Jumat, 13 Januari 2012

Cerita Chikyta Weasley (Entah apa judulnya) aku bingung


Teman, aku tak tau apa arti teman tapi hal yang menarik dan membosankan kulalui dengannya. Ah.. dimulai dari waktuku duduk di bangku kelas 3 SMP di Highway School. David namanya, anak yang ramah, baik, cekatan, cool dan pandai bermain bola. Ia ganteng, berperawakan tinggi namun badannya sedikit kecil. Kami berteman baik, bahkan orangtua kami pun mendukung pertemanan kami. Cerita sedih, senang, haru kulalui dengannya. Yeah! Aku suka perhatiannya, dan saat dia memberi surprise ulangtahunku. Ia memberikan kejutan yang sangat hebat. Ia mengajakku ke rumahnya. Tamannya yang indah, ia sulap menjadi hamparan bunga mawar. Bunga kesukaanku. Di sana aku bisa berguling-guling di sana. Dan aku sedih jika ada orang yang berani menantangnya, secara ia cowok paling eksis di sekolah, hanya saja ia jomblo. Ia selalu bilang padaku, “Pacar itu tak penting, chik. Yang penting punya sahabat setia kayak kamu!”. Yaah entahlah, yang ada di benakku saat itu hanya pertanyaan ini, apakah ia bisa membuktikan omongannya sendiri? Pada kenyataannya TIDAK!
Entah aku yang mulai tidak bisa menjaganya lagi atau memang ini sudah takdir-Nya. Sekali lagi aku bertanya pada hatiku. Ya! Dia berpaling dari janjinya dengan terjerumus ke lubang yang gelap dan suram. Lalala aku hanya bisa melihatnya…. Ia masuk ke salah satu geng nakal di sekolahku, image baik yang telah dibangunnya dengan guru-guru dan teman-temannya kini mulai luntur. Oh my God, apa salahnya? Apa salahku? Mengapa ia menjadi seperti itu? Pertanyaan itu yang selalu terngiang di kepalaku. Semenjak itu, hubunganku menjadi sedikit renggang. Sampai saat itu, ia…. Ah! Suram bagiku! Ya! Ia menjalin hubungan dengan cewek populer di geng itu, Key. Sampai-sampai Key pernah melabrakku. Dasar sinting!
“Heh kamu, anak culun! Kau tak perlu lagi dekat dengan David! Ia sudah menjadi pacarku! Jika kau masih mendekatinya berarti kau tak punya harga diri. David adalah orang yang paling popular sedangkan kau? Iyuwh!” yaa aku masih ingat ia mengatakannya dengan nada jijik kepadaku. Aku hanya bisa jawab “What?”.
“Kau tak mengerti?! Kau suka kan ama David?” tanyanya dengan ketus.
“Suka? Aku sahabat dia dari SD, orangtua kami juga udah tau kita sahabat. Kau tak perlu mengada-ngada.” dengan nada sabar aku menjawabnya.
“Oh! Masih ngelak yaa! Trus kenapa masih ngedeketin David! Jujur kau suka kan?” bentak Key.
“It’s my best friend and no.” jawaban singkat dengan nada dingin yang aku beri pada Key, dan aku pun langsung pergi meninggalkannya karena ada kelas seni rupa.
“What the hell! Suck!” teriaknya padaku.

Di kelas seni rupa, guruku Pak Harry, perakawannya tinggi, berkacamata, kulit sawo matang dan sangat aneh. Setahuku dia indigo dan bisa membaca pikiran. Beliau perfectionist, semua harus terlihat sempurna di matanya.
“Keluarkan tugas kalian!” teriaknya dengan suara tegas khasnya. Tugas kali ini adalah menggambar hantu di rumah masing-masih. Guru ini sinting! Mana mungkin kami bisa lihat. Katanya, “Kalian takkan bisa melihatnya, tapi bisa merasakannya. Kalian harus membuatnya nyaman agar bisa menggambarnya.” Aku benar-benar tidak mengerti, tapi guruku memang gila!
“Chikyta Weasley! Mana tugasmu?” panggil Pak Harry dengan nada sedikit lembut.
Aku berjalan dengan malas menuju bangku Pak Harry. Shit! Pasti beliau mengomentari gambarku habis-habisan. Mana mungkin aku tahu hantu di rumahku, jadi aku gambar asal saja kertas gambarku. Namun, tidak sesuai dugaanku. Pak Harry bilang,
“Hmm… Hantumu memang sangat mirip dengan tipe rumahmu yang sedikit beraroma Chili. Ia selalu menemanimu dan menjagamu kemana pun kamu pergi. Sabar. Kau akan menghadapi masalah yang banyak.” jelasnya. Aku sedikit mengerti tapi beliau bilang hantuku mirip. Masa? Aku hanya menggambar sosok ‘David’ yang sedikit aku benci belakangan ini sedang membawa buku komik kesukaannya ‘One Piece’.
Selalu menjagaku kemana pun aku pergi? Berarti ia ada di sampingku sekarang? Ah! Masa bodoh! Yang penting aku menghargainya.
“Hello, my Chiky!” celetuk David menghampiri bangkuku.
“Hi.” jawabku sedikit malas karna aku teringat labrakkan Key tadi istirahat.
“Badmood?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Kamu tau.”
“Dilabrak Key? Sorry.”
“Sorry?”
“Ya, sorry. Kenapa? Salah?”
“Kau tau kan?”
“Ya, kau hanya perlu menjauhiku.”
“Hmm.. okay, whatever!”
“Thank you, my chiky!” sambil mencubit pipi sebelah kananku lalu pergi meninggalkanku.
“Tak tau malu! Aku tak menyangka kau sudah berubah. Ya sudahlah.” nasihatku dalam hati. Suck! Kuambil headset di tasku dan kupasang di telintaku. Aku tenang jika aku mendengar music.

Keesokkan harinya, hari Kamis yang membosankan. Kelas fisika adalah kelas yang paling kubenci! Terutama guruku yang killer siap memarahiku lagi karna aku tak bisa merangkai Generator milik Van De Graff untuk menghasilkan listrik yang sangat besar.
Lagi-lagi, Key berulah. Sinting itu cewek! Ia menumpahkan terigu saat aku masuk ke kelas fisika. “Yeah. Taste it girl!” teriaknya. Dan dekengannya Biya, Fay, Monic dan Zee melempariku dengan telur sambil tertawa. Suck! Dan yang paling membuatku kesal, David hanya menatapku kasihan tanpa menolongku. Lengkaplah sudah hari sialku, aku hanya bisa memendam rasa tangisku, kesalku dan amarahku. Okay, chik. Hadepin aja dengan sabar seperti kata Pak Harry waktu itu. Aku pun berbalik badan menuju toilet untuk memberisihkan badanku yang penuh dengan terigu dan telur.
Saat menuju ke loker untuk mengambil cadangan seragamku, David mengahampiriku dengan tampang yang seolah-olah tak ada dosa yang ada padanya. Ia memberi saputangannya untuk menghapus air mataku yang sedikit menetes dan memberikan ke tanganku. Lantas itu ia pergi tanpa ada sepatah kata yang ia ucapkan. Good boy! Dalam hatiku. Aku melanjutkan langkahku ke loker untuk mengambil seragamku.
Uh! Undangan piaono klasik yang diberikan orangtuaku! Ah, aku lupa! Hari ini acaranya, sebenarnya aku malas karna memang aku tak suka piano klasik makanya undangan ini aku simpan di loker. Yah, aku mencoba menghargai orangtuaku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, tumben mereka mengajakku ke acara seperti ini. Aku anak tunggal, setiap hari mereka pulang pergi luar kota. Di rumah, yeah mungkin hanya ada pembantuku, Bibi Way yang mengurusku dari kecil dan mungkin hantu itu yang sering mengikutiku. Hari-hariku sangat membosankan sampai aku berteman baik dengan David. Aku lebih nyaman berada di tengah-tengah keluarga David yang sangat ramah dan perhatian. Apalagi adiknya yang lucu dan mengerti aku, Vigy. Ia memiliki selera musik yang sama denganku yaitu jazz beat dan hobi yang sama yaitu menulis.
Di toilet, setelah aku membersihkan badanku dan mengganti seragam yang kotor, aku melihat diriku termenung di kaca toilet. Aku seperti manusia yang sangat tidak beruntung di waktu ini, masalah belakangan ini membuatku sedikt stress. Sebenarnya apa aku ini? Mengapa aku hidup di dunia ini jika akhirnya aku akan sakit? Belakangan ini aku sering merasa sesak di dadaku dan tenggorokkanku, seperti ada yang menyumbat di dadaku. Sakit. Sakit sekali. Sakit apa ini? Aku tau ini sakit hati, tapi biasanya aku merasa tidak sesakit ini. Karna memang aku sering merasakannya dengan orang tuaku yang lebih mementingkan pekerjaannya. Itu sakit hati. Tapi mengapa ini lebih sakit. Seperti lebih banyak duri-duri yang beracun menusuk hati dan jantungku. Lagi-lagi aku tidak bisa melampiaskannya. Walaupun aku punya David, tapi aku tidak pernah mengungkapkan rasa sakitku kepadanya. Tapi ia selalu mengerti akan rasa sakitku. Entah ia tau darimana. Mungkin raut wajahku. Tapi tidak mungkin karana aku tak pernah menunjukkan wajah sakit kepadanya. Hal yang selalu ia lakukan jika ia merasa aku sakit adalah mengambil es yohurt dan menempelkannya ke dadaku. Entah apa yang ia lakukan. Tapi aku merasa sedikit tenang dan rasa sakitku berkurang. Apalagi ia selalu memberikan lengkungan bibirnya yang manis kepadaku saat ia menempelkan es yohurtnya. Rasanya damai sekali. Tapi aku tak bisa menjaganya. Yeah! Ia berpaling ke Key. Entah apa yang ada di pikirnya sampai mengingkari janjinya untuk menjagaku. Aku sakit. Sakit lagi. Bebanku sepertinya bertambah. Apalagi Key yang sentimen denganku. Ia selalu berulah. David, kau membuatku bingung. Ingin aku mentakhiri hidupku sekarang.
Shit! Aku lupa! Harusnya aku masuk kelas fisika sekarang. Aku terlalu lama di toilet. Sudah 25 menit aku merenung di depan kaca. Segera aku berlari menuju kelas fisika. Pasti guru itu memarahiku karna aku terlambat 25 menit. Suck!
 Untung saja, hari itu guru-guru di sekolahku mengadakan rapat dadakan. Dengan terengah-engah aku menuju bangku paling ujung di belakang. Hari itu kelas sangat ribut, seperti biasa jika guru tak ada, ribut. Aku hanya bisa membuka buku agendaku dan menambahkan nonton konser piano klasik nanti malam. Di sela-sela keributan, terdengarlah Key dan David bertengkar. Entahlah bertengkar tentang apa, aku tak tau dan tak mau tau urusan mereka. Oya! Saputangan David, aku kembalikan ah. Aku tak mau berhutang budi lagi dengannya. Malas! Saat menuju bangkunya untuk menaruh saputangannya ke dalam tasnya, tiba-tiba Key menarikku sambil berteriak,
“Jadi cewek ini yang kamu bela?!”
 Ternyata mereka meributkan aku-_-
“Iya. Aku tak suka dengan caramu yang kasar.”
“Hey, David. Sadarlah ia pantas mendapatkannya.”
“Bukan ini yang kumaksud. Bukan cara ini. Chiky sahabatku, aku sudah berjanji menjaganya.”
Aku hanya bisa melihat mereka bertengkar, benar-benar tak bisa sepatah kata pun aku ucapkan.
“Kau lebih memilih Chiky daripada pacarmu sendiri? Sinting!”
“Ya.”
“Gila! Kau gila!”
“Kau yang gila. Kita putus.”
“Stop!” cetusku dengan refleks.
Semua terhenti. Pertengkaran David dan Key tiba-tiba terhenti beberapa detik. Aku tak tau apa maksud yang kuucapkan tadi. Refleks. Aku tak sengaja mengucapkannya. Apa yang kumaksud? Entahlah antara membela Key atau membela David.
“Ta.. tapi Chik…….”
“Sudahlah. Hentikan. Kau tak perlu aku lagi, sekarang lindungi Key seperti kau lindungi aku. Aku sudah tak peduli lagi.”
“Dengarkan Chiky, ia sudah tak peduli lagi.” kata Key.
“Dan satu lagi, ini saputanganmu. Sama sekali tak berguna.”
Kataku sambil melangkah meninggalkan mereka. Di kelas selanjutnya, aku dan David sama-sama terdiam. Mungkin kami sedang memikirkan persahabatan kami. Sesekali David melirikku kemudian membuang muka. Entah apa yang kurasakan, tiba-tiba dadaku sesak. Sesak sekali. Kini aku mulai tidak bisa bernafas. Aku hanya bisa menangis. Teman-temanku membawaku ke UKS. Badanku lemas, dibantu dengan alat pernafasan. Tidak terlihat David menengokku ke UKS. Akhirnya, mama menjemputku. Aish! Hari yang melelahkan. Lagi-lagi asmaku kambuh.

Di kamar, aku hanya terdiam. Sesekali aku melirik jam yang seolah-olah menertawakanku dengan dentingannya. Jam dindingku menunjukkan pukul 18.00. artinya 1 jam lagi, aku harus menonton konser piano klasik dengan orangtuaku. Aku masih memikirkan kejadian tadi di sekolah. Aku sudah tak tahan sekolah di sana. Terbesit di pikiranku untuk pindah sekolah. Ah! Aku ingin melampiaskan kekesalanku. Aku ingin cerita. Tapi pada siapa? Dengan hantu itu? Gila! Tiba-tiba, lotionku jatuh dari meja rias. Ada apaan nih?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar