima kasih atas pujiannya. Namaku Sam. Samuel Dewny. Salam kenal.”
“Wow Sam kau pasti berpengalaman, aku ingin belajar banyak darimu.”
“You can! This is my namecard.”
“Thanks.”
“Chik, kamu Mama cariin kemana-mana. Ayo kita pulang.”
“I.. i..ya ma. Dah Sam.
“Dah”
Di rumah, aku tersenyum sendiri. Entah mengapa, kejadian tadi di sekolah seolah-olah tidak pernah terjadi. Aku merasa bebanku sedikit berkurang. Enteng. Lega. Hari ini, wow! Ah! Tadi Sam belum tau namaku! Ah! Semoga saja ia mendengar mama saat memanggilku ‘chik’.
“Benar kan?” Tanya Glenn tiba-tiba.
“Benar? Benar apa?”
“Kau menyukainya, ia menarik. Kau bahagia sekarang.”
“Ya. Aku ingin tidur. Hantu juga tidur kan?”
“Hm… sepertinya. Tidurlah.” kata Glenn sambil tertawa kecil.

Keesokkan harinya, seperti hari Jum’at biasanya. Kami selalu membawa resep makanan kreasi sendiri karna itu adalah kelas tataboga. Aku paling suka pelajaran ini, gurunya pun Ibu Measley yang ramah selalu lembut padaku. Hari ini, aku membawa resep pasta keju kreasiku. Anehnya, David tidak masuk di kelas ini. Ada apa dengan David? Apa ia sakit? Ah! Aku akan menengoknya. Rumahnya kan tepat di depan rumahku. Atau, aku tanya ke Key dulu? “Tak perlu bermasalah dengannya lagi.” bisik Glenn. Yeah! Benar.
“Oke, anak-anak. Pelajaran sekarang cukup sampai di sini. Untuk pelajaran berikutnya, Pak John tidak bisa mengajar sosiologi dan sejarah karena sakit.” ucap Ibu Measley.
“Yeeeeeeeeeeeaaaaaah!!!!!” teriak anak-anak di sekelasku.
Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan dan teriakkan khas suara Key. Kenapa lagi dia? Aku melihatnya menangis sambil menatap ponselnya. Ada apa dengan isi ponselnya? Perasaanku mendadak menjadi tidak enak. “Itu karna David pindah ke luar kota dengan Ayahnya.” bisik Glenn lagi. Hah? Bagaimana mungkin? Mengapa ia tidak menghubungiku? Secepat itu ia lari dari masalah.
“Sebenarnya, dari kemarin malam ia sudah minta izin. Ia ke rumah waktu kita ke konser. Ia coba menelponmu, namun aku mencegahnya karna tak ingin mengganggu kebahagiaanmu dan tidur nyenyakmu semalam. Ia juga mengirim pesan singkat di ponselmu.” jelas Glenn.
“Kenapa kau tak membangunkanku? Kau jahat sekali. Ia pindah kemana? Ia sahabatku! Aku ingin menyusulnya! Kenapa kau mematikan ponselku? Kau jahat.” cetusku.
“Maafkan aku, aku hanya tidak ingin ia mengganggumu. Aku tak tau ia pindah kemana. Coba kau lihat ponselmu.”
“Suck! Ia tak memberi tahu kemana ia pindah. Lalu aku harus bagaimana. Ia jahat sekali! Aku pun tak melihatnya mengemas barangnya, padahl jelas-jelas rumahnya di depan rumahku.”
“Sudahlah, ikhlaskan ia pergi. Kalaupun ia sahabat sejatimu, ia akan datang kembali untukmu.”
“Ternyata aku salah mengiramu. Aku kira kau mengerti perasaanku! Tapi kau sama sekali tidak mengerti perasaanku! Enyahlah dari hadapanku!”
Aku berlari meninggalkan Glenn, menuju ke toilet dan memandangi cermin. Walaupun aku tau ia akan mengikutiku kembali. Aku tak tau apa yang ia pikirkan. Ia menyuruhku ikhlas melepas David? Gila! Ia sahabat terbaikku, walaupun David pernah menyakitiku. Ah! Glenn adalah hantu. Mana mungkin ia dapat merasakan lagi. Ia sudah mati. Ia sama sekali tidak mengerti perasaanku. Ia tak pernah merasakannya. Sakit. Bukan sakit karna tertembak peluru 5cm di kepala sebelah kiri yang membuatmu sekarat tapi tertembak pekuru hanya sebesar 0.1mm yang beracun tepat di jantungmu yang membuatmu langsung mati rasa. David? Kemana kau? Mengapa kau tak menyusulku ke konser? Atau beri kejelasan padaku. Crazy life!
Mengapa aku sangat bodoh mempercayai Glenn untuk menjadi sahabatku. Jelas-jelas ia menghalangi David untuk mengucapkan selamat tinggal dan menghalangiku untuk mencega David agar tidak pindah ke luar kota. Suck! Crazy ghost! Ia hantu! Mana mungkin jadi sahabat! Casper? Itu hanya dunia khayalan. Ia iri pada David! Ya! Ia iri. Ah! Ia menghalangiku untuk mendengar suara terakhir David yang lembut itu. Sekali lagi ia menghalangiku untuk mendengar kata ‘my chiky’ dari mulut David! Oh my God, what’s should I do now?!
“Kau pasti membenciku.” bisik Glenn dengan bayangannya di cermin.
“Bagaimana bisa kau melakukannya?”
“Sorry.”
“Sorry?”
“Ya. Sorry.”
“Kau David?”
“Bukan, aku bukan David. Glenn.”
“Kata-katamu. Kau David?”
“Bukan.”
“Kau David?”
“Okey, aku David.” hibur Glenn mungkin.
“Bicara apa aku ini? Jelas-jelas kau bukan David.”
“Kau yang memulainya, kan? Tenanglah kau sedang labil. Aku akan meninggalkanmu sendiri.”

Hari ini adalah awal musim panas, liburanku kini pasti membosankan. Biasanya aku melewatinya bersama David. Tapi sekarang. Entahlah. Sahabat baruku sudah mengkhianatiku. Hantu aneh. Oya! Aku masih punya harapan untuk liburanku tidak membosankan. Kartu nama Sam! Mana yaa? Perasaan aku simpan di dompetku. Ah! Ini dia!. Disana hanya terdapat emailnya. Aku kirim email ah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar