Tampilkan postingan dengan label Those Two Cyter Souls. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Those Two Cyter Souls. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2015

Really?

"Apa kami bisa dapat roti dengan ini?" Sam menunjukkan koin-koin emasnya.
"Ya, mungkin 7 tapi akan kutambahkan beberapa. Aku tak pernah melihat kalian, kalian darimana?" tanya pedagang itu.
"Kami pengembara. Kami datang dari bangsa yang berbeda." sahut Sam sambil memasukkan roti ke dalam tasnya. Pedagang roti itu pun hanya mengerutkan dahinya melihat kami.
"Uhm... Terimakasih, pak." Kata Sam menyudahi.
"Kau takkan makan Matt?" tanyaku memecah lamunannya.
"Uh... Ya... Tentu, aku akan makan." kata Matt kaget.
"Dia sedang terkena flashback syndrome." kata Sam memasukkan roti ke mulutnya.
"Aku ingin berjalan-jalan." Kata Matt mengambil satu roti dan berdiri.
"Aku ikut." Kataku membuat Matt membalikkan badannya.
"Kenapa? Kau takut pada dwarf itu, Gwen?" Tanya Matt mengejek.
"Ah iya, aku takut sekali pada dwarf yang berani menculikku namun lemah tak berdaya saat luka sayatan pedangnya semakin parah." Aku tersenyum pada Sam yang masih sibuk dengan roti besarnya itu.
"Ya ya, aku akan membalaskan budimu yang baik itu, nanti." Kata Sam.
Negeri manusia. Negeri yang damai. Disini mereka bebas melakukan sesuatu tanpa harus mengkhawatirkan aturan yang mencekik kami kalau kau punya kekuatan sihir. Dan tak perlu mengkhawatirkan serangan dari bangsa lain karena orang-orang yang pandai berbicara disini telah mengadakan perjanjian dengan bangsa lain untuk memberikan perlindungan. Meskipun dengan cara yang licik. Tapi mereka benar-benar pintar. Aku mengitari jalan berbatu yang disusun rapi dengan hiasan lampu jalan berwarna hitam dan rumah-rumah penduduk yang mulai sibuk pada saat pagi hari. Perasaan iriku muncul lagi. Hidup normal dengan sebuah keluarga kecil menjadi impianku sejak kecil. Daripada hidup yang mengharuskanku mengabdi pada Leace.
Aku tersenyum melihat anak-anak yang berlarian karna hampir ketinggalan bus. Aku pun mencoba berteriak pada supir bus agar menunggu mereka. Dan satu anak perempuan yang membawa bunga matahari menghampiriku.
"Ini tugas biologiku, tapi aku masih punya satu di tas. Ini untukmu, terimakasih. Dah." Ia berlalu dengan bunga matahari di tanganku. Aku tersenyum melihat bunga matahari ini tanpa sadar Matt sedang berusaha agar air matanya tak keluar lagi.
"Ya, aku takkan bilang pada Sam." Kataku pada Matt sambil membelai kelopak bunga matahariku.
Ia menarikku ke jalan buntu di sela-sela rumah penduduk dan sebuah toko bunga dan memelukku.
"Mengapa kau membawa kami kesini, Gwen?"
"Kau tak tau betapa sakitnya ini?"
"Sembunyikan tangisanku."
"Kau benar-benar jahat."
"Aku tak tau harus apa disini."
"Mengapa kau melakukannya?"
Pertanyaan itu mengalir seiring mata Matt mengalirkan air matanya.
"Ugh. Kau membuat bungaku rusak." Kataku.
Ia melepaskan pelukannya dan melihat ke arah bungaku sambil menghapus air matanya. Matt menarikku ke arah toko bunga.
"Kau tak perlu menggantikannya. Tak apa..."
Matt membeli beberapa tangkai mawar putih yang sudah dihilangkan durinya. Dan menarikku kembali.
"Um... aku tak suka bunga itu."
Ia tetap menarik tanganku dan berjalan cepat.

Kami ada di sebuah sungai sekarang. Suara air saling bertabrakkan menghiasi telinga kami. Angin berhembus di celah-celah daun dan membuat dahannya mengikuti arah angin. Matt berteriak dalam tangisannya.
Aku membiarkan ia berteriak sambil memeluk diriku sendiri karna disini dingin.
Matt membuang bunganya ke sungai.
Aku mendengar suara bisikan perempuan searah dengan arah daun menunjuk.

I keep going to the river to pray
cause I need something that can wash all pain

Aku makin mempererat pelukanku. Matt semakin keras berteriak.

And the most I'm sleeping of these demons away
but your ghost, the ghost of you will kiss me away

"Kenapa? Kau merasakannya?" Matt berteriak marah padaku.
Aku terdiam.
"Kau sendiri yang membawanya, Gwen."

"Kita harus pergi." Sam muncul dan menyelimutiku dengan jaket tebalnya.
Matt mengikuti dari belakang. Langkah kaki dan kepalan tangannya menggangguku. Tapi sepertinya ia sedang merindukan seseorang dan hanya melampiaskan padaku. Takkan lebih dari itu.
"Ini tak ada hubungannya denganmu, Gwen. Tenang." Bisik Sam.
"Ceritakan padaku tentang hantu itu." Bisikku pada Sam, aku tak mau Matt mendengarnya.
"Itu rumit. Aku janji kau akan mengetahuinya nanti." Kata Sam.
"Maafkan aku, Gwen." Bisik Sam lagi.
"Aku tak apa."
"Aku benar-benar minta maaf, Gwen." Sam berbisik.
"Matt dengar, aku menemukan sebuah rumah untuk tinggal. Dan ini jauh dari tempat itu. Jadi tenanglah. Aku juga membeli beberapa baju untuk kita."

Sam tertidur di sofa. Kurasa aku perlu mandi dan melepas gaun bodoh ini. Matt yang baru keluar dari kamar mandi, dia tersenyum dan mempersilahkanku untuk masuk. Ia bahkan mengingatkanku bahwa airnya sedikit dingin. Ia benar-benar depresi tadi. Untung saja, Sam memilih baju yang bodoh lagi. Aku memakai jins abu dengan flannel yang sebenarnya terlalu besar untukku. Pakaian manusia ugh.
Aku duduk di sofa berkursi tunggal di depan Sam. Mencoba memeluk lututku dan menghilangkan bisikan tentang demons dan ghost tadi. Kata-kata itu terus ada dalam telingaku. Matt ada di luar, tapi aku tak ada niatan sama sekali untuk menanyakan apa yang terjadi tadi. Tapi suara gertakan tangan menarik sofa yang muncul dari sofa Sam mengagetkanku. Ia baru saja bangun dari mimpi buruk pasti.

"Hei, mimpi buruk?" Tanyaku pada Sam.
"Lebih dari itu, kita harus pergi. Aku tau rumah Daisy. Kita tak punya banyak waktu. Dimana Matt?" Tanya Sam.
"Ada apa?" Tanya Matt.
Aku tak tau apa yang disiapkan Sam dan Matt tapi kami langsung berlari secepat yang kami bisa. Sam berhenti di sebuah rumah kayu dan mendobraknya. Suara tembakkan terdengar dan peluru yang melesat dari sudut mata kananku menembus kepala wanita bergaun putih itu. Badannya terjatuh di atas tuts piano putih di hadapannya. Darah mengalir dari mulutnya tanda bahwa bagian dada dan perutnya ditendang keras. Matt langsung mencari seseorang di bagian rumah asal peluru itu, namun ia tak menemukannya.
Kita terlambat.
Anak perempuan yang memberikan bunga matahari padaku lari ke dalam rumah lalu mengambil pistol yang tergeletak. Dan tatapan itu, suara itu.... "Kau menanggung akibatnya." Ia
berbicara. Itu bukan suaranya. Itu bukan tatapannya.
Ia menembak dirinya sendiri dan tubuh kecilnya ambruk meneteskan air mata.
Aku tak bisa menutup mulutku sendiri dan air mataku sudah tak terbendung lagi.
Aku mengenal suara dan tatapan itu.

Matt langsung mengangkat tubuhku yang ikut ambruk saat anak itu menembak dirinya sendiri. Ia membawaku keluar. Sam membawa satu peluru dari pistol anak itu dan memasukkannya ke dalam secerca kain sambil mengikuti kami ke luar.
"Tapi kenapa?" Aku menangis pada Matt.
"Kita gagal, Gwen." Jawab Sam yang takkan pernah bisa menjelaskan apapun.
Matt mengepalkan tangannya. Berusaha tak marah.
Dan para demons menghampiri kami dengan bisikan menyakitkannya lagi.

Sabtu, 04 April 2015

This is First

Aku menginjakkan kaki di depan gerbang sebuah rumah tua. Rumah ini milik manusia. Aku tak tau mengapa mereka membawaku kesini. Aku tak memakai penutup mata atau tali yang mengikatku lagi. Mungkin mereka percaya aku takkan kabur karna mereka tau aku tak tau tempat apa ini. Kami membuka gerbang berwarna hitam yang ditumbuhi tumbuhan rambat. Aku mengamati awan, daerah ini diselimuti awan kelabu dengan tak ada satupun sinar matahari yang ingin bertemu tanah ini. Tidak seperti siang-siangku di negeri peri. Kami berjalan menyusuri jalan menuju pintu depan. Suara daun-daun kering terinjak terdengar dipadukan dengan suara angin yang mengarah ke sebelah barat. Matthew berjalan di depanku dan Sam di belakangku. Halaman rumah ini sangat luas, sampai terdapat beberapa patung air mancur. Aku masih terdiam sejak di perjalanan. Aku lelah bertanya dengan tak ada jawaban yang terlontar dari mulut mereka. Kali ini aku akan mengikuti kemauan mereka sampai aku punya celah untuk kabur atau bahkan membunuh mereka sebelum pergi. Mereka pikir mereka siapa? Berani-beraninya menculikku. Sam menolong melepaskan daun-daun kering yang tersangkut di bawah gaun bodohku saat sampai di depan pintu dan tersenyum ke arahku. I hate the way he smiles.
"Dobrak, Matt." Suruh Sam sambil menunjuk ke arah pintu utama.
"Memang sudah lama aku tak mengotori tanganku, Sam. Tapi aku tak ingin mengotori tanganku untuk saat ini. Suruh saja peri bodohmu itu melakukan sihirnya." Kata Matt mengarahkan pandangannya ke arahku.
"Aku lelah, sihirku takkan berfungsi." Aku membual. Sam tersenyum ke arahku.
"Baiklah, kalian para putri dan pangeran memang menyebalkan." Sam menjentikkan jarinya dan pintu terbuka.
Apa?!
Ia dwarf?!
Atau peri?!

"Kaget, Gwen?" tanya Matt yang berhasil membaca ekspresiku.
"Ayo, cepat masuk!" Sam tak memperhatikan wajahku.
Rumah ini..... tak ada apapun di dalamnya, dengan lantai putih berdebu yang menghasilkan cetakan sepatu kami.
"Kau punya ide, dimana mereka menyembunyikan petunjuknya, Gwen?" tanya Sam.
"Apa?! Kau bercanda? Aku bahkan tak tau untuk apa aku disini."
"Mencari petunjuk dan menjalankan petunjuk, ya itulah aturan mainnya." Tukas Matt.
"Lalu? Kau pikir kita dalam permainan?!" Kataku kesal.
"Sssttt.... jangan terlalu berisik." Kata Sam perlahan-lahan berjalan ke arah pintu di sebelah kanannya.
Suara hening kami kemudian digantikan oleh hentakan kaki yang berjalan dari belakang pintu itu. Semakin dekat, dekat.... dan engsel pintu pun mulai bergerak secara paksa. Itu bukan hanya hentakan sepasang kaki telanjang, itu terdengar seperti beratus-ratus pasang kaki. Pintu berhasil terbuka. Makhluk-makhluk putih keluar dan berterbangan di atas kepala kami, mereka bangsa demons. Kepalaku terasa pusing karna mereka terus membisikan sesuatu yang cepat di kedua telingaku. Samar-samar aku mendengar suara teriakkan Matt yang meronta untuk menghentikan suara-suara itu. Aku meringkut jatuh ke lantai. Aku memeluk lututku lalu mulai menutup telingaku karna tak kuat mendengarnya. Tiba-tiba tanganku dipegang erat oleh Sam. Dan kami ada di padang rumput nan luas.

"Tadi itu menyakitkan dari yang biasanya." Kata Matt yang masih membiarkan badannya menimpa rumput segar yang baru dibasahi embun ini.
"Ya, mereka aneh. Tak seperti biasanya. Aku hanya menangkap beberapa kata. Daisy. Piano. Pistol. Selebihnya aku tak dengar, bagaimana denganmu, Gwen?" Tanya Sam.
"Aku dengar di sebuah rumah tua beraroma hangat, Daisy terus saja menyembunyikan piano putih miliknya dan ada pria dengan pistol di kepalanya. Selanjutnya, aku menutup telingaku." Kataku.
"Bodoh, kau peri bodoh!" Matt mengeluarkan sumpah serapahnya untuk kesekian kalinya.
"Matt! Kau dengar apa memang? Kita seharusnya berterimakasih pada Gwen. Tidak biasanya kita menemukan petunjuk sejelas itu." Sela Sam.
"Ya... ya.... baiklah. Terimakasih peri, kau sebenarnya cantik jika tak bodoh." Kata Matt tersenyum ke arahku.
"Di mataku, kau jauh lebih bodoh." Kataku pada Matt.
"Apa?!" Manusia itu mudah terpancing amarahnya.
"Apa?" Tanyaku menantang.
"Jauhi dia saja, Gwen. Dia hanya anti pada gadis, setelah dicampakkan." Ejek Sam pada Matt.
"Kau tak harus membicarakan itu lagi, Sam. Aku tidak dicampakkan." Kata Matt lesu.
"Dia mulai lagi, menyedihkan." Sam terus mengejek.
"Aku lelah, aku belum makan." Kataku sambil menyeret sepatuku saat berjalan.
"Aku juga, sebentar lagi kita akan menemukannya." Kata Matt.
"Serius, kau tau tempat ini, Matt?" Tanya Sam.
"Ini jalan ke rumahku."

Minggu, 28 Desember 2014

Dammit

"Jangan pernah menyentuh sisir itu!" Sam tiba-tiba masuk ke dalam kamarku atau kamar Sam jelasnya.
"Kenapa? Sisir kekasihmu?" tanyaku.
"Tidak. Tolong. Aku hanya memintamu untuk tidak menyentuh apapun. Kau mengerti?" Sam menarik tangannya dari tanganku, aku pun melepas sisir itu.
"Jadi untuk apa semua ini?! Mengurungku di tempat aneh, lalu aku harus apa? Katakan padaku!" Bentakku. Sam mulai tersenyum.
"Sabarlah, kau turuti saja apa kataku dan mungkin semua akan lebih baik."
"Mungkin? Sebenarnya apa-apaan ini?" Kataku mendorong Sam. Sam mengerang kesakitan, rupanya aku tak sengaja menendang luka sayatan pedang peri di kaki kanan Sam.
"Arrrghhh... ini semakin memburuk!" Katanya kesakitan.
"Awh, rupanya ada yang kesakitan." Kataku menunduk pada Sam sambil menahan tertawa. Bagaimana bisa orang lemah seperti dia menyekapku disini.
"Peri memang menyebalkan." Sam bangun, tapi tak bisa.
"Biar aku sembuhkan." Kataku menawarkan diri. Mungkin ini konyol, menolong lawanku. Tapi mungkin saja ia mau membocorkan sedikit rahasianya itu.
"Tidak! Ini akan sembuh sendiri, aku yakin kau akan mengucapkan mantra yang lain." Kata Sam ketakutan.
"Dan mengubah kakimu menjadi kaki bebek? Sadarlah, Sam. Sekarang perlihatkan lukamu, sebelum semua racunnya mencapai jantungmu dan kau mati. Ini sayatan pedang peri."
Sam perlahan-lahan menunjukkan lukanya padaku. Ini benar- benar parah. Sekitar 2 jam lagi, mungkin racunnya akan membuatnya mati. Ini sungguh membingungkan, jika aku biarkan dia mati aku takkan pernah tau ada apa ini. Tapi jika aku biarkan dia hidup, akan ada apa yang menimpaku? Aku 16 tahun sekarang, I'll try new ones. Aku bacakan mantra untuk menyedot semua racun yang sekarang mengalir di darahnya. Untung saja aku baik dalam menghapal mantra, dan pelajaran kesukaanku adalah pengobatan. Tapi Leace membenci itu, sebenci apapun Leace terhadap sesuatu. Ia takkan mungkin mau mengalah denganku. Sam semakin mengerang. Lumpur-lumpur yang mengering sepertinya menginfeksi lukanya, menumbuhkan bakteri baru.
"Ini mungkin agak sedikit sakit, jangan teriak." Kataku menenangkan Sam.
Setelah semua selesai, Sam menatapku. Aku mencoba membaca ekspresinya, tapi tak bisa. Aku tak tau ia sedang merencanakan apa terhadapku. Ia lalu memelukku.
"Maafkan aku, Gwen. Aku tak ingin melakukan ini." Kata Sam di atas kepalaku.
"Hey! Apa-apaan ini?!" Kataku melepaskan pelukannya.
"Sepertinya ada yang jatuh cinta." Seorang lelaki masuk.
"Aku hanya berusaha mengacaukan pikirannya, Matthew." Kata Sam beranjak. "Kini giliran kau yang jaga."
"Yaaa, tugas ini mulai melelahkan. Menjaga peri bodoh." Kata Matthew.
Sam beranjak, melihatku 2 detik lalu keluar kamar. Sekarang hanya aku dan seorang manusia bernama Matthew.
"Yaaa, lebih baik kau tidur, Gwen. Ini akan melelahkan." Kata Matt.
"Untuk apa semua ini?" Aku takkan jera menanyakan ini.
"Tentang Jane dan saudaranya, Gwen. Kuatlah." Matthew keluar dan mengunci pintu kamarku.
"Hey!!! Apa maksudmu?! Katakan padaku! Bahkan aku sama sekali tak mengenal mereka." Aku berteriak, mendekatkan mulutku ke lubang pintu berharap seseorang mendengar. Tapi tak ada jawaban.
Aku tertidur, aku bermimpi saat Ayah Leace menggendongku dan membawa ke kerajaan lalu kehidupanku mulai diatur. Lalu saat, aku diganggu oleh Karen yang terus mengoceh berlatihlah, Gwen. Dan saat Sam tiba-tiba ingin membunuhku tapi aku tak berdaya melawannya.
Aku berteriak.
"Ada apa?" Sam masuk ke dalam kamarku.
"Menjauh dariku." Kataku.
"Tak apa, kau aman disini. Tak apa, Gwen." Sam memelukku.
"Untuk apa semua ini, Sam? Aku tak ingin berada disini. Kenapa mimpiku selalu masa laluku." Aku mulai menangis di bahu Sam.
"Tak apa, kau akan baik, Gwen."
Sam berbisik lagi, "maafkan aku, Gwen."
"Sekarang, kau harus bersihkan dirimu. Kita akan melanjutkan perjalanan lagi." Kata Sam menuntunku ke kamar mandi.
"Perjalanan lagi? Kita ini akan kemana?"
"Kau harus percaya padaku, kau akan aman."
***
"Selesai, Gwen? Kau suka pakaian barunya?" Kata Sam dari luar kamar mandi.
"Tak ada yang kusuka disini." Balasku sinis. Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian gaun aneh milik manusia, baunya seperti sudah terpendam di lemari beberapa tahun lamanya. Aku harus menahan nafas saat memakainya.
"Kau punya parfum atau apapun? Bau gaun ini seperti sampah." Tanyaku pada Sam.
"Oh, maafkan aku Gwen...." kata Sam.
"Bisakah kau berhenti bilang 'maafkan aku, Gwen'. Aku sama sekali tak tau apa yang kau perbuat. Dan aku kira kau orang yang baik, kalau pun kau berniat jahat, aku bisa membunuhmu sekarang." Kataku pada Sam sambil menatap mata birunya itu. Mata yang tak asing namun entah mengapa ia pandai sekali menyembunyikan segalanya.
"Baiklah, nona. Aku punya parfum ibuku, ini bukan bunga Jasmine tapi bunga Tourleish. Baunya memang mirip namun berbeda..." kata Sam mengeluarkan botol parfum dan menunjukkan padaku.
"Seriously, kau terlalu banyak bicara." Kataku sambil menyemprotkan parfumnya padaku.
"Baiklah sekarang waktunya, Sam." Kata Matthew menghampiri kami.
Kami berjalan menuju kereta kuda, aku tak melihat kurcaci lain.
"Kemana yang lain?" Tanyaku memberanikan diri.
"Peduli apa kau ini, sekarang kita ke kasus pertama, Sam." Kata Matt serius.
"Baiklah, aku sudah tak sabar melihatnya." Sam tersenyum.

Minggu, 31 Agustus 2014

I Prefer Die

"Kau berhasil?"
"Yea tunggu. I'm trying"
"Aku sudah, Sam."
"Sssstt... jangan sampai mereka dengar."
***

"Whoa, guys. Mencoba kabur? But how? But ok, at least you guys tried. But sadly you failed." kataku yang membatalkan 'lari' dari pelajaran selanjutnya untuk menanyakan kelanjutan ramalan itu.
Entah mengapa mereka bisa kabur. Pohon Mqen tidak bisa dipatahkan atau diterobos kecuali dengan sihir kami.
"Tak ada banyak waktu, kau harus ikut kami!" Sam menarik tanganku. Yang lainnya menyumpalkan beberapa tanaman berbau busuk yang bisa membuat siapa saja pingsan. Are you guys kidding me? Aku dilatih menjadi prajurit bangsaku yang handal. Aku takkan pingsan.
"Maafkan aku, Gwen. I know you're still awake, well I have to do this." Sam berbisik lalu memukul belakang kepalaku. Sekarang aku pingsan.
***
"Kau adalah cyter soul, Gwen."
"Jantungmu kekuatanku."
"Jangan sakiti Gwen, Karen. Sadarlah!"
"Anak manis....."
"Prajurit bangsa manusia itu jatuh cinta pada Karen saat Jane mempunyai rasa yang sama."
"Leace menginginkanmu, Gwen."
"Dwarfs itu jahat."
"Don't you get it, Gwen hahahahahahahahahahaha..."

"Noooo!" pipiku basah.
Aku tersadar. Aku mendengar suara sepatu kuda bergantian menghentakkan dirinya ke tanah kering. Kereta kuda ini berguncang sesaat. Mataku tertutup sebuah kain. Tanganku terikat. Aku mencium bau yang belakangan ini sering kucium. Bau dwarfs.
"Bermimpi buruk, peri bodoh? Ya, kalian memang pantas mendapatkan itu."
"Berhenti mencaci, Chesp. Sekarang ia bagian dari kita." kata Sam.
"Bagian dari kalian? Kau bercanda?" kataku ingin muntah.
"Dengarkan aku Gwen Michelle Keylan, sekarang ini adalah situasi yang tak mungkin bisa kau ubah dengan jentikan jari perimu itu. Kami tak punya pilihan, Gwen. Kau tak punya pilihan." Sam memarahiku untuk pertama kalinya.
Suaranya terdengar seperti kesabarannya terhadapku sudah habis. Tapi ada sepercik hal yang ia sembunyikan dari caranya berkata 'kau tidak punya pilihan'. I do have a chance for choice something. Apa rencananya?

Udara hangat menghampiri pipiku dari jendela. Sepertinya kami memasuki sebuah kampung atau apapun karna suara sayup percakapan keluarga mulai terdengar. Saling melemparkan lelucon saat makan malam, menceritakan hal-hal tak penting saat mereka muda atau sekedar hal konyol di sekolah. Terkadang, aku merasa ada yang mencubit hatiku melihat keluarga utuh dengan leluconnya. Kalau bukan saja ibuku sendiri yang merusaknya, keadaan sekarang tak akan seperti ini. Atau mungkin yang membuatku ibuku saat itu merusak segalanya itu ada kaitannya denganku? Kalau begitu akulah penyebabnya. Kalau saja, Leace tidak bermimpi tentangku pasti hal aneh seperti diculik dwarfs ini takkan terjadi. Di malam yang sama saat pembunuhan itu, Leace bermimpi tentang aku. Leace melihat seorang gadis kecil berlumuran darah menangis ke arahnya dan berkata 'dia semakin mendekat, ia akan mengambil jantungku'. Leace yang berani mengatakan 'aku akan melindungimu, siapa namamu?', gadis kecil itu menjawab sambil tersedu 'Gwen Keylan'.
Kami selalu punya suatu kekuatan khas peri. Leace persis ibunya. Ia Faidreamer, seorang peri yang melihat suatu kejadian yang berlangsung lewat mimpi. Leace bilang itu terkadang tidak mudah, terkadang kau merasa ingin muntah. Muak untuk mengetahui berbagai hal. Leace pun bangun, ia menghampiri ayahnya dan memaksanya untuk datang ke rumah keluarga Keylan, salah satu prajurit terbaik bangsa peri yaitu ayahku.
Yang mulia Brutus atau ayah Leace menggedongku dan memelukku, memerintahkan prajuritnya menangkap ibuku. Aku pun diasuh oleh keluarga kerajaan. Whoa, hal yang bukan seperti yang kau pikirkan. Tekanan dan tekanan dan tekanan yang kau dapat.
Yang mulia Brutus pernah berbicara empat mata denganku saat aku berulangtahun ke-14. Ia bilang 'Leace menginginkanmu'. Akulah orang yang dilihatnya saat ia pertama kali mendapat gelar Faidreamer. Aku harus selalu siap disisinya karna secara tidak langsung berhutang nyawa padanya.
But I prefer to die at that situation.
I prefer die.
Die.

Sepasang tangan mencengkram tanganku berharap aku takkan kabur dan menggiringku ke sebuah rumah. Aku hanya diam semenjak Sam memarahiku. Dan aku tau, Sam merasa bersalah. Ia berbisik kata maaf di telingaku. Entahlah, aku tak tau ada apa dengan Sam. Tapi ia seperti sedang berfikir hal besar dan berusaha untuk disimpan, bahkan terhadap koloninya sendiri. Ia bertingkah kikuk. Ia membuka penutup mataku dan tali di tanganku. Sekarang aku berdiri di depan Sam. Ia memandangiku. Sekarang terlihat jelas ekspresi muka Sam. Ia memang sedang menyembunyikan sesuatu. Sam pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun dan mengunci kamarku.
Aku tak tau ini dimana, tapi ada setumpuk kertas yang menggangguku. Sepertinya ini kamar Sam karna setumpuk kertas itu adalah tulisan pena tentang kabar seorang wanita bernama Jean. Beberapa kali Sam menyehut namanya. Tapi jika ini kamar Sam, mengapa ada meja rias?
Aku duduk di depan meja rias. Sepertinya sudah beberapa minggu tak dibersihkan, aku membuka salah satu laci meja itu dan menemukan sisir. Sudah lama aku tak menyisir rambutku. Aku selalu memberontak jika ada 'penyisiran' rambutku. Kau tau aku tak boleh menyisir rambutku sendiri. Para pelayan kerajaan lah yang melakukannya. Mereka membuatku seperti orang bodoh di karnaval dengan rambut model aku tak tau namanya.
"Jangan sentuh itu!!!" seseorang membuka kunci kamarku dan berteriak. Sepertinya Sam berada di luar pintuku dan mengawasiku entah darimana.

"Jangan pernah berani untuk menyentuh sisir ini." Sam menarik tanganku.

Rabu, 30 Juli 2014

Those Secrets

"Apa?! Kau ini bercanda!" kataku seusai Sam menceritakan awal ramalan itu.
***

Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang pemuda tampan dari bangsa manusia. Ia adalah ksatria yang tangguh. Ia menjelajah seluruh dunia, sampai ia bertemu 2 orang peri cantik bersaudara di hutan yang tengah tersesat. Ia menghentikan segala impiannya. 2 peri itu bernama Karen dan Jean. Ksatria itu menolong mereka menuju dunia bangsa peri. Mereka sangat berterima kasih, dan bersedia melakukan apa saja untuk ksatria tersebut. Sang ksatria sangat tersanjung, ia jatuh cinta pula. Jatuh cinta pada keindahan dunia bangsa peri. Dan jatuh cinta pada Karen, di saat Jean memendam rasa yang sama juga. Hansen, nama ksatria itu pun menikahi Karen.
***

"Aku seharusnya tidak berbicara dengan kalian! Kalian itu pembohong besar seperti yang dikatakan fairytale bangsa kami!!" kataku.
"Hey, peri bodoh. Sam bahkan belum menceritakan hal terburuknya!" kata peri yang paling kurus.
"Aku tidak akan membantu kalian." kataku berlalu.
Aku ingin tidur. Aku ingin besok pagi melupakan segalanya. Apa Sam itu bercanda? Hansen dan Karen itu ayah dan ibuku. Semoga bukan mereka yang diceritakan di ramalan itu.
***

Malam itu, malam yang hangat di musim panas. Aku tak sabar untuk besok pergi ke sekolah peri untuk pertama kalinya. Ayahku seorang prajurit peri yang tangguh tapi hatinya sungguh lembut. Ia selalu menyempatkan membaca fairytale sebelum aku tidur, termasuk tentang dwarfs. Malam itu aku sudah siap untuk dibacakan fairytale. Tapi aku malah mendengar kegaduhan di kamar ayah dan ibu. Aku tak tau apa yang terjadi. Suara mereka, suara benda-benda pecah, suara barang-barang yang tertimpa badan dan rusak memenuhi kepalaku.
Aku hanya bisa diam.
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menghampiri mereka saat suara-suara itu mulai tenang.
"Ayah... ibu..." suaraku lirih ketakutan.
Apapun yang terjadi, rumahku berantakan sekali.
"Anak manis... anak yang tidak diinginkan!!!" suara ibuku saat melihatku.
Aku hanya bisa diam.
Aku melihat tubuh ayah di atas serpihan lampu tengah dengan luka darah di dada kirinya.
Aku hanya bisa diam.
Wanita keji itu atau bisa kalian sebut ibuku, mulai mendekatiku dengan pisau dapur yang bersimbah darah. Mungkin darah ayahku.
"Kemarilah anak manis...."
"Anak manis, kau akan menjadi segalanya."
"Jantungmu adalah kekuatanku......"
***

Aku terbangun. Lagi-lagi mimpi itu. Berapa kali aku meminta Nenek Moshy untuk menggunakan manta pengunci mimpi, tapi mimpi itu selalu datang. Mimpi saat ibu mencoba mengeluarkan jantung dari rusuk kiriku.
***

"Hai, Gwen." sapa Leace sambil duduk di sebelahku.
"Hai."
"Aku sudah mencoba ke perpustakaan bawah tantah, untuk mencari tau lebih tentang ramalan itu dan ternyata....."
"Sudahlah, Leace itu bukan urusan kita. Lagipula aku yakin bukan kita ksatria istimewa itu." kataku menyanggah.
"Kau benar, lagipula kita ini bukan Cyter Souls." kata Leace tak kalah putus asanya dengan aku.
"Cy... cy... souls?" tanyaku.
"Cyter souls, darah campuran bangsa lain dengan manusia. Yea seperti itu yang kubaca. Siapa peduli, terkadang ramalan salah. Hanya di tangan kita takdir itu ada." Leace menjelaskan.
"Kau akan mendapat masalah kalau kau mengucapkannya di depan ayahmu, Leace." kataku menyenggol rusuknya.
Yang Mulia Brutus Wilder, percaya ramalan. Apa pun yang terjadi kita harus menghormati para leluhur kita.
"Yeaaa, kau tau itu. Kau mau bolos pelajaran selanjutnya?" kata Leace menyendokkan makanan siangnya ke mulutnya.
"Tidak."
"Bagus kalau begitu, aku akan menunjukkan bagaimana aku bisa memanah seperti kau. Kau tahu aku belajar dari minggu lalu!" kata Leace bersemangat.
"Kau akhirnya selalu lebih baik dariku, Leace."
"Aku anggap itu sebagai pujian."

Jumat, 11 Juli 2014

Believe

Suara-suara itu menggangguku. Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu menyalakan lilin dengan sihirku. Aku melihat orang-orang mulai keluar mencari tahu.
"Gwen!" bisik Leace, laki-laki itu menyelinap ke kamarku dan mengagetkanku.
"Ada apa ini?" aku menirunya berbisik.
"Entahlah ayahku bilang para prajurit telah menemukan sekumpulan dwarfs jahat." jawabnya.
"Dwarfs?"
"Yea, let's see!" Leace menarik tanganku.
Udara hangat kamarku tergantikan dengan udara dingin tengah malam. Kami mengendap-endap melewati prajurit yang berjaga di The Flass-tempat dimana tahanan diadili- terus mengendap ke depan agar bisa melihatnya lebih jelas. Kami berumur 16 tahun, mereka pasti melarang kami melihatnya. Apa menurutmu kami anak kecil? Kau pasti bercanda.
***

Mulut kami menganga. Ternyata benar.
Dwarfs itu nyata.
Kumpulan orang-orang kerdil tersebut berjumlah 8 orang. Entah karna lumpur-lumpur di wajah mereka atau mereka memang mengerikan, persis seperti di dongeng. Mereka diikat oleh tali dari kulit pohon Mqen yang tak akan bisa dihancurkan apapun, kecuali dengan sihir bangsa kami.

"Lepaskan kami, kalian peri bodoh!" Teriak salah satu dwarf tua berjanggut merah dengan beberapa helai yang putih, matanya hijau. Ia yang paling kerdil.
"Sudahlah, Chesp." Kata salah satu lainnya. Yang ini lebih mirip bangsa manusia, ia tak terlalu kerdil untuk dwarf tapi tetap saja ia seperti dwarf. Matanya biru terang tampak sayu seperti tidak tidur beberapa hari, wajahnya berlumur lumpur yang mengering. Celananya tergores goresan pedang peri. Ia tampak baik-baik saja dan terlihat paling tenang dari yang lainnya. Tapi ia terluka.
"Woy! Kau peri bodoh! Iya, kau!!!" Kata dwarf bernama Chesp itu, "Lepaskan kami! Kami tak bersalah! Kami hanya menumpang untuk lewat! Kenapa kalian menangkap kami?! Dasar peri bodoh!!!" Lanjutnya.
"Yaaa... yaa!!! Dasar peri bodoh! Bangsa peri memang bodoh!" Teriak dwarfs lain.
"Pertanyaannya adalah...." seseorang muncul memasuki The Flass. Itu Ayah Leace. Yang Mulia Brutus Wilder, pemimpin bangsa peri. "....untuk apa kalian melewati tanah kami?" Kata Brutus dengan mata menyelidik.
"Kami hanya...... hmm..... kami hanya...." kata dwarf berkacamata.
"Hanya mengagumi keindahan tanahmu...." sela dwarf yang paling kurus.
"Baiklah.... baik. Kami mengaku.... kami sangat membutuhkan bantuan kalian." kata Chesp.
"Ini semua tentang Jean!" Kata kurcaci lain.
"Rupanya.... ramalan itu benar." Kata Brutus menghela napas.
***

Ramalan?
"Kau tau tentang ramalan itu, Leace?" Tanyaku penasaran, biasanya Leace paling tau segalanya.
"Yea, suatu hari wizard bernama Jean itu akan menghabisi kita satu persatu. Dan akan dilahirkanlah dua ksatria hebat yang mampu mengalahkannya, mereka istimewa." Jelas Leace.
"Kau tau itu siapa? Maksudku para ksatria itu? Apa mereka benar-benar nyata?" Tanyaku.
"Hei anak kecil! Mengapa kalian ada disini?" Teriak salah satu prajurit.
"Ayo!" Kataku pada Leace meningglakan The Flass. Kurasa sudah cukup melihat dwarfs secara langsung dan mendengar percakapan mereka. Tapi aku masih penasaran dengan ramalan itu. Leace terengah-engah.
"Kau lari cepat sekali. Dan Gwen, untuk pertanyaan tadi.... hanya itu yang kutau." Kata Leace.
"Uh..." kataku kecewa.
"Tapi, kita adalah ksatria hebat! Kau tau, nilai kita kan selalu paling tinggi. Walaupun kau selalu di urutan pertama dan aku kedua, tapi aku yakin kita adalah ksatria itu. Karna kita istimewa..." kata Leace tersenyum padaku. Ia memiliki senyum ibunya, matanya juga.
"Jangan bicara omong kosong itu padaku, Leace. Aku tidak istimewa. Aku akan kembali ke kamarku. Bye." Kataku.
"Baiklah, bye. Mimipikan aku, Gwen!" Kata Leace berlalu.
***

Kau tau. Aku tak mungkin langsung tidur dan melupakan apa yang barusan terjadi. Tentang alasan dwarfs itu, Jean dan ramalan membuatku ingin segera ke perpustakaan. Ada 2 perpustakaan di sini. Yang satu adalah dua lantai di atas The Flass dan yang lainnya adalah perpustakaan bawah tanah di bawah penjara. Aku meraih buku dan penaku di kamar untuk mencatat apapun yang akan aku ketahui.

Aku memutuskan ke perpustakaan bawah tanah.

Perpustakaan ini dijaga oleh Kakek Hopged, salah satu peri yang paling tua disini. Entahlah, aku lebih suka kesini. Ada hal yang kusuka di tempat ini untuk membaca walaupun aku harus melewati tahanan peri yang terkurung di penjaranya. Mungkin tentang ramalan itu pula, aku akan mendapatkannya disini.
"Psssssttt....." seseorang berusaha menarik perhatianku.
Ini sudah biasa ketika aku lewat sini. Biasanya yang melakukannya adalah Leace yang selalu muncul tiba-tiba atau Karen, wanita gila yang dihukum di penjara karna membunuh suaminya dan mencoba membunuh anaknya atau lebih tepatnya hampir membunuhku. Tapi kudengar ia sudah kabur 2 hari lalu, entah bagaimana caranya. Who cares. Jika dia mau menyusun rencana yang dulu gagal untuk membunuhku, aku sudah siap. Aku bukan anak 4 tahun lagi yang akan menangis bila melihat pisau dapur, aku anak 16 tahun yang sudah mahir memainkan pedang peri.

"Leace?" tanyaku melayangkan pandanganku sejauh yang kubisa dengan hanya bantuan cahaya remang-remang penjara.
"Hah? Siapa sialan Leace itu? Aku di sebelahmu." kini suara lelaki seumuranku terdengar dari telinga kananku sangat jelas.
Aku menoleh ke kerangkeng penjara di sebelah kananku. Sesosok yang lebih pendek 4 cm itu sedang memainkan batu hitam di genggamannya. Ia dwarf.
"Apa?" kataku sinis.
"Woah, tunggu. Apa ia terlihat ketakutan, Sam?" tanya suara yang kukenal, itu pasti Chesp dwarf berjanggut merah tadi.
"Apa kau tak takut pada kami? Peri-peri bodoh yang membuat fairytale tentang dwarfs yang kejam, kau ingat?" kata dwarf yang memakai kacamata, aku bisa melihat kilauan kacamatanya yang terpantul dari cahaya lampu disampingnya. Ia di seberang penjara dwarf yang memanggilku.
"Sayangnya, aku tidak percaya itu." kataku yakin.
"Kalau begitu kau bisa membantu kami. Kenalkan namaku Sam. Samuel Riordan. Kuharap kita tak berjabat tangan di penjara, tapi ini yang terjadi" katanya menjulurkan tangan dari sela-sela jeruji kayu dari Pohon Mqen itu.
"Siapa peduli." kataku berlalu.
"Sudah kubilang tak akan berguna. Jean takkan bisa dihentikan." gumam salah satu kurcaci.
"Tamatlah riwayat kita." gumam yang lain.
Bodoh. Kenapa aku tak menanyakan semua pertanyaan di kepalaku pada mereka. Kau bodoh, Gwen.

"Tunggu... apa yang kalian ketahui tentang Jean? Kalian pasti tau kan tentang ramalan itu?" tanyaku berbalik dan mulai menatap Sam. Mata birunya terlihat penuh harapan.



Wait for another part